THE WAROENG OF RAMINTEN
Menunya Nyentrik Namun Bikin Kangen

Jl. Kaliurang Km. 15.5, Sleman, Yogyakarta, Indonesia
(0274) 265 4254

Lihat peta

Di tengah suasana sejuk yang dihembuskan lereng Merapi, seporsi ayam koteka telah siap dinikmati. Diiringi suara gamelan yang memecah sunyi, berbagai hidangan lezat dengan nama nyentrik lain pun menanti untuk dicicipi.

Diperbarui tgl 10/9/2015

Lihat foto lainnya (7 foto)

Harga
Rp 2.000 - Rp 20.000 / porsi

Buka setiap hari
Pk 10:00 - 24:00 WIB

Pernah mendengar nama The House of Raminten? Bagi mereka yang tinggal atau sering berkunjung ke Jogja, nama itu pasti sudah tak asing lagi. Tempat makan yang berada di Kotabaru tersebut tergolong unik dan menjadi salah satu ikon kuliner Jogja. Sehingga tak heran bila The House of Raminten selalu ramai dikunjungi para pemanja lidah. Bahkan, mereka rela membiarkan namanya tertulis di daftar tunggu hanya demi seporsi nasi kucing atau segelas es kelapa muda dalam gelas raksasa.

Bila tak ingin menunggu karena urusan perut memang tak bisa diganggu, cobalah datang ke The Waroeng of Raminten yang berada di Jalan Kaliurang. The Waroeng of Raminten merupakan salah satu cabang dari The House of Raminten dengan konsep tempat yang sedikit berbeda. Jika biasanya di The House of Raminten pengunjung akan kesulitan memesan tempat untuk rombongan besar, maka di tempat ini, ada dua buah rumah limasan yang dapat digunakan untuk rombongan. Masuk ke dalamnya, suasana Jawa yang begitu kental langsung terasa. Harum dupa bercampur bunga mawar yang khas menyeruak. Para pelayan yang berpakaian tradisional, furnitur hingga pernak-pernik yang mempercantik tiap ruangan terlihat unik dan tak biasa untuk sebuah tempat makan.

Sore itu, sepulang dari menjelajah Jogja utara, YogYES memutuskan mampir ke The Waroeng of Raminten. Mendung yang bergelayut menambah sejuk suasana. Kami memilih untuk duduk di dalam, dekat limasan. Tak mau menunggu lama, daftar menu yang diberikan ketika masuk tadi langsung kami buka. Keunikan tempat makan ini ternyata tak terbatas pada desain interiornya saja, cobalah tengok apa yang ada di daftar menu mereka. Perawan tancep, es krim goreng, wedhang katresnan dan puluhan menu nyentrik beserta foto cara penyajiannya mengisi tiap sisi buku menu tersebut. Karena sedikit bingung dengan maksudnya, kami memanggil seorang pramusaji untuk menjelaskannya.

Setelah menu-menu yang kami pesan terhidang, barulah kami benar-benar mengerti mengapa banyak orang datang kemari. Tak hanya sekedar tempatnya yang menarik dan unik, namun penyajiannya pun tak kalah asik, terutama minumannya. Minuman-minuman ini disajikan dalam gelas-gelas porsi besar yang bentuknya pun tak biasa. Lihat saja gelas wedang uwuh yang kami pesan, porsinya jumbo dan bentuknya unik bukan? Tak hanya itu saja, seporsi es krim goreng dan ayam koteka pun tak luput dari perhatian. Roti goreng kuning keemasan yang hangat dan kering ini tampak begitu menggoda. Jangan bayangkan gula merah atau kacang hijau yang mengisinya, melainkan satu scoop es krim stroberi dingin dan lembut. Sementara itu, ayam koteka yang datang pun terlihat begitu eksotis. Namanya mengingatkan kita pada salah satu pulau di timur Indonesia, Papua. Ayam koteka ini terbuat dari cincangan daging ayam yang dipadukan dengan telur dan daun bawang, kemudian digoreng dalam bambu. Jelas saja ia berhasil menggoyang lidah.

Ayam koteka, es krim goreng dan teman-temannya telah berhasil memanjakan lidah kami. Menu-menu nyentrik ini sukses menjadi pengisi tenaga untuk perjalanan pulang. Meskipun hari mulai gelap dan perut telah kenyang, tapi rasanya kami tak ingin cepat-cepat pergi dari tempat ini. Bagaimana tidak, semakin malam suasananya semakin romantis. Lilin-lilin terlihat menyala di tiap meja dan sinar temaramnya membius siapa saja untuk melanjutkan obrolan. Menu nyentrik dengan suasana klasik nan romantis seperti ini tak ayal membuat banyak orang kangen ingin kembali ke The Waroeng of Raminten.