WARUNG IJO BACIRO
Warung Sederhana dengan Sajian Kelezatan Cita Rasa Khas Jawa


Lihat peta
Jl. Argolubang No. 10 Baciro, Yogyakarta, Indonesia

Tak jauh dari stasiun kereta api tertua di Jogja, di lahan parkir Lotek Teteg, puluhan menu masakan khas Jawa dapat dengan mudah ditemukan di sebuah warung sederhana. Mencicipinya, terasa lebih istimewa daripada mencoba masakan resto ternama.

Diperbarui tgl 10/9/2015

Lihat foto lainnya (7 foto)

Buka setiap hari Senin - Jum'at
Pk 06.30 - habis

Warna hijau yang mendominasi dinding-dinding bangunan tempat makan sederhana ini menjadi satu-satunya petunjuk bagi YogYES untuk menemukannya. Letaknya yang menjorok agak jauh dari jalanan serta terhalang mobil-mobil yang terparkir di halaman depannya membuat YogYES sedikit kebingungan untuk menemukan warung yang dinamai sesuai dekorasinya ini. Terlebih tak ada papan pengenal atau petunjuk bertuliskan 'Warung Ijo' yang bisa dijadikan sebagai pengenal. Ketika YogYES memasuki warung yang tak terlalu besar ini, terlihat seorang wanita membawa panci blirik berukuran sedang dengan asap yang tampak mengepul di atasnya, kemudian meletakkannya dalam etalase bersama deretan piring, mangkuk serta panci-panci lain yang berisi aneka menu makanan. Melihat kami datang, wanita yang biasa di panggil Mbak Siti itu pun tersenyum dan mempersilahkan kami memilih serta mengambil sendiri menu makanan yang ingin disantap.

Seketika mata saya pun bergerilya, kebingungan dengan banyaknya sayur serta lauk yang merupakan kuliner khas Jawa, berderet di etalase kaca. Tak tanggung-tanggung beragam masakan seperti brongkos, mangut, trancam, telur bacem, lodeh, oseng tempe lombok ijo serta masih banyak lainnya, tersaji di sebuah warung makan sederhana. Meskipun menu buntil daun pepaya yang menjadi salah satu menu andalan di warung ini tak tampak ada di deretan menu sajian di etalase. Menurut penuturan Mbak Siti, biasanya ada sekitar 30 macam menu pilihan yang disajikan, termasuk buntil. Namun karena kami datang ketika menjelang jam makan siang, sebagian sayur dan lauk pun sudah habis. Jika ingin mendapati pilihan lauk dan sayur yang masih lengkap harus datang sekitar pukul 7 pagi, ketika warung baru saja dibuka. Selain banyak pilihan sayur dan lauk. Tersedia pula dua pilihan nasi di warung ini, nasi putih dan nasi merah.

Usai memindahkan nasi beserta brongkos, trancam dan sate ati ampela ke piring, saya pun langsung menuju meja terdekat yang saat itu kosong. Sebenarnya ada satu spot unik di warung prasmanan yang tak jauh dari Stasiun Lempuyangan ini. Namun sayangnya kursi yang berada di dekat pintu dengan suguhan pemandangan lalu-lalang kereta api yang datang dan pergi dari stasiun kereta api tertua di Jogja itu sudah ditempati orang.

Tak sabar ingin meredakan suara perut yang sedari tadi protes minta diisi, nasi merah pulen dan brongkos pun menjadi suapan pertama saya. Brongkos adalah makanan khas Jogja yang sekilas mirip rawon atau sayur pindang, berisi campuran tahu yang dipotong dadu, kulit mlinjo, kacang tolo dan dibumbu keluak. Alih-alih dominan dengan rasa manis seperti brongkos pada umumnya, brongkos racikan Mbak Siti ini terasa gurih dan manis yang pas, tak berlebihan. Perpaduan gurih dan manis yang serupa juga terasa ketika saya mencoba lezatnya sate ati ampela yang dimasak dengan bumbu Klaten. Ditambah trancam segar yang merupakan campuran daun kenikir, kubis, kecambah, potongan kacang panjang dan bumbu kelapa muda serta wedang asam segar sebagai minuman penutup, membuat saya seketika ingin kembali ke Warung Ijo Baciro di lain waktu untuk mencoba menu-menu lezat lainnya.

Pilihan menu makanan di Warung Ijo Baciro ini memang sudah cukup lama dikenal lezat di kalangan pelanggannya, bahkan sejak ia berdiri sekitar 50 tahun silam. Jauh sebelum kuliner khas nusantara termasuk makanan khas Jawa menjadi pilihan sajian resto-resto mahal. Tak heran jika belum sampai tengah hari, lauk dan sayur masakan Mbak Siti ini sudah nyaris habis. Karena tak hanya rasanya yang mengingatkan saya pada kelezatan masakan ibu di rumah, harganya pun juga ramah di kantong. Hingga membuatnya terasa lebih istimewa daripada masakan resto-resto ternama. Namun sayang, kelezatan menu-menu masakan rumahan khas Jawa yang resepnya diwarisi Mbak Siti dari ibunya ini tak bisa dinikmati setiap hari. Pasalnya warung ini hanya buka hari Senin hingga Jum'at. "Kalau Sabtu-Minggu yang jualan mau ke spa dulu, mbak." kata Mbak Siti dengan nada bercanda sambil menyerahkan uang kembalian.

Cara menuju ke sana:
dari Stasiun Lempuyangan ke arah timur - melewati bawah flyover Dr. Sutomo lurus ke Jl. Argolubang - belok kiri ke halaman parkir Loteg Teteg - Warung Ijo Baciro (depan pom bensin/di sebelah Lotek Teteg)

Ulasan dari Wisatawan

Anda juga dapat menulis ulasan tentang Warung Ijo Baciro berdasarkan pengalaman pribadi. Ulasan Anda bisa menyelamatkan liburan wisatawan lainnya dan mungkin memenangkan sebuah t-shirt eksklusif yang YogYes berikan setiap bulan. Isi ulasan sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.