SOTO KADIPIRO
Resep Turun Temurun Hampir 100 Tahun

Jalan Wates No. 33, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia
(0274) 816 722

Lihat peta

Ingin merasakan bagaimana rasa soto yang usianya hampir satu abad? Cobalah soto Kadipiro. Eits, tapi jangan sampai salah pilih, karena hanya ada satu yang asli.

Diperbarui tgl 8/14/2018

Lihat foto lainnya (10 foto)

Waktu Buka Soto Kadipiro Asli
Setiap hari pk 07.30 - 14.00 WIB

Harga Makanan (2018)
Rp3.000 - Rp19.000

Harga Minuman (2018)
Rp4.000 - Rp12.000

Lanskap Jogja di pagi hari dipenuhi ratusan kendaraan bermotor. Dengan alasan buru-buru dan dikejar waktu, mereka sama-sama menancap gas. Kadang, tak sedikit yang memencet klakson berulang-ulang agar pengendara di depannya mau minggir. Ah, Jogja semakin semrawut saja. Daripada emosi sendiri berada di jalan raya Jogja pagi hari, mending mampir ke warung soto untuk mengisi perut.

Menu soto di Jogja memang banyak, salah satunya adalah soto Kadipiro yang notabene menjadi menu soto yang sudah lama eksis di Jogja. Warung soto Kadipiro yang pertama berdiri yakni sejak tahun 1928. Sampai-sampai warung soto yang satu ini telah menjadi trend setter lantaran sudah mulai menjamurnya gerai-gerai soto Kadipiro lain di sekitar warung ini, bahkan sudah ada juga gerai soto Kadipiro di luar Jogja. Jadi, jangan heran jika memasuki kawasan wilayah Kadipiro di Jalan Wates menemukan jejeran warung soto Kadipiro.

Untuk memudahkan penyebutan, mari kita sepakati bila warung soto yang ingin kami sambangi adalah warung Soto Kadipiro Asli, meski pihak warung-warung soto tak ada yang memberikan embel-embel 'asli'. Pada mulanya kami cukup kesulitan menemukan warung soto Kadipiro yang asli. GPS yang saya set telah menunjukkan warung yang masih tertutup pintunya adalah warung Soto Kadipiro Asli. Namun, kami belum tahu kebenarannya apakah warung ini sotonya benar-benar asli sejak tahun 1928.

Meskipun belum buka, mobil-mobil sudah berderet parkir di depan warung. Lalu kami pun memarkir motor di sisi timur warung. Sejenak saya mengintip jam di ponsel. Sudah lewat sepuluh menit dari jam delapan. Padahal hari sebelumnya saya mengecek di Google tempat ini buka pukul setengah delapan, kenapa sudah jam segini belum buka juga? Sempat ragu juga, jangan-jangan ini bukan warung soto Kadipiro yang kami maksud. Ah, apa salahnya dicoba. Kalau salah ya tinggal coba lagi. Benar, kan?

Jam menunjukkan 08.30 WIB. Akhirnya seorang karyawan membukakan pintu belakang. Kami pun segera menghambur masuk dari pintu itu karena paling dekat dengan posisi kami yang sedang di parkiran motor. Pintu lipat depan yang berwarna tosca pun tak luput dibuka oleh karyawan yang lainnya.

"Karyawan yang lain masih pada libur, Bu," terang seorang karyawan menjawab pertanyaan pengunjung kenapa baru buka sesiang begini.

Kami mencari tempat duduk kosong. Jika dibandingkan dengan warung-warung soto di sekitarnya, warung ini adalah salah satu yang memiliki konsep sederhana. Sepertinya empunya memang sengaja mempertahankan konsep interior warung dari sejak didirikan. Alih-alih menggunakan billboard besar di pinggir jalan, warung ini hanya menggunakan papan kecil berwarna putih untuk menuliskan nama warungnya. Berjalan masuk ke bagian tengah ruangan, empat kayu di empat titik menjulang menyangga bagian atap. Di tembok-tembok penuh dengan kalender-kalender berbagai brand, gambar-gambar wayang, lukisan dan foto pendiri warung, turut dipajang juga kutipan-kutipan kata bijak Jawa. Di bagian plafon digantung beberapa sangkar burung yang tidak ada burung di dalamnya.

Dengan sigap karyawan menanyai kami mau makan dan minum apa. Tak berapa lama kemudian, ada karyawan yang membawa nampan besar berisi mangkuk-mangkuk soto.

"Soto campur?" tanya karyawan itu.

Setelah kami mengiyakan, ia segera menurunkan mangkuk-mangkuk soto yang asapnya masih mengepul dari kuahnya. Selain soto campur, bisa juga memesan soto pisah yang mana nasinya nanti akan ditempatkan di piring berbeda dengan sotonya. Isian soto Kadipiro memiliki kesamaan dengan soto yang lainnya yakni kubis, seledri, taoge, nasi, suwiran daging ayam, bawang goreng.

Yang spesial di warung ini adalah hanya ayam kampung asli yang digunakan sebagai bahan soto dan lauknya, begitu juga dengan kuah kaldunya yang dibuat dari air rebusan ayam kampungnya. Kuah kaldunya tidak pekat, berwarna coklat kekuningan terasa gurih dan segar. Di mangkuk sotonya sudah ditambah perkedel kentang. Menyantapnya akan lebih beda jika perkedelnya dilumatkan terlebih dahulu di kuah sotonya, sehingga kuahnya akan menjadi kental. Di meja kami telah tersedia gorengan, sate telur puyuh, tahu dan tempe bacem, serta ayam kampung goreng. Semuanya terlihat menggoda dan kami pun tak luput mengambil salah satu dari mereka.

Eh tunggu, kami sudah kalap begini, jangan-jangan ini bukan Soto Kadipiro Asli? Kami pun segera menanyakan ke seseorang di belakang meja kasir sesaat setelah selesai makan. Ada seorang laki-laki lebih dari paruh baya, belakangan kami tahu namanya adalah Hendy Suharli.

"Pemilik pertama adalah simbah saya yang namanya ada di lukisan itu (sambil menunjuk lukisan yang dimaksud), terus bapak saya (menunjuk bingkai foto)," terang Harli.

Soto di warung Soto Kadipiro Asli ini masih mempertahankan resep asli dari pendirinya yakni Tahir Kartowijoyo. Di salah satu sudut warung telah terpasang tulisan bila warung ini tidak membuka cabang di Jakarta dan kota lainnya.

"Jadi, (warung soto) yang sebelah-sebelah itu milik paman-paman saya, untuk rasanya itu tanggung jawab mereka masing-masing," ucap Harli. Jika sebelumnya menganggap warung-warung lain di sekitar warung Soto Kadipiro Asli ini merupakan warung cabangnya, segera tepis anggapan itu. Warung soto ini tidak membuka cabang di tempat lain. "(Warung soto) ini untuk berempat bersama kakak-kakak saya," pungkasnya.

Untunglah kami tidak perlu menyambangi warung lain untuk memastikan telah menyantap Soto Kadipiro Asli. Jika tidak, mungkin akan menghabiskan hampir gaji sebulan untuk mencoba satu-satu soto Kadipiro di kawasan ini hanya demi mencari soto Kadipiro yang benar-benar asli.

Cara menuju ke sana:
Dari Tugu Jogja (Golong Gilig) - Jalan Pangeran Diponegoro - Jalan Tentara Pelajar - Di bundaran ambil jalan keluar kedua (ke kanan) - Jalan Tentara Rakyat Mataram - Jalan Pembela Tanah Air - Jalan HOS Cokroaminoto - Jalan Yogyakarta-Wates - Soto Kadipiro Asli