WARUNG PRASOJO
Bergelut dengan Kuliner Lawas dan Mangut Belut

Jl. Kapten Haryadi No.51, Dayakan, Sardonoharjo, Ngaglik, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta
0815 7931 076

Lihat peta

Prasojo tidak hanya menawarkan satu, tapi dua mangut yang jarang ditemukan di Jogja: mangut belut dan mangut gabus.

Diperbarui tgl 6/25/2018

Lihat 7 foto Warung Prasojo

Waktu Buka Warung Prasojo
Selasa - Minggu pk 10.00 - 20.00 WIB

Harga (2018)
Rp8.000 - Rp20.000

Namanya Luki. Umurnya 41 tahun. Wajahnya putih dan tirus. Tubuhnya jangkung dan ramping. Saat kami sedang bercakap malam itu, ia mengenakan kaos hitam dan celana jeans. Di jarinya sebatang rokok terus membumbungkan asap. Percakapan kami tidak lain seputar Prasojo, usaha kuliner yang dirintisnya bersama rekannya Bagus empat tahun yang lalu.

Bermula dari coba-coba Bagus yang memang senang makan itu, lahirlah resep yang menjadi salah satu daya tarik Prasojo. Mangut, nama masakan yang tercatat di Serat Centhini sebagai makanan populer di wilayah Yogyakarta - Solo sejak dulu, biasanya menggunakan lele. Atau, bila lebih luas lagi cakupan wilayahnya, menggunakan beong seperti di Borobudur, manyung seperti di Semarang, dan Pari seperti di Pati-Jepara. Namun dari dapur Prasojo, keluarlah mangut belut, yang masih jarang dijual di tempat lain.

Seperti mangut lain, mangut belut Prasojo juga penuh rempah dan santan. Juga seperti mangut lain, ada rasa smokey di daging belutnya. Bedanya, mangut belut Prasojo lebih berlimpah kuah dibandingkan Mangut Lele Mbah Marto dan lebih kental dari Mangut Beong. Tekstur belut juga sedikit lebih kenyal dibandingkan lele maupun beong. Belut yang digunakan Prasojo adalah belut sawah, bukan belut ternak. Hal ini bisa diamati dari ukuran potongan belut di piring yang relatif kecil bila dibandingkan misalnya dengan ukuran belut di Sambal Welut Pak Sabar. Bagi lidah saya sendiri, belut sawah dibandingkan belut ternak seperti ayam kampung dibandingkan ayam broiler. Seperti saya lebih senang enaknya daging ayam kampung, saya juga lebih senang belut sawah.

Tidak sampai di situ, belakangan Mas Luki menambahkan mangut gabus ke dalam daftar menu Prasojo. Ikan gabus adalah ikan air tawar yang kaya albumin, sehingga banyak dianggap berkhasiat. Hanya saja, di wilayah Yogyakarta, menurut Mas Luki, ikan ini sulit ditemukan sehingga menu ini tidak selalu ada. Bila ada, harganya mahal atau sudah tidak segar lagi. Di dua kunjungan saya, misalnya, saya belum beruntung mencicipi mangut yang satu ini. Mas Luki harus mengandalkan suplai ikan gabus dari luar kota. Saking sulitnya mendapatkan suplai, bila sedang ada, Mas Luki akan menjatah mangut gabus sekitar delapan porsi sehari.

Baca juga: RM Legokan Ngancar - Lezatnya Mangut Gabus dari Tempuran Ngancar

Dengan menambahkan menu mangut belut dan gabus, Mas Luki sepertinya ingin terus mencoba berinovasi. Namun bukan berarti Luki tidak mengakomodasi pelanggannya yang tetap ingin menikmati mangut 'biasa'. Di Prasojo, mangut lele tetap ditawarkan dengan model kuah yang sama dengan mangut belutnya. Hanya saja, berbeda dengan Mbah Marto yang mengasapi sendiri lelenya, Mas Luki memesan lele yang sudah diasap terlebih dahulu oleh penyuplai. "Terlalu berat, Mas." Lele asap pesanan inilah yang datang ke dapur Prasojo lalu berendam berulangkali di dalam kuah santan sebelum akhirnya menyerahkan diri pada pelanggan yang sudah basah bibirnya.

Kemudian masih ada menu-menu lain. Misalnya, ada iwak kali atau wader goreng, yang terdiri dari beberapa jenis anakan ikan. Menu yang satu ini benar-benar pas di lidah saya. Inilah wader goreng paling enak yang pernah saya cicipi selama di Yogyakarta. Di tempat lain, wader goreng biasanya terlalu garing sehingga saat dikunyah hanya terasa satu tekstur saja. Atau di kali lain, terlalu banyak tepung yang digunakan sehingga rasa tepunglah yang mendominasi. Namun di Prasojo, selain renyah, tetap ada tekstur liat daging ikan. Selain itu, komposisi tepungnya pas, sehingga bukannya merusak, tepung malah menambah enak rasa wadernya. Contoh lain adalah olahan belut selain mangut, yaitu sambal belut dan belut lombok ijo.

Seperti sudah bisa disimpulkan pada titik ini, menu-menu Prasojo adalah menu-menu tradisional. Lalu bagaimana dengan kenampakannya, dalam hal ini Prasojo II yang saya kunjungi? Sesuai. Prasojo menawarkan konsep rumah joglo yang terbuka di bagian depan. Pagar bambu, atap genteng, lantai semen, natang jadul, lincak dan meja memperkuat kesan jadul jadul. Sementara itu, visual signage di dinding yang dipesan khusus Luki pada maestro pelukis sepatbor becak Mbah Tjipto Setiyono, juga memperkuat kesan yang sama. Akhirnya, tentu saja benda-benda seperti teko lurik, cangkir seng, toples, dan piring terakota melengkapi semua yang sudah saya sebutkan. Menyantap makanan di Prasojo dengan suasana yang sesuai membuat saya sempat membayangkan masyarakat Mataram zaman dulu sedang makan malam.

Dulunya Mas Luki, yang mengaku menyenangi karya-karya pengarang fiksi populer luar negeri seperti John Grisham dan Enid Blyton, bekerja di biro perjalanan wisata. Pada tahun 2014, ia beralih ke usaha kuliner agar tidak ketinggalan arus zaman. "Banting stir," ungkapnya sedikit tertawa dengan metafora berbeda. Tapi kenapa makanan lawas? Barangkali faktor peluang pasar: bisa jadi ia cermat menangkap bahwa manusia salah satunya terdiri dari rindu, termasuk rindu makanan lawas. Namun, bisa juga untuk sesuatu yang lebih mulia, sepertinya yang diklaim Mas Luki saat membandingkan Prasojo dengan para bajingan dari Paguyuban Gerobak Sapi Manunggal Lestari yang tetap teguh mempertahankan tradisi.

Setelah membuka cabang Prasojo yang pertama tahun 2016, Mas Luki akan membuka cabang kedua tidak lama lagi. Ada cukup alasan untuk menebak dia akan cukup betah menggeluti usaha pasugatan gagrak lawasan ini.

Cara menuju ke sana:
Jl. Panembahan Senopati - Jl. Mayor Suryotomo - Jl. Mas Suharto Jambu - Jl. Tukangan - Jl. Yos Sudarso - Jl. Suroto - Jl. Cik Di Tiro - Jl. Terban - Jl. Persatuan - Jl. Kaliurang - Jl. Kapten Hariyadi