WARUNG OMAH BU AGENG
Sepiring Kelezatan Nusantara, Mark Zuckerberg pun Pernah Mencicipinya

Jalan Tirtodipuran, No.13, Mantrijeron, Yogyakarta, Indonesia.
Phone : (0274) 387 191 0812 2301 7999

Lihat peta

Kelezatan Indonesia dalam sebuah piring dapat ditemukan dalam masakan racikan Bu Ageng yang memadukan bumbu-bumbu khas Jawa dengan cita rasa Kutai. Tak hanya artis-artis kenamaan, pendiri Facebook pun sudah mencicipi keunikan sajian omah nusantara ini.

Diperbarui tgl 3/15/2016

Lihat foto lainnya (10 foto)

Buka Selasa - Minggu
Pk 11.00 - 23.00

Lalu-lalang para turis asing menjadi pemandangan yang biasa ketika YogYES sampai di kawasan Jalan Prawirotaman dan Tirtodipuran. Tujuan kami kali ini adalah sebuah rumah makan yang digadang oleh seorang budayawan kondang, Butet Kertaredjasa, dan keluarganya. Warung Makan Bu Ageng namanya. Sekilas nama rumah makan ini mengingatkan pada tokoh-tokoh rekaan sastrawan Umar Kayam berjudul Mangan Ora Mangan Kumpul (1995). Namun ternyata Bu Ageng dipilih karena nama tersebut juga merupakan sapaan akrab cucu-cucu Pak Butet kepada istrinya, Ibu Rulyani Isfihana.

Ketika mata kami sibuk menjelajahi deretan menu-menu yang diberikan pramusaji mulai dari makanan ringan, sayur, lauk hingga menu utama berupa nasi campur, sebuah paragraf yang terselip dalam daftar menu menarik perhatian saya.

"Amenangi jaman luwe. Wong sing ora luwe rasah melu-melu luwe. Kudu tetep mangan. Sak begja-begjane wong mangan, isih begja wong sing kelakon mangan ing warung kene. Mulane ojo kapok mangan. Mengko ndak luwe maneh."

Usut punya usut, kutipan tersebut merupakan syair "Zaman Edan" karya pujangga Jawa Rangga Warsita yang telah diparodikan menjadi syair "Zaman Luwe". Bagi saya yang tak terlalu mengerti tentang sastra, mungkin paragraf tersebut bermakna bahwa Warung Omah Bu Ageng adalah tempat yang tepat untuk dituju ketika lapar, meskipun ada banyak tempat makan lainnya. Orang yang tak lapar pun bisa tertarik untuk makan di tempat ini, bahkan ingin datang lagi dan lagi karena rasanya yang numani.

Di antara banyaknya menu-menu masakan rumahan yang tertulis dalam daftar, Nasi Campur Lele Njingkrung, Ayam Nyelekit, Pecel, Bubur Duren Mlekoh, Jeruk Keprok dan Sari Tomat menjadi pilihan kami. Dari menu-menu pilihan tersebut ada beberapa di antaranya yang menjadi menu andalan di warung ini. Sembari menunggu pesanan kami diantar, saya pun iseng bertanya pada mbak-mbak di meja kasir. "Mbak, kalau mau ketemu Pak Butet bagaimana ya?" Kan lumayan bisa ketemu artis, batin saya. Namun ternyata sang pelawak yang ahli dalam bermonolog tersebut tidak berada di tempat. Bahkan hanya saat-saat tertentu beliau bener-benar menyediakan waktu untuk berada di Warung Omah Bu Ageng, yaitu saat rumah makan dalam keadaan ramai.

Tak bisa bertemu dengan salah satu putra seniman Bagong Kussudiardjo tersebut, saya pun menyibukkan diri mengamati bangunan rumah makan yang berdiri sejak 26 Desember 2011 ini, berbentuk Joglo khas arsitektur Jawa klasik. Tempat makan yang menyediakan masakan khas Jawa berpadu dengan kelezatan cita rasa Kutai, Kalimantan ini memang mengusung konsep warung rumahan. Tak hanya menu-menunya, suasananya pun mengingatkan saya pada rumah-rumah Jawa tempo dulu. Di dinding paling belakang dari bangunan terlihat Wall of Fame dengan potret hitam putih para seniman, politikus serta tokoh-tokoh Jogja ternama semakin menguatkan kesan rumah tempo dulu yang njawani.

Sesaat kemudian pesanan kami pun datang. Seporsi nasi dengan topping abon ikan tuna, keripik kentang, kuah areh, sambal Kutai, kerupuk legendar atau kerupuk karak serta lauk lele yang njingkrung atau mlungker menjadi menu yang pertama kali kami santap, karena memang menu nasi campurlah yang menjadi menu utama di resto ini. Paduan cita rasa nusantara yang unik akan kita temukan dalam racikan sepiring nasi campur, antara bumbu-bumbu yang biasa dalam masakan omah Jawa dan Kutai. Persis seperti filosofi resto yang ingin disampaikan pemilik, "Menemukan kelezatan Indonesia dalam sebuah piring".

Jika pesanan kami adalah nasi campur dengan lauk Lele Njingkrung, ada beberapa lauk lain yang disediakan sebagai teman makan menu utama ini. Antara lain Paru Ketumbar, Baceman Kambing, Lidah Masak Semur, Terik Daging Sapi atau Ayam Bakar Suwiran. Selain lauk yang jadi satu paket dengan nasi campur, ada juga berbagai lauk yang bisa dipesan terpisah seperti Ayam Nyelekit pesanan kami. Rebusan potongan-potongan daging ayam dengan ramuan bumbu, kecap dan cabe yang digoreng ini bisa menjadi menu pilihan bagi penikmat makanan pedas. Meskipun rasa pedasnya tak se-nyelekit yang saya bayangkan.

Menu favorit selanjutnya yang kami cicipi adalah seporsi pecel yang cukup mengenyangkan meskipun dimakan tanpa nasi. Kuliner khas Jawa Timur berupa campuran sayur-sayuran rebus yang disiram sambal kacang ini menjadi pilihan yang pas bagi vegetarian, orang-orang yang sedang diet atau orang-orang yang rindu cita rasa khas Jawa Timur di Kota Gudeg, seperti saya. Meski pun rasa sambalnya yang bertekstur lembut masih agak manis untuk ukuran masakan Jawa Timur.

Usai menandaskan makanan-makanan berat, tibalah saatnya menu penutup berupa Bubur Duren Mlekoh. Menu berbahan dasar daging buah Durian, potongan roti tawar dan santan ini menjadi menu yang paling digemari di Warung Omah Bu Ageng. Tak heran jika salah satu dari kami menyesal telah memesan dalam porsi kecil bukan porsi yang jumbo. Mau nambah pun apa daya perut tak bisa menampung jika harus menghabiskan semangkuk Bubur Duren Mlekoh lagi.

Penikmat masakan omah di resto ini pun tak hanya wisatawan yang kebetulan berkunjung ke Jogja saja, tapi juga beberapa artis kenamaan yang kebetulan juga mengenal Pak Butet, seperti Rima Melati, Jajang C. Noer, Happy Salma, Didi Petet, Eros Djarot dan Slamet Rahardjo. Bahkan pendiri Facebook, Mark Zukerberg pun memilih resto ini untuk makan siang ketika berkunjung ke Jogja. Padahal sebagai Kota Kuliner, Jogja punya resto-resto kenamaan lain yang tak terhitung jumlahnya. Uniknya beberapa menu seperti Ayam Nyelekit, Sambal Kutai Udang, Terik Daging dan Oseng Mercon Dor pun bisa dinikmati tanpa perlu harus berkunjung ke Jogja karena tersedia dalam bentuk kaleng yang bisa dipesan via online dan awet hingga satu tahun.

Cara menuju ke sana:
dari perempatan Jalan Prawirotaman I dan Jalan Parangtritis, ke barat - perempatan lurus, ke Jalan Tirtodipuran - Warung Omah Bu Ageng