PAWON LUWAK COFFEE
Mencicipi Salah Satu Kopi Paling Mahal di Dunia

Jl. Balaputradewa No. 16, Wanurejo, Borobudur, Wanurejo, Borobudur, Magelang, Jawa Tengah 56553
Lihat peta

Di kedai kopi ini, kita bisa mencicipi salah satu kopi paling mahal di dunia ini sambil belajar proses produksinya dan melihat langsung luwak yang lucu-lucu.

Diperbarui tgl 7/9/2018

Lihat foto lainnya (13 foto)

Waktu Buka Pawon Luwak Coffee
Setiap hari pukul 07.00 - 17.30 WIB

Harga Pawon Luwak Coffee (2018)
1 Sloki luwak Arabika / Robusta - Rp25.000
100 gr Luwak Arabika - Rp400.000
100 gr Luwak Robusta - Rp250.000

Hal pertama yang menyambut diriku sesaat setelah memarkir motor di depan Pawon Luwak Coffee adalah biji kopi dan tinja. Yang kedua ini seketika menarik semua perhatianku. Bak mengkudu dari jauh, tapi cokelat, kering, dan keras, puluhan potong tinja berjemur di atas nyiru berjejer di bawah langit biru. Diriku mendekat, mengamati, sesekali mencium. Tak berbau.

Setelah tinja, seorang gadis yang tidak berkerudung merah, tetapi berambut sebahu keluar dari dalam dan lanjut menyambut. Ia menyapa, memperkenalkan dirinya, dan tanpa diminta mulai menjelaskan apa gerangan yang berjemur di depan itu. Tentu saja, diriku tidak butuh gadis berambut sebahu untuk menjelaskan bahwa tuan-tuan tinja keluar dari dubur luwak-luwak lucu; tapi diriku ingin tahu lebih jauh. Misalnya, bagaimana proses pengolahan tinjanya, dari mana luwaknya berasal, dan apa istimewa kopi tinja tersebut.

Dengan kemampuan beramah tamah mumpuni, si gadis mulai menjelaskan. Tinja di atas nyiru di depanku adalah proses pertama pembuatan kopi luwak, salah satu kopi termahal di dunia asli dari Indonesia (belakangan Malaysia ikut memproduksi juga). Dalam proses ini, tinja kering kiriman bulanan petani kopi di kaki Gunung Sumbing diangin-anginkan selama 1- 2 hari. Lalu tinja dicuci sehingga tersisa biji kopi saja yang kemudian dijemur di terik matahari selama 2 - 3 hari. Setelah kering, biji kopi ditumbuk untuk menghilangkan kulit bagian luarnya. Dijemur lagi 3 - 5 hari, kemudian disangrai dan akhirnya digiling untuk siap diseduh.

Lebih lanjut si gadis yang sering berganti kode (Inggris - Indonesia) menjelaskan bahwa kopi yang disajikan di kedai yang persis berada di pelataran Candi Pawon ini berasal dari luwak liar, bukan luwak kandangan. "Kalau pakai luwak yang di kandang kan kita forsir animal-nya, kasian animal-nya." Animal-animal tersebut, katanya, hanya untuk memperlihatkan seperti apa binatang yang menjadi sumber kopi luwak. Diriku mengangguk-angguk saja, meskipun sebenarnya sedikit menyimpan ragu. Sedikit, karena setelah mengecek sendiri ada tidak sisa-sisa kotoran tercecer, diriku tidak menemukan apa-apa. Namun ragu tetap ada: di halaman belakang kedai yang terdiri dari empat bagian ini (beranda depan, dalam ruangan, halaman belakang, guesthouse), terdapat enam ekor luwak yang ke semuanya, kecuali satu, diletakkan di dalam kandang. Perlukah mengurung sampai lima ekor luwak, di kandang berbeda, untuk sarana edukasi semata? Diriku masih tersangkut di pertanyaan ini.

Melangkah dari pertanyaan tadi, diriku kembali mendengarkan si gadis menjelaskan keistimewaan kopi luwak dibandingkan dengan kopi biasa. Ada dua, katanya. Pertama, kopi luwak adalah kopi hasil pilihan alami hewan bernama ilmiah Paradoxurus hermaphroditus, yang hanya memakan kopi dalam kondisi primanya. Dari mulut luwak sampai di cangkir, oleh karena itu, tidak ada campur-campur kopi matang dan kopi muda. Kedua, proses fermentasi di dalam lambung luwak membuat kadar keasaman dan kafein biji kopi menjadi rendah, sehingga kopi menjadi aman bagi lambung. (Ini sebabnya satu merek kopi instan mengangkat nama luwak). Mendengar si gadis, diriku meng-oh dan meng-hmm.

Setelah kultum tentang tinja, luwak, dan kedai kopi itu, si gadis akhirnya menawarkan diriku mencicipi satu sloki kopi luwak dengan harga yang cukup terjangkau. Tidak ada nada paksaan di suaranya. Sementara diriku sedikit terkejut mendengar harganya yang jauh di bawah ekspektasi. Diriku yang memang penasaran sejak awal langsung mengiyakan. "Mau yang robusta atau arabika?" tanya si gadis. Diriku memilih arabika yang tidak sepahit robusta. Setelah mendapat pesananku, si gadis pergi meninggalkanku di rindangnya halaman belakang.

Sebenarnya ada banyak tempat pilihan tempat duduk di kedai model rumah joglo Pawon Luwak Coffee. Ada kursi meja di beranda depan, ada kursi meja untuk beramai-ramai di bagian dalam, dan ada pendopo nuansa bali-jawa di halaman belakang. Diriku mengambil duduk di halaman belakang karena selain senang dengan suasana rindang dan tradisional, luwak-luwak di sana begitu mengundang untuk dielus-elus.

Seperti yang sudah kusebutkan di atas, ada enam ekor luwak di kedai kopi yang didirikan tahun 2013 milik Prana Aji ini. Lima di antaranya dinamai dengan nama-nama seperti Ijem dan Mina. Selain itu, hampir semua sudah jinak dan aman untuk diajak berinteraksi. (Coba saja cari di Youtube "Pawon Luwak Coffee" untuk melihat interaksi seekor luwak dan seorang turis asing). Namun malang bagi diriku, saat berharap mendapatkan interaksi yang sama, luwak-luwak lucu tetapi agak pesing sedang tidur semua. Diriku datang di waktu yang salah sepertinya; kemungkinan besar mereka yang memang nokturnal baru saja tertidur.

Lalu si gadis datang membawa arabika pesananku. Kutinggalkan luwak-luwak sedikit kecewa dan duduk mencicipi kopi sambil menikmati makanan kecil gratis yang disediakan di meja. Sambil diriku sibuk mengunyah, ada baiknya di sini kuceritakan bagaimana awalnya sampai Homo sapiens abad 21 tidak hanya mau mengkonsumsi olahan dari tinja spesies lain, tetapi juga menganggapnya sebuah kemewahan. Awalnya ada pada masa penjajahan Belanda di Indonesia. Belanda yang pada waktu itu menjadikan Indonesia sebagai sumber hasil bumi memaksa petani menanam kopi arabika Yaman (kopi termahal kala itu) di Sumatera dan Jawa dan melarang mereka mengkonsumsi hasil panen mereka sendiri. Amat penasaran tetapi takut, para petani ini menemukan jalan keluar bagi rasa penasaran mereka di biji-bijian kopi yang berserakan di lantai hutan. Tidak masalah bagi mereka biji-bijian yang dimaksud sebenarnya adalah tinja luwak. Toh, rasa penasaran mereka akhirnya terbayarkan juga. Di titik ini, kopiku sudah habis, juga setengah toples keripik singkong dan pisang yang disediakan gratis di meja.

Melihat sejarahnya, bukankah sangat menarik bahwa tanpa diduga siapa pun, dari rasa penasaran, ketakutan, ditambah kejeniusan petani mengolah tinja, kopi luwak sekarang masuk dalam daftar kopi-kopi termahal di dunia sementara kopi arabika Yaman tidak sama sekali? Dan kopi ini bisa kita cicipi di Pawon Luwak Coffee dengan harga murah.

Cara menuju ke sana:
0 KM Yogyakarta - Jl. KH. Ahmad Dahlan - Jl. Bhayangkara - Jl. Jogonegaran - Jl. Kemetiran Kidul - Jl. Letjen Suprapto - Jl. Tentara Rakyat Mataram - Jl. Tentara Pelajar - Jl. Magelang - Jl. Mayor Kusen - Jl. Balaputradewa