CANDI PRAMBANAN
Menyerap Energi Candi di Pagi Hari

Jalan Raya Jogja - Solo Km 16, Prambanan, Sleman, Yogyakarta 55571, Indonesia
(0274) 496 401

Lihat peta

Pesona Candi Prambanan sebagai mahakarya kebudayaan Hindu dari abad IX memang tak bisa tergantikan. Ia menyimpan aliran kekuatan dengan alam, Tuhan, dan manusia.

Diperbarui tgl 24 Oktober 2018

Lihat 26 foto Candi Prambanan

Jam Buka Candi Prambanan
Senin - Minggu: pukul 06.00 - 17.00 WIB

Harga Tiket Masuk Candi Prambanan (2018)
Rp40.000 (dewasa)
Rp20.000 (anak-anak)
25 USD (wisatawan mancanegara)

"Bukannya aku tidak mencintaimu, Pangeran. Namun, kau telah jatuh dalam kekuasaan kegelapan." Roro Jonggrang berkata pedih ketika kakinya mulai membatu.

Potret kegagalan Bandung Bondowoso tercermin dalam Candi Prambanan. Arca batu besar Roro Jonggrang yang telah ia kutuk ada di salah satu candinya dengan nama lain Durga Mahesasura Mardhini. Arca ini sebuah gambar kesia-siaan ikhtiar Bandung Bondowoso dalam mencapai hasratnya. Hasrat yang menurut Roro Jonggrang cermin dari keangkuhan lelaki yang mencoba mempersuntingnya itu. Bahwa Bandung Bondowoso tak pernah puas dengan kekuatan diri dan menganggap tak adanya kemustahilan, sehingga ia mau-mau saja menerima syarat dari Roro Jonggrang membangun seribu candi.

Itulah sepotong cerita rakyat yang mengiringi adanya bangunan nan megah Candi Prambanan di Desa Bokoharjo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Mengunjungi candi ini sama dengan menikmati mahakarya terakhir arsitektur hebat di masa Kerajaan Mataram Kuno. Menurut sejarah, Candi Prambanan merupakan persembahan Rakai Pikatan dari Wangsa Sanjaya yang ingin memperistri Pramodhawardhani dari Wangsa Syailendra. Hampir sama dengan cerita rakyat Roro Jonggrang tadi yang sama-sama menjadikan Candi Prambanan sebagai persembahan seorang laki-laki yang ingin mempersunting wanita yang ingin dicintainya.

Menarik memang menikmati keindahan sebuah candi dari sisi sejarah dan cerita yang mengikutinya. Namun, yang tak kalah menarik adalah menikmati sebuah candi dari bentuk fisiknya dengan mengandalkan waktu yang tepat, saat pagi hari misalnya. Candi Prambanan yang letaknya dekat dengan Spot Riyadi di Jalan Candi Miri, Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, membuat kita bisa menikmati candi ini dari ketinggian di waktu pagi-pagi. Cahaya matahari yang pelan mencongol dari ufuk timur, akan membuat satu per satu puncak candi menyembul seiring sirnanya kegelapan. Mentari pagi itu membiaskan warna keemasan di atas trap candi. Kabut-kabut putih sedikit demi sedikit menguap ke udara.

Setelah matahari pagi mulai sempurna menampakkan diri, barulah kita bisa melihat dengan jelas puncak-puncak Candi Prambanan yang berada di tengah hamparan alam pinggiran kota yang dihiasi hijaunya pepohonan. Bentang ladang dan sawah yang menguning turut menjadi lanskap yang berpadu bersama keelokan Candi Prambanan. Sesekali, suasana pagi itu akan bercampur suara sayup kereta api yang lewat di bawah di antara sawah-sawah yang membentuk harmoni alam yang membuat mata terpikat.

Matahari pukul enam pagi rasanya cukup untuk mengakhiri awal mula petualangan menikmati Candi Prambanan di Spot Riyadi. Setelah melihat panorama Candi Prambanan dari sisi ketinggian dan kejauhan, saatnya melanjutkan perjalanan menuju ke Candi Prambanan untuk menikmatinya dari sisi dekat. Jarak dari Spot Riyadi ke Candi Prambanan yang cukup dekat, membuat kita hanya membutuhkan waktu sekitar lima belas menit. Jalanan kota Yogyakarta masih belum terlalu ramai, membuat hati masih dalam mood yang baik.

Candi Prambanan di saat pagi hari menyimpan pesona yang tak kalah eksotisnya di saat sore hari. Di candi dengan waktu yang masih pagi ini, suasana masih tenang dan belum banyak wisatawan yang datang. Udara masih dingin dan sejuk meski bukan di pegunungan. Kita bisa berkeliling-keliling, mengamati, menghayati, dan membaca candi dengan puas. Di waktu ini, kita akan lebih bisa memunculkan rasa dari dalam jiwa, mencoba memahami bahwa candi juga memiliki hubungan dengan masa dan waktu. Di Candi Prambanan saat pagi hari kita lebih bisa merasakan aliran atmosfer waktu alam, waktu kepurbaan alam raya, yang sedemikian dekatnya alam dengan Tuhan dan manusia.

Candi Prambanan agaknya memang menjadi karya arsitektur yang termegah dibanding candi-candi lainnya. Selain terlihat kemegahannya, aura yang terpancar juga memiliki semangat bertenaga. Apalagi saat masuk dalam Candi Siwa yang di dalamnya arca Siwa Mahadewa setinggi tiga meter telah memantulkan warna keemasan dari sinar matahari di hadapannya. Di Candi Siwa ini, dipastikan sebagai tempat pemujaan Dewa Siwa. Siwa dalam perwujudannya dianggap sebagai dewa tertinggi. Konon, nama Mahadewa disematkan lantaran para dewa memberikan setengah dari kekuatannya masing-masing pada Siwa untuk melenyapkan makhluk yang mengganggu kehidupan para dewa.

Berputar searah jarum jam dari bilik Siwa, berdiri dengan kokoh arca Agastya. Dengan digambarkan sebagai seorang brahmana bertubuh tambun dan perut buncit, Agastya dikenal sebagai pemomong raja-raja nusantara. Selanjutnya di bilik selatan terdapat arca Ganesha yang diwujudkan sebagai manusia berkepala gajah, berperut buncit, dan bertangan empat. Ganesha melambangkan kebijaksanaan dan pengetahuan, pemusnah semua rintangan. Sementara arca yang terakhir di Candi Siwa yakni Durga. Ia digambarkan sebagai istri Siwa, sang dewi bertangan delapan yang menaiki banteng (mahisa). Banteng yang ia naiki adalah perwujudan Asura atau pengacau kerajaan kayangan yang ia taklukkan. Oleh sebabnya, Durga juga kerap disebut sebagai Dewi Penakluk Asura. Rupanya, Durga inilah putri yang ingin diperistri Bandung Bondowoso, Roro Jonggrang.

Matahari pagi yang belum terlalu panas, memungkinkan kita untuk menyambangi candi-candi yang lain di sebelah Candi Siwa, yakni Candi Wisnu di sebelah kanan dan Candi Brahma di sebelah kiri. Sinar-sinar matahari berlomba-lomba memasuki pintu-pintu candi. Membuat arca-arca di sisi timur Candi Wisnu dan Candi Brahma yakni Dewa Wisnu dan Dewa Brahma seakan menjadi bintang utama dalam sebuah perhelatan di atas panggung. Ketiga candi utama dan candi-candi kecil lainnya yang tergabung menjadi unsur Candi Prambanan telah menarik masyarakat hingga tingkat internasional. Daya tarik Candi Prambanan telah diakui oleh badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yakni United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) sebagai warisan dunia dalam Prambanan Temple Compound bersama dengan empat candi lainnya.

"Candi Prambanan sudah ditetapkan oleh UNESCO sebagai bagian warisan dunia. Warisan duni di sini yang dimasukkan ada lima candi, Candi Prambanan, Candi Lumbung, Candi Bubrah, Candi Sewu, dan Candi Asu," ungkap Koordinator Publikasi dan Pemanfaatan Budaya Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah, Wahyu Kristanto.

Museum di dalam kompleks taman purbakala Candi Prambanan menjadi tempat selanjutnya yang disambangi setelah Candi Prambanan. Terdapat sebuah museum yang menyimpan berbagai temuan benda bersejarah purbakala. Museum yang dibangun dalam arsitektur tradisional Jawa ini turut menyimpan berbagai batu-batu candi dan berbagai arca yang ditemukan di sekitar lokasi Candi Prambanan.

Petualangan menyusuri candi di kompleks Candi Prambanan saat pagi hari tak berhenti sampai di sini saja. Sementara kita masih bisa menyambangi candi-candi lainnya di sekitar Candi Prambanan. Ada Candi Lumbung, Candi Bubrah, Candi Sewu, bahkan Candi Ratu Boko yang konon adalah kerajaan dari ayah Roro Jonggrang 'Balaputradewa'. Diceritakan, kerajaan ini habis ditumpas oleh Bandung Bondowoso. Setelah lelah bertualang di candi-candi, bersantap di Abhayagiri, Kafe Jamu, atau Joglo Pari Sewu akan menjadi pilihan yang tepat untuk mengakhiri perjalanan.

Perjalanan mengunjungi Candi Prambanan saat pagi hari akan lebih menyerap energi yang terpancar dari candi. Bangunan, sejarah, lanskap, dan cerita rakyat yang mengiringi candi akan memberikan pengalaman tersendiri untuk lebih memahami candi. Namun, lebih dari itu, mindset untuk mengunjungi, melindungi, dan melestarikan candi sebagai benda cagar budaya, harus tetap terpatri dalam benak.

Cara menuju ke sana:
Dari Titik Nol Kilometer - Jl. Raya Jogja - Jl. Kusumanegara - Jl. Janti - Jl. Laksda Adisucipto - Jl. Candi Sewu - Candi Prambanan berada di sebelah kiri

Fasilitas Umum dekat Candi Prambanan

Tempat Makan dekat Candi Prambanan

Tempat Wisata dekat Candi Prambanan

Catatan: semua jarak diukur over the air