TEBING BREKSI
Dulu Ditambang Kapurnya, Sekarang Ditambang Pesonanya

Jl. Candi Ijo, Gn. Ciuk, Sambirejo, Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55572
Lihat peta

Kehilangan fungsi sebagai tempat menambang batuan kapur, membuat kawasan Tebing Breksi di Sambirejo, Prambanan, malah ramai didatangi pengunjung segala umur. Siapa sangka, tempat yang dulunya tak banyak dilirik, sekarang menjadi tempat wisata unik.

Diperbarui tgl 9/9/2018

Lihat 8 foto Tebing Breksi

Tiket Masuk Taman Tebing Breksi 2018
Sukarela

Jam Buka Taman Tebing Breksi
Setiap hari pukul 10.00 - 18.00 WIB

Pada mulanya adalah abu. Berkubik-kubik abu dilontarkan Gunung Api Nglanggeran dalam erupsinya berpuluh-puluh juta tahun yang lalu. Waktu dan cuaca lalu bekerja, mengendapkan abu menjadi lumpur yang lalu mengeras menjadi batuan. Begitulah kira-kira terjadinya batuan kapur besar dari beragam material di Desa Sambirejo, Prambanan.

Bertahun-tahun kawasan ini menjadi pundi-pundi ekonomi bagi warga sekitar yang melakukan penambangan batuan kapur. Kikis demi kikis tubuh batu kapur tua itu adalah sumber mata pencaharian utama mereka. Lalu tahun 2014 datang—setelah tersisa kira-kira hanya sepersepuluh dari volume awal Tebing Breksi—dan membawa peneliti gabungan dari Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Universitas Pembangunan Nasional (UPN) meninjau Tebing Breksi. Hasilnya? Ditemukan jenis batuan tufan yang langka, sehingga Tebing Breksi ditetapkan sebagai salah satu Geoheritage Yogyakarta yang dilarang untuk ditambang lagi.

"Dilarang untuk ditambangkan dikarenakan nanti untuk kepentingan edukasi," kata ketua pengelola Tebing Breksi, Kholid Widianto dalam salah satu wawancaranya.

Namun sejarah Tebing Breksi sebagai sumber penghasilan warga sekitar tak lantas berhenti. Setelah tidak lagi menjadi tambang, segelintir orang datang menikmati rona senja di Breksi dan iseng-iseng mengunggahnya ke sosial media. Dari sini, satu per satu wisatawan mulai berdatangan.

Kini, penggarapan Tebing Breksi sudah sangat terlihat hasilnya. Menjulang setinggi sekitar 30 meter, batuan kapur raksasa berlapis-lapis ini sudah dipahat membentuk relief dan patung dari cerita pewayangan: pahatan Arjuna membunuh Buto Cakil; pahatan naga dengan mahkotanya; dan patung Semar. Semua karya pahatan ciptaan pemuda setempat, Anto. Dengan detail-detail di setiap karya pahatannya, mencerminkan seorang seniman yang telaten dan sabar.

Anak tangga dibangun di sisi timur untuk kepentingan praktis naik ke tebing. Selain itu, dengan latar batuan kapur bermacam gradasi yang menjulang, di kawasan Tebing Breksi ada pula Tlatar Seneng serta amfiteater yang sering digunakan untuk kopi darat dan event nasional. Tlatar Seneng dengan bentuknya yang melingkar dan terbuat dari batu, langsung mengingatkan kita dengan teater tempat pertunjukkan drama dari zaman Yunani klasik.

Ada pula tawaran objek-objek swafoto seperti yang lazim sekarang ini. Di samping burung hantu jinak di tangga masuk, setidaknya ada dua belas objek swafoto yang diletakkan di punggung tebing utama berselang-seling dengan rerumputan, kembang, dan pohon-pohon. Lalu, seperti di Bukit Bintang atau Candi Ijo, ada pula tawaran memandang kota Yogyakarta dari ketinggian. Dari ketinggian Breksi, pucuk-pucuk tiga candi utama Prambanan, pesawat-pesawat hilir mudik di Adisucipto, serta jalanan dan lampu-lampu Yogyakarta menjadi suguhan lanskap yang memanjakan dan menjadi daya tarik wisatawan. Makin indah semua ini saat senja meluruh di langit: bila awan sedang sembunyi, matahari tunggang terlihat dengan semua kemegahannya terbenam di garis semu Yogyakarta.

Diantarai oleh kolam ikan berair hijau dengan warna-warni koi, jalur putih kapur, dan meja-meja payung di atas rumput, di sisi paling timur kawasan Breksi berjejer lapak-lapak kuliner yang menawarkan berbagai macam menu. Ada tongseng, rica-rica, dan soto. Namun, barangkali yang paling terkenal adalah ayam ingkung Bu Asih, yang meskipun jauh dari pusat ingkung di Bantul, tetap sering dikunjungi oleh pejabat-pejabat yang ingin menyantap ingkung dengan suasana Breksi.

Tebing Breksi sampai sekarang masih kontinu melakukan tahap pembangunan. Saat artikel ini ditulis, baru saja ditambahkan pahatan nama "Tebing Breksi" yang juga dikerjakan oleh Anto. Sementara itu, masih sedang dilakukan penambahan balok-balok kapur di jalur masuk agar saat hujan datang, bus-bus mini tidak anjlok. Ada pula pembangunan kebun buah dan fasilitas akomodasi di sebelah utara agar wilayah Tebing Breksi semakin lengkap.

Kini Tebing Breksi telah menjadi tempat wisata yang juga menorehkan prestasi. Tebing Breksi yang resmi dibuka tanggal 30 Mei 2015 dengan penandatanganan prasasti oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X, telah mendapatkan penghargaan sebagai Tempat Wisata Baru Terpopuler 2017. Hal ini pantas-pantas saja, sebab di musim liburan, Tebing Breksi memang bisa mencatat jumlah pengunjung beribu-ribu.

Cara menuju ke sana:
Jalan Panembahan Senopati - Jalan Gajahmada - Jalan Bausasran - Jalan Letkol Subadri - Jalan Dr. Wahidin Sudirohusodo - Jalan Kusbini - Jalan Langensari - Jalan Munggur - Jalan Laksa Adisucipto - Jalan Raya Solo Yogyakarta - Jalan Opak Raya - Jalan Opak VIII - Jalan. Prambanan - Kiri (Jalan Tanpa Nama) - Kanan (Jalan Tanpa Nama) - Jalan Candi Ijo