BAKMI MBAH MO
Pengunjung Mengular Karena Getok Tular

Desa Code, Trirenggo, Bantul, Yogyakarta, Indonesia
0815 4855 7743

Lihat peta

Strategi pemasaran Bakmi Mbah Mo hanya getok tular, agak tak selaras dengan era kecanggihan komunikasi saat ini. Namun, strategi ini terbukti telah mengundang jajaran pejabat tinggi dan mantan presiden untuk menikmati menu di warung ini.

Diperbarui tgl 6/12/2018

Lihat foto lainnya (9 foto)

Waktu Buka Bakmi Mbah Mo
Setiap hari pk 17.00 - 23.00 WIB

Harga Makanan (2018)
Rp21.000 - Rp27.000

Harga Minuman (2018)
Rp5.000

Bakmi Mbah Mo sudah didirikan sejak tahun 1986, sebuah warung kuliner desa di kampung Code, Trirenggo, Bantul. Kira-kira 11 kilometer dari pusat Kota Yogyakarta. Warung ini sampai sekarang masih mempertahankan kesederhanaannya dengan prasarana berupa kursi lincak, meja kayu panjang, dinding dari anyaman bambu, dan tungku arang atau anglo untuk memasak.

Laki-laki yang kerap dipanggil Mbah Mo merupakan generasi pertama pemilik warung. Ia menjajal usaha kuliner bakmi Jawa saat belum memiliki pekerjaan lagi setelah mengalami Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dari tempat kerja sebelumnya. Belum terlalu ramai pengunjung di kala itu, hingga menantu laki-lakinya bernama Murlidi (67 tahun) mencoba memasarkan bakmi Jawa secara getok tular. Bagi Murlidi, membawa pengunjung untuk diajak makan di warung bakmi Jawa milik ayah mertuanya adalah hal yang mudah. Hal ini lantaran keseharian Murlidi yang menjadi supir di kantor Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) sering diminta kliennya untuk diantar ke tempat makan khas Bantul. Ia pun mengantarkannya ke warung ayah mertuanya. Awalnya Murlidi menutup-nutupi pada kliennya bila warung itu milik ayah mertuanya. Namun, sepintar-pintarnya durian ditutupi, baunya tetap tercium juga. Suatu hari, saat sedang membantu memasak bakmi, Murlidi ketahuan bila ada hubungan dengan pemilik warung.

Bukannya dicela klien-kliennya karena sudah berbohong, usaha ayah mertua Murlidi malah semakin dipromosikan para kliennya. Warung itu kian laris hanya karena berita dari mulut ke mulut. Memang rezeki tidak akan ke mana. Namun, butuh waktu yang panjang untuk mencapai titik di mana warung bakmi di tengah desa bisa dikenal banyak orang di berbagai penjuru nusantara. Kira-kira pada tahun 1990, warung ini sudah mulai berkembang baik.

Sepeninggal Mbah Mo pada tahun 2000, usaha bakmi Jawa dilanjutkan oleh Murlidi dan sang istri. Murlidi yang bertugas memasarkannya, sedangkan istrinya yang memasak bakminya. Lalu, bagaimana untuk rasa bakminya? Jika tidak enak, mana mungkin warung ini dipenuhi jajaran konsumen selevel pejabat tinggi, bahkan pernah juga bakminya disantap oleh mantan Presiden Soeharto. Bahan mi Jawa yang digunakan adalah mi telur berbentuk bulat dengan diameter lebih besar dari mi instan. Bahan tambahannya berupa suwiran daging ayam kampung, kol, daun bawang, daun seledri, dan taburan bawang merah goreng. Dari dulu sampai sekarang, warung ini masih mempertahankan rasa yang sama dengan bumbu sederhana.

"Bumbunya biasa saja, hanya bawang (putih dan merah) dan kemiri," ungkap Mujiyah (59 tahun), istri Murlidi saat tim YogYes bertandang ke warung Bakmi Jawa Mbah Mo, "Semuanya sudah dihaluskan, jadi kalau masak tinggal dimasukkan."

Rasa bakmi Mbah Mo ini memang asin-gurih berasal dari rempah-rempah bawang merah, bawang putih, dan kemiri. Lalu gurihnya lebih nendang lagi berkat adanya orak-arik telur bebek. Bakmi goreng di warung ini terlihat kesat, tidak terlalu berminyak dan tetap berwarna kuning, karena saat proses memasak hanya menggunakan sedikit minyak goreng dan tidak menggunakan kecap.

Bakmi godhog-nya memiliki kuah sangat kental berwarna kekuningan. Sekilas terlihat creamy seperti menggunakan santan. Namun, kekentalan kuah ini merupakan perpaduan rempah-rempah, kuah kaldu, dan telur bebek. Tingkat kekentalan kuah yang dicampur dengan telur bebek tentunya akan berbeda dengan yang hanya dicampur dengan telur ayam. Dikarenakan memasak bakmi di warung ini tidak menggunakan kecap dan tidak bisa meminta dengan rasa pedas, di setiap meja telah disediakan semangkuk kecil kecap dilengkapi dengan potongan cabai atau biasa disebut sambal kecap. Pengunjung dapat mengatur manis dan pedasnya dengan menambahkan sambal kecapnya. Selain itu, juga tersedia toples berisi acar mentimun dan semangkuk cabai rawit hijau sebagai pelengkap.

Warung Bakmi Jawa Mbah Mo hanya menyediakan menu bakmi saja. Tidak seperti warung bakmi lain yang menyediakan menu seperti nasi goreng, magelangan, atau sego godhog. Hanya ada 3 menu bakmi Jawa yang tersedia, yaitu bakmi goreng, bakmi godhog, dan bakmi nyemek.

"Bakmi nyemek itu yang kuahnya hanya sedikit," ujar Mujiyah. Kesannya terlihat nyemek atau becek. Menu bakmi bisa juga diberi tambahan paha atau hati ayam kampung.

Pilihan minumannya cukup bervariasi, tetapi tak ada menu minuman dingin/es, yakni teh panas, teh jahe, jeruk panas, jeruh jahe, kopi, kopi jahe, wedang jahe, dan wedang uwuh. Minuman ini terasa lebih istimewa karena menggunakan gula batu.

Lokasi warung Bakmi Mbah Mo cukup nyaman dengan suasana kental pedesaan. Tidak terlalu ramai dan riuh lalu lintas karena cukup jauh dari jalan raya. Bila akan berkunjung ke warung Bakmi Mbah Mo jangan datang terlalu malam agar tidak menghadapi antrean yang terlalu panjang.

"Nggih, monggo nderekaken. Besok kalau ke sini lagi temannya diajak ya," begitulah kalimat yang kerap Murlidi dan Mujiyah katakan saat pengunjung berpamitan hendak pulang. Kesan ramah selalu mereka bangun agar pengunjungnya tidak kapok datang dan tidak lupa mengajak orang baru untuk menikmati bakmi Jawa jika kembali ke warung itu.

Cara menuju ke sana:
Dari Titik Nol Kilometer Yogyakarta ke barat - Jl. KH. Ahmad Dahlan - Jl. Suryowijayan - Jl. Bantul - Jl. Pramuka - Pertigaan belok kiri masuk ke Dusun Code - Pertigaan belok kiri - Bakmi Mbah Mo