KEDAI KOPI MENOREH PAK ROHMAT
Robusta Aroma Moka Ala Perbukitan Kapur Jogjakarta

Madigondo, Sidoharjo, Samigaluh, Yogyakarta, Indonesia
0878 4319 6105

Lihat peta

Sebagai minuman sejuta umat, kopi selalu mampu menciptakan berbagai emosi bagi para pecandu kafein. Di Kedai Kopi Menoreh Pak Rohmat, kita bisa menikmati kopi tradisional ala Perbukitan Menoreh dan suasana ala pedesaan yang sulit untuk dilupakan.

Diperbarui tgl 12/28/2015

Lihat foto lainnya (7 foto)

Buka setiap hari

Hujan gerimis turun dengan deras di sore hari itu, membasahi jalan menanjak yang menembus Perbukitan Karst Menoreh yang YogYES lewati. Seberkas kabut tipis terbentuk di antara tebing dan jurang curam di kedua sisi jalan, tersembunyi di balik semburat hijau dedaunan yang baru bangun dari kemarau panjang. Pemandangan yang syahdu ini pun mengobati rasa lelah kami setelah menapaki jalur curam yang cukup menantang, namun memberi rasa kepuasan tersendiri begitu kami berhasil melampauinya. Setelah beberapa menit, kami pun sampai di tujuan. Sebuah rumah sederhana di pinggir jurang dangkal antara dua bukit karst nan curam. Inilah Kedai Kopi Menoreh Pak Rohmat, sebuah warung kopi mblusuk yang mulai terkenal di kalangan pecandu kafein Yogyakarta.

"Monggo, Mas, helmnya diletakan di dalam saja," ujar Pak Rohmat, seorang pria paruh baya yang menyambut kami di halaman depan rumah tersebut. Senyumnya dan gestur tubuhnya begitu ramah, menggambarkan kehangatan khas masyarakat pedesaan.

Kami mengikuti langkah kaki Pak Rohmat menuju bagian belakang rumahnya yang tidak terlalu besar. Tanpa disangka, mata kami justru disambut dengan pemandangan taman rahasia yang asri, tersembunyi dari jalan utama yang menuju ke atas bukit. Sebuah gazebo sederhana terlihat di pojok taman tersebut, dibentuk dari material bambu dan ijuk yang terlihat cantik. Barisan meja dan kursi kayu tersusun rapi di dalamnya, membawa kesan hangat terkena sinar lampu pijar yang ada di atasnya. Kami pun memutuskan duduk di salah satu meja besar yang ada di dalam gubuk tersebut, sambil berusaha menghangatkan badan setelah terkena hujan sepanjang jalan.

Sambil menunggu kopi yang kami pesan, kami memutuskan untuk menikmati suasana sejuk ala pedesaan di kedai ini. Gazebo yang kami tempati ternyata menghadap ke sebuah lembah yang tidak terlalu dalam, dipenuhi oleh tanaman hijau serta tertutup kabut tipis. Sebuah sungai kecil terlihat samar di dasar lembah, tersembunyi di antara pepohonan rindang yang menghalangi pandangan. Udara di kedai terasa segar ketika angin berhembus, bercampur dengan secercah aroma khas daun kopi dari kebun di sekitar kedai. Suara hujan rintik-rintik terus terdengar seakan tak mau berhenti, bercampur dengan nyanyian sendu para jangkrik dan seekor burung hantu yang entah di mana wujudnya berada. Orkestra alam ini semakin ramai selepas magrib berlalu, ketika kami melihat beberapa ekor kunang-kunang yang tiba-tiba muncul dan berterbangan dari semak-semak. Sungguh sebuah suasana eksotik yang jarang kita temui di tengah kota, membawa kami tenggelam dalam imajinasi masing-masing.

Lamunan kami tiba-tiba buyar ketika Pak Rohmat kembali datang, kali ini dengan 3 nampan besar berisi penan yang sudah kami tunggu-tunggu. Di atas nampan tersebut, tersaji berbagai macam camilan berupa kacang rebus, singkong rebus, tahu isi, serta geblek yang merupakan makanan khas Kulon Progo. Selain itu, ada juga beberapa gelas kecil berisi gula aren padat, gula pasir, gula aren cair, dan tentunya kopi hitam pekat dengan aromanya yang khas. Seluruh makanan ini disajikan secara cantik di atas nampan kayu, menggoda kita untuk mengabadikannya dengan kamera. Namun, saya justru kebingungan; perasaan kami hanya memesan kopi, kenapa tiba-tiba disajikan makanan sebanyak ini?

"Ini satu paket, Mas, setiap pesan kopi memang sudah termasuk makanan ringan ini," kata Pak Rohmat begitu saya menanyakan hal tersebut.

Kami memesan 2 jenis kopi yaitu arabika dan robusta, keduanya berasal dari kebun Pak Rohmat yang ada di sekitar kedai ini. Menurut Pak Rohmat, beliau tidak memiliki alat brewing yang bermacam-macam seperti di cafe. Kopi di kedai ini hanya diseduh dengan cara direbus bersama air panas, atau yang lebih terkenal dengan nama turkish brew. Konon rasa kopi yang dihasilkan dari metode ini cenderung lebih kuat dan dengan body yang lebih mantap. Pak Rohmat pun bercerita bahwa metode ini paling sering digunakan oleh warga setempat dan diajarkan dari generasi ke generasi. Beliau mengaku tidak ingin membeli alat lain untuk menjaga kesan "sederhana" yang dimiliki kedai tersebut.

Sambil berbincang-bincang dengan pak Rohmat, saya pun mencuri kesempatan untuk mencoba kedua jenis kopi yang sudah disajikan. Baik kopi arabika dan robusta mengeluarkan aroma samar yang tidak terlalu kuat. Kopinya sendiri terlihat agak pekat dengan crema (busa) yang cukup banyak, menandakan kesegaran biji kopi yang tidak terlalu lama disimpan. Begitu dicecap, kopi arabika memberikan rasa yang lembut dan sedikit watery, namun tidak terasa kesan masam yang biasa ditemui pada kopi jenis ini. Pak Rohmat pun mengaku kalau kopi arabika di kebunnya memang kurang baik, kemungkinan besar akibat ketinggiannya yang terlalu rendah dan kurang efektif untuk pertumbuhan pohon Coffea arabica.

"Tapi kalau robusta lebih oke, Mas. Kebanyakan pohon di kebun saya memang berasal dari jenis robusta," kata Pak Rohmat sambil menyodorkan secangkir kopi lain di hadapan kami.

Klaim Pak Rohmat ternyata tidak bohong, terbukti dari rasa yang lebih mantap ketika kami mencicipi seduhan Coffea robusta yang disajikan. Rasanya lebih kental dengan sedikit citarasa pahit yang tidak terlalu menyengat. Jika cukup jeli, kita juga bisa merasakan seberkas aroma coklat pada kopi tersebut, sehingga rasanya mirip moka. Jangan salah, tidak ada satupun bubuk coklat yang dicampurkan di seduhan kopi ini; rasa moka tersebut justru muncul sebagai bagian dari karakter biji itu sendiri. Hal ini membuat kopi robusta Pak Rohmat terasa pas di lidah penikmat kopi pemula, apalagi jika dinikmati bersama geblek yang dicocol ke gula aren cair yang sudah tersedia di atas nampan.

Sambil menyeruput kopi dan menikmati kacang rebus, kami mendengarkan cerita Pak Rohmat tentang kedai kopinya yang mulai populer ini. Menurut Pak Rohmat, pengalaman berjualan kopi beliau rintis sejak tahun 2010, ketika masih menjadi kuli bangunan. Biji kopi yang beliau olah sendiri ditawarkan ke rekan-rekan sesama kuli, dan ternyata banyak yang suka. Dari sini, beliau pun mendapatkan berbagai koneksi yang akhirnya membuat kopi buatannya semakin terkenal, bahkan hingga dipesan berbagai kafe dan hotel di Yogyakarta. Kedainya sendiri ternyata baru berumur sekitar satu tahun, dibuat berdasarkan saran dari koleganya yang melihat potensi wisata cukup besar di wilayah tersebut.

"Mulai saat itu banyak yang datang, Mas, mulai dari tamu biasa, peserta touring moge, wisatawan asing, dan lain-lain. Kadang bisa sampai ratusan orang."

Pak Rohmat pun bercerita bahwa kopi yang ia buat tidak dihasilkan secara asal, namun masih berkaidah pada metode tradisional dari nenek moyang. Jika kebanyakan petani lain langsung memproses seluruh kopi yang sudah masak, Pak Rohmat hanya memproses buah kopi dengan kualitas baik dan tidak rusak. Biji dipisahkan dari buah dan diproses menjadi green bean dengan cara wet hulling, metode tradisional yang sering digunakan banyak petani di Indonesia. Green bean yang sudah jadi kemudian disangrai dengan menggunakan alat tradisional, hanya menggunakan wajan tanah liat dan tungku sederhana. Biji yang sudah disangrai pun siap untuk digiling dan diproses menjadi secangkir kopi yang siap untuk dinikmati.

Setelah puas menikmati kopi, kita bisa berkeliling kebun kopi Pak Rohmat sambil menikmati pemandangan yang indah. Selain itu, kita juga bisa berkunjung ke sebuah air terjun yang ada di dasar lembah dan merasakan segarnya air pedesaan. Bagi yang ingin tahu lebih banyak soal kopi, Pak Rohmat bersedia untuk mengantarkan pengunjung yang datang dan bercerita tentang pemrosesan kopi di kebunnya. Pengunjung pun bisa ikut serta dalam proses tersebut, mulai dari penanaman pohon, pemetikan dan pemrosesan biji, sampai menyeduh kopi sendiri. Sayangnya, hujan yang tidak kunjung berhenti membuat kami tidak bisa berkeliling seluruh kawasan Kebun Kopi Menoreh di sekitar rumah Pak Rohmat.

Selain kopi yang sudah jadi, Kedai Kopi Pak Rohmat juga menyediakan makanan berat dengan menu ndeso khas masyarakat Menoreh, seperti rica-rica menthok, ayam kukus, dan lain-lain. Ada juga beberapa bungkus kopi bubuk dan roasted bean yang bisa kita bawa pulang. Sayangnya, kopi yang sudah dibungkus ini tidak selalu tersedia setiap saat karena Pak Rohmat membatasi stok kopi yang sudah disangrai. Hal ini dilakukan guna menjaga kesegaran dan kualitas kopi yang beliau proses, sehingga pelanggan pun tidak kecewa ketika mencicipinya di rumah.

"Kalau mau beli dalam jumlah banyak lebih baik pesan dulu, minimal satu hari. Apalagi kalau mau beli arabika, stoknya terbatas," ujar Pak Rohmat.

Obrolan kami sore hari itu berlangsung begitu seru hingga langit menggelap. Tanpa terasa, jarum jam pun sudah menunjuk ke angka delapan, sehingga kami memutuskan untuk pamit dan kembali ke kota Jogja. Kami pun kembali menapaki jalanan curam yang menuruni Perbukitan Menoreh, sambil membawa pengetahuan baru tentang dunia kopi di Indonesia beserta sebungkus kopi bubuk yang siap untuk dinikmati di rumah.

Cara menuju ke sana:
dari Kota Tugu Jogja - Jl Godean - Perempatan Ringroad lurus - Lampu merah setelah Jembatan Progo belok kanan - Lampu merah pertama lurus - Pertigaan Boro belok kiri - Ikuti petunjuk menuju Kedai Kopi Menoreh Pak Rohmat