MANGUT LELE MBAH MARTO
Terperangkap Nikmatnya Olahan Mangut Lele Asap

Dusun Ngireng-ireng, Saraban, Panggungharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta, Indonesia
0852 9209 5550

Lihat peta

Memang bikin emosi mencari lokasi warung makan Mbah Marto yang nyempil di tengah perkampungan, apalagi tidak ada papan penunjuk jalan menuju ke sana dari Jalan Parangtritis. Mau tak mau harus bertanya penduduk sekitar untuk menemukan keberadaannya.

Diperbarui tgl 29 Juni 2018

Lihat 9 foto Mangut Lele Mbah Marto

Waktu Buka Mangut Lele Mbah Marto
Setiap hari pk 10.00 - 16.00 WIB

Harga Makanan (2018)
Rp10.000 - Rp25.000

Harga Minuman (2018)
Rp2.000

Siang terik. Asap-asap dari sisa pembakaran berdesakan keluar ruangan sekitar 4x4 meter melalui lubang-lubang ventilasi. Seorang perempuan paruh baya sesekali mengaduk isi beberapa panci berukuran jumbo di atas luweng dan memasukkan kayu-kayu di luweng agar api tidak mati. Dinding-dinding batu bata telah berubah menjadi hitam karena jelaga perapian itu. Di depannya, orang-orang telah berjejer menunggu giliran mengambil nasi di bakul besar lalu sibuk memilih sayur dan lauk yang ditempatkan dalam jejeran-jejeran baskom. Ada setidaknya 6 baskom berisi mangut lele, gudeg, krecek, telur dan tahu areh, ayam opor, dan lain-lain di atas dipan bambu yang lebih mirip lincak berukuran agak besar itu.

Itulah warung Mbah Marto. Warung yang berada di tengah desa dan cukup sulit mencari lokasinya karena terlalu tersembunyi ini tak pernah sepi pengunjung. Meskipun begitu, para penikmat kuliner sejati tentunya tidak terlalu bermasalah dengan mblusuk-nya tempat makan ini demi bisa berburu menu andalan warung Mbah Marto yaitu mangut lele. Kuliner tradisional khas Mataraman (Jogja-Solo) dan Semarang-Kendal ini tentunya akan menghidupkan kembali memori masa kecil akan kampung halamannya.

Ngomong-ngomong apa sih mangut lele itu? Untuk orang-orang Jawa, pasti sudah tidak asing lagi dengan menu olahan ikan lele yang satu ini. Di warung Mbah Marto, ikan lele dalam masakan mangut lele diasap bukan digoreng. Tujuannya agar lele lebih tahan lama dan tidak cepat tengik. Sementara itu, bumbu yang terdiri dari bawang merah, bawang putih, cabai merah, kemiri, dan jahe diulek pada cobek batu. Bumbu yang dihaluskan dengan proses ulek tentunya akan mengeluarkan minyak alami dari bahan-bahan mentah yang akan membuat bumbu lebih beraroma.

Proses selanjutnya adalah menumis bumbu yang telah dihaluskan tadi bersama dengan gula merah, cabai merah besar, daun salam, daun jeruk, serai, serta lengkuas. Bila sudah wangi, santan ditambahkan, berikut lele yang sudah diasap tadi. Dengan terus dipanasi di atas luweng, kuah ditunggu hingga mengental. Proses ini menjamin bumbu dapat benar-benar meresap ke lele. Memang cukup rumit memasak menu mangut lele. Ketelatenan diperlukan agar mendapatkan hasil cita rasa yang sempurna. Itulah yang ingin ditunjukkan Mbah Marto—perempuan yang saat ini sudah berusia 90-an tahun—yang masih saja cermat meracik aneka bumbu dan bahan yang terbangun dari pengalaman panjang dalam memasak dan menjual mangut lele.

Di warung Mbah Marto, pengunjungnya dibolehkan masuk ke dapur untuk mengambil makanan sendiri. Terserah mau mengambil lauk atau sayur yang mana, mau dipadukan beberapa sayur juga boleh, asal nanti ketika membayar disebutkan tambahan lauk yang dipakai.

Aroma mangut lele Mbah Marto begitu khas. Apalagi ketika memakan bagian kulit lele, aroma asap dari proses pengasapan masih tercium. Rasa gurih bumbu dan santan yang meresap ke daging lele segera memencar di mulut. Daging lele terasa empuk di mulut karena matangnya merata. Maka jangan heran bila ada pengunjung yang tak malu-malu mengelumati sisa-sisa daging yang menempel di duri atau mungkin malah membelah kepala lele untuk menemukan otak yang tersembunyi di dalam rongga kepala.

Kuah mangut lele yang berwarna keoranyean membuat lidah tersetrum dengan rasa yang gurih-pedas dengan adanya potongan cabai besar. Sensasi pedas ini semakin menambah nikmat. Bagi yang tak suka pedas, kami sarankan tetap mengambil lauk mangut lelenya karena jika tidak memakai lele akan sayang sekali sudah jauh-jauh ke warung ini. Namun, kuahnya bisa diganti dengan kuah sayur lain yang tidak pedas

Coba juga lauk yang dibungkus daun pisang dan dimasak dengan cara dikukus. Di dalamnya ada garang asem hati dan ampela ayam. Namun, garang asem di sini tidak ada rasa asamnya, malah menu ini rasanya lebih mirip opor lalu dikukus. Meski begitu, menu ini tetap saja sama-sama enak dan nikmat sebagai teman nasi.

Saat kami datang ke warung Mbah Marto, bertepatan dengan jam makan siang. Alhasil kami kehabisan tempat duduk di dalam rumah karena warung ini meja kursinya terbatas. Hanya ada beberapa meja kursi saja di ruang tamu dan teras rumah yang disulap menjadi warung makan mungil ini. Lalu kami pun melipir duduk kursi panjang di samping rumah persis di depan pintu dapur bersama pengunjung-pengunjung lain yang juga tidak kebagian tempat duduk di dalam. Kendati begitu, kami tetap menikmati makan dengan menu sederhana namun menggoyang lidah ini.

Cara menuju ke sana:
Dusun Ngireng-ireng, Saraban, Panggungharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta, Indonesia

Tempat Makan dekat Mangut Lele Mbah Marto

Tempat Menginap dekat Mangut Lele Mbah Marto

Tempat Wisata dekat Mangut Lele Mbah Marto

Catatan: semua jarak diukur over the air