GAMPLONG STUDIO ALAM
Pusat Kebudayaan dengan Set Studio Alam

Jalan Gamplong No. 1, Sumberrahayu, Moyudan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55563
Lihat peta

Meskipun masih terus melakukan pembangunan, Gamplong Studio Alam yang menjadi lokasi syuting film Sultan Agung telah siap dikunjungi sebagai destinasi wisata baru. Bahkan, beberapa waktu yang lalu sudah diresmikan oleh Presiden RI, Joko Widodo.

Diperbarui tgl 10/3/2018

Lihat 15 foto Gamplong Studio Alam

Tiket Masuk Gamplong Studio Alam
Gratis
Masuk di kawasan benteng Batavia dan pendopo Sultan Agung dengan syarat sudah follow Instagram @gamplong_studio dan mengunggah foto di Instagram dengan menandai minimal 3 orang teman.

Jam Buka Gamplong Studio Alam
Setiap hari pukul 08.00-17.00 WIB

Di atas sebuah tanah lapang dan kebun kas desa seluas sekitar 2 hektar, telah dibangun sejumlah replika konstruksi zaman kolonial Belanda. Memasuki kawasan ini, benteng Batavia menjadi salah satu bangunan yang menarik perhatian. Selain karena replika ini mirip dengan aslinya, juga karena faktor sejarah di mana benteng Batavia menjadi cikal bakal terbentuknya Indonesia. Jika mengingat kisah sebelum dibangunnya benteng Batavia, rasanya seperti dibawa menuju tahun 1619. Kisah lama yang menyisakan kesuraman saat Jan Pieterszoon Coen menaklukkan Jayakarta hampir empat abad silam.

Di tanah lapang itu telah berdiri dengan gagah tiruan benteng Batavia berwarna hitam seperti yang telah dirancang Coen, terinspirasi dari konsep kota benteng ala Romawi. Tembok berwarna abu-abu membentang memanjang mengikuti garis sungai di depannya. Sungai itu merupakan rekaan Sungai Ciliwung yang menjadi sumber kehidupan pada zaman penjajahan Belanda.

Untuk dapat masuk ke replika benteng Batavia itu kita harus melewati jembatan ungkit yang berada persis di depan pintu masuk benteng. Konstruksi jembatan ini dibangun dengan gaya tradisional khas Belanda. Tentulah jembatan ini mengingatkan kita dengan jembatan ungkit di Kota Intan kawasan Kota Tua—jembatan Belanda yang sampai sekarang masih tersisa dan terdaftar sebagai bangunan cagar budaya.

Pintu gerbang replika benteng Batavia menjulang dengan kokoh. Berwarna coklat tua layaknya pintu kastil. Di sinilah pintu masuk kota Batavia. Di dalamnya menggambarkan bangunan-bangunan Belanda pada masa itu. Ada tiga bangunan utama yang bentuknya hampir sama di sana. Pintu dan jendela bangunan itu berwarna cokelat tua. Jendelanya memiliki dua daun pintu dan terdapat terali-terali. Konstruksi di bagian kiri memiliki dua lantai. Dari semua bangunan, jika dilihat dari luar, ciri eksterior rumah Belanda sangat kental. Ciri ini dapat terlihat dari kecenderungan simetris pada peletakan jendela dan pintunya, yang mana pintu berada di tengah sedangkan kanan kirinya terdapat jendela. Dinding-dinding luarnya menggunakan warna putih seakan-akan juga menjadi salah satu ciri rumah Belanda.

Di bagian halamannya terdapat sebuah kereta kuda tanpa ada kudanya. Kereta yang beroda empat ini kemungkinan bisa menampung dua orang ditambah dengan kusirnya. Beberapa meriam lengkap dengan roda penyangga sengaja diletakkan di halaman untuk menambah kesan kolonial Belanda.

Sudut kiri benteng bagian depan terdapat anak tangga yang menuju tempat bastion (dinding pertahanan). Pada kubu pertahanan itu ditempatkan meriam yang menjorok ke luar dan rumah-rumahan kecil. Tempat ini menggambarkan tempat pasukan untuk menjaga kediaman para pejabat tinggi di kastil Batavia.

Keluar dari benteng Batavia, di sisi kiri benteng terdapat replika bangunan di kampung Pecinan. Kampung pada masa Hindia Belanda menjadi tempat untuk mengumpulkan masyarakat Tionghoa untuk melakukan pemisahan berdasarkan latar belakang rasial pada zaman Hindia Belanda.

Papan berwarna merah bertuliskan huruf mandarin berwarna kuning menghiasi atas pintu salah satu bangunannya. Di sampingnya terdapat rumah lantai dua beserta serambinya, sedangkan di lantai bawah terdapat tumpukan drim-drim kosong dari kayu. Sepertinya bangunan-bangunan ini memang diset sebagai deretan toko milik keluarga Tionghoa. Lantas sebuah bangunan juga ada yang dibuat menggunakan kerangka kayu. Di bagian ambangnya terdapat jendela-jendela dengan desain pola-pola etnik Cina. Semua bangunan di kampung Pecinan menggunakan genteng tanah liat yang warnanya sudah banyak yang menghitam.

Masih ada lagi kompleks kampung Mataram. Kampung memiliki potret kehidupan masyarakat Jawa pada tahun 1600-an. Bangunan-bangunan di kompleks kampung Mataram menggunakan daun tebu kering atau disebut rapak sebagai atapnya. Yang tak kalah menawan yaitu adanya bangunan yang menggambarkan Pendopo Sultan Agung yang berada jauh di seberang replika kompleks kampung Mataram.

Semua bangunan itu tergabung menjadi satu dalam sebuah lokasi bernama Studio Alam Gamplong. Studio alam yang baru saja diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo ini bertempat di Dusun Gamplong 1, Kabupaten Sleman. Bukan tanpa alasan, tempat ini awalnya didirikan sebagai latar tempat syuting film besutan sutradara asal Yogyakarta, Hanung Bramantyo, berjudul Sultan Agung. Namun, setelah proses syuting selesai, tempat ini akan menjadi tempat wisata edukasi. Nantinya tempat ini akan dikembangkan sebagai pusat kebudayaan, film, dan dokumentasi.

"Sebenarnya ini, selain untuk studio film ke depannya untuk wisata edukasi. Kalau kita nggak syuting, jadi lokasi wisata seperti ini. Tapi kita masih tahap pembangunan," ujar kepala properti, Maulana.

Studio Gamplong ini tentunya akan menjadi destinasi wisata baru di Yogyakarta. Selain memiliki latar tempat yang apik, tempat ini juga bisa menjadi alternatif tempat belajar sejarah dan kebudayaan Mataram Islam.

Cara menuju ke sana:
Dari Titik Nol Kilometer Yogyakarta - Jalan KH Ahmad Dahlan - Jalan Raya Jogja - Jalan Yogyakarta-Wates - Jalan Wates - Jalan Gedongan - Setelah jembatan belok kiri - Pertigaan ke kanan - Pertigaan ke kiri - Perempatan ke kanan - Pertigaan ke kiri - Gamplong Studio Alam

Tempat Wisata dekat Gamplong Studio Alam

Catatan: semua jarak diukur over the air