SATE BUNTEL TAMBAK SEGARAN
Jurus Cacah Daging Penakluk Lidah

Jl. Brigjen Katamso 192, Yogyakarta, Indonesia
Phone : (0274) 379 467

Lihat peta

Solo dan Yogya adalah dua saudara tua, persaudaraan ini berlanjut sampai urusan kuliner. Kecap rahasia racikan keluarga mengantar kenikmatan Sate Buntel ke setiap lidah pengunjung.

Diperbarui tgl 3/23/2015

Lihat foto lainnya (11 foto)

Harga makanan
Rp 15.000 - Rp 35.000

Harga minuman
Rp 3.000 - Rp 12.500

Buka setiap hari
Pk 12.30 - 22:00 WIB

Tepat saat jam makan siang, YogYES sampai di Warung Sate Kambing Tambak Segaran. Cukup mudah menemukannya, terletak di Jalan Brigjen Katamso 192, persis di sebelah Bank Danamon. Berjarak hanya sekitar satu kilometer dari perempatan Kantor Pos Besar. Sebagian besar kursi telah terisi pengunjung, padahal menurut jadwal, warung baru saja buka. Itu artinya, sejenak dibuka, pembeli langsung datang menyerbu. Di ujung depan warung terlihat juru masak sedang sibuk di dapur kekuasaannya. Dialah Wily, cucu dari empu kreator Sate Buntel. Wily merupakan penerus trah generasi kedua Sate Buntel Jogja, atau generasi ketiga bila diurut dari warung pertamanya di daerah Tambak Segaran, Solo. Dia meneruskan usaha ibunya yang membuka warung sate di Jogja pada tahun 1987.

Pertalian antara Solo dan Yogya tidak hanya melulu tentang asal muasal Kasunanan Solo dan Kasultanan Yogyakarta yang berasal dari satu Wangsa. Dalam hal kuliner, Sate Buntel yang ada di dua kota ini juga memiliki empu yang sama, beliau adalah Lim Hwa Youe. Enam puluh lima tahun silam, tepatnya di tahun 1948, Lim menciptakan inovasi sate. Tidak seperti umumnya di mana sate adalah potongan daging yang ditusuk, Lim malah mencacah daging dan kemudian membuntelnya dengan lemak kambing. Kata buntel yang artinya bungkus itulah yang sampai sekarang resmi menjadi nama sate ini.

Ide membuat sate buntel ini sangat cerdas dan menarik, khas kebiasaan para kawula alit yang memanfaatkan kesederhanaan menjadi kemewahan. Mirip asal muasal tengkleng yang memanfaatkan sisa daging yang menempel di daging menjadi sajian lezat, begitu pula sejarah sate buntel yang memanfaatkan bagian daging keras yang merupakan mayoritas dari kambing. Agar bisa tetap dinikmati, daging tersebut dicacah lembut dan dihilangkan semua ototnya. Hasilnya, penggila kambing bisa merasakan lembutnya daging dan terbebas dari aroma prengus yang biasa menguntit.

Antrean panjang tidak mengurangi rasa antusias YogYES untuk mencicipi kuliner legendaris yang kondang ini. Aroma daging dan rempah terbakar yang memenuhi warung membuat iman terjaga sampai pesanan terhidang di depan mata. Saat yang dinantikan tiba, pesanan datang. Berbeda dengan sate pada umumnya yang dimakan dengan cara ditarik dari tusuknya, di sini kita tak perlu melakukannya. Sate Buntel tersaji tanpa bilah bambu penusuk, dua buntelan daging siap dilahap hanya dengan mengiris ringan menggunakan sendok. Tersaji sederhana dengan acar mentimun dan irisan bawang merah dilengkapi sambal, sate buntel sudah cukup memompa liur. Satu lagi jurus Sate Buntel menaklukan lidah, yaitu siraman kecap encer bermanis sedang. Inilah kecap rahasia racikan keluarga. Hanya penerus yang mendapat turunan ilmunya.

Meskipun spesialis sate buntel, tapi warung ini juga menyediakan menu olahan kambing lainnya. Diantaranya adalah Gulai dan Tengkleng. Kami mencoba dua varian gulainya, yaitu Gule Daging Biasa dan Gule Sumsum. Meskipun namanya Gule Daging Biasa, namun rasanya tetap spesial. Sementara Gule Sumsum lebih menantang lidah karena penampilannya yang berantakan. Bayangkan, sekitar sembilan tulang kering kambing bertebaran di piring, tergenang kuah gulai berwarna kuning, ditemani selembar tusuk sate untuk menghajar sumsum dalam tulang sebelum kita menyedotnya. Begitu sampai di mulut, sumsum cair langsung menyemprot lidah, memaksa untuk segera mengambil tulang selanjutnya karena tak ingin kehilangan sensasi semprotan sumsum.

Puas memenuhi perut dengan olahan kambing, beragam minuman segar mulai dari es teh, soda gembira, hingga bir siap membilas kerongkongan, menyetor cairan penghilang rasa haus meski tak mengorbankan memori aneka bumbu eksotis dan kelembutan daging kambing gibas. Pergulatan antara berbagai menu kambing versus lidah berakhir sudah. Hasilnya, lidah harus menyerah kalah.

(Data diperoleh Juni 2013, harga dapat berubah sewaktu-waktu)