SEGO GODHOG PAK PETHEL
Jangan Makan di Sini Jika Belum Cukup Sabar

Pendowoharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta 55186
0852 2504 0597

Lihat peta

Siapa yang menyangka dari sakit masuk angin, Pak Pethel mendapatkan ide membuat resep masakan sego godhog? Lalu apakah rasa sego godhog sama sederhananya dengan pengalaman munculnya ide resep? Simak liputan YogYes saat mencoba makanan ini.

Diperbarui tgl 6/29/2018

Lihat 7 foto Sego Godhog Pak Pethel

Waktu Buka Sego Godhog Pak Pethel
Setiap hari pk 19.00 WIB - sampai habis

Harga Makanan (2018)
Rp12.000/porsi

Harga Minuman (2018)
Rp2.500 - Rp3.000

Beberapa waktu yang lalu, tim YogYes penasaran dengan makanan bernama sego godhog. Sego itu nasi dan godhog itu rebus. Bukannya menanak nasi lumrahnya memang dengan direbus ya? Lalu apa sebenarnya makanan bernama sego godhog itu? Apakah nanti kita akan memakan nasi yang sudah biasa kita makan?

Untuk memenuhi rasa penasaran, kami pun mendatangi warung sego godhog Pak Pethel yang konon paling legendaris di Bantul. Perasaan kami harap-harap cemas saat datang di sebuah warung makan yang berada di pinggir sawah itu dan menjumpai beberapa motor beserta sebuah mobil sudah terparkir di depannya. Sebelumnya, kami sudah diberi tahu teman bahwa di warung ini pembeli harus sabar menunggu hingga makanannya datang karena memang warung ini tidak pernah sepi pembeli. Saat kami memesan makanan, kami terkejut karena sudah ada 28 porsi makanan yang dipesan sebelumnya, dan kami harus menunggu sesuai antrean, padahal jam masih menunjukkan pukul 19.00 WIB sedangkan penjual baru bersiap-siap mulai memasak. Sial, ternyata masih kurang awal datangnya, batin saya kesal.

Melihat tempat duduk berupa lincak dari bambu dan meja panjang sudah sebagian terisi pengunjung, kami pun berjalan ke dalam dan duduk di ruangan yang sudah digelari tikar serta diberi meja untuk lesehan. Kami memesan minuman sembari menunggu makanan kami disajikan. Semakin malam, semakin banyak pengunjung yang berdatangan. Yang mengherankan adalah beberapa orang ada yang baru saja datang, namun pesanannya sudah siap untuk diambil. Loh, mereka pesan dulu ya? Setelah kami tanyakan ke penjualnya sendiri, ternyata memang bisa memesan terlebih dahulu lewat telepon atau SMS. Bahkan dari pagi memesannya pun bisa. Tinggal sebutkan saja pukul berapa pengunjung akan datang ke warung untuk makan di tempat atau dibawa pulang. Wah, kenapa tadi nggak pesan dulu ya? Saya membatin semakin kesal.

Untuk menunggu makanan disajikan, kami mengisi waktu dengan mengunjungi dapur dan melihat bagaimana cara memasak sego godhog. Awalnya Pak Pethel—sebutan orang-orang kepada penjual sego godhog padahal nama aslinya Pak Slamet—memasukkan bumbu yang sudah dihaluskan dan daun kol ke dalam penggorengan. Lalu ditambahkan suwiran ayam, telur, dan air kaldu. Setelah mendidih baru dimasukkan nasi, bihun, kecap, irisan tomat, daun bawang, dan cabe jika memesan dengan rasa pedas. Kami pun mulai paham jika sego godhog merupakan nasi yang sudah matang dimasak lagi dengan direbus. Yang membuat makanan ini disajikan dalam waktu yang lama karena Pak Pethel memasaknya dengan satu wajan untuk satu porsi. Memasaknya pun secara konvensional yaitu menggunakan anglo arang.

"Dulu awalnya masuk angin. Pengin makan yang panas-panas," beber Pak Pethel saat kami bertanya bagaimana ide awal resep sego godhog muncul. Kejadian itu sudah terjadi sekitar tahun 1986. Kakak perempuan Pak Pethel-lah yang mengajarkan cara membuat sego godhog, kemudian Pak Pethel mengembangkan resep sendiri. Selain sego godhog, Pak Pethel juga menyediakan menu nasi goreng, bakmi godhog, bakmi goreng, dan magelangan.

Jam sudah menunjukkan pukul 20.30 WIB, kami sudah kembali ke meja dan tidak tahu lagi mau melakukan apa untuk menunggu pesanan kami datang. Sekitar sepuluh menit kemudian, seorang perempuan yang membawa baki berjalan ke arah meja kami. Ia pun menurunkan makanan pesanan kami. Kami lega, setelah hampir dua jam menunggu, akhirnya makanan datang. Sego godhog yang disajikan menggunakan mangkok putih besar. Ada lepek kecil berisi irisan kol dan timun untuk lalapan. Sekilas, tampilan sego godhog seperti mi dokdok yang biasanya dijual di warung burjo. Kuahnya yang berwarna coklat kemerahan dan asapnya yang mengepul membuat kami tak sabar untuk menyantapnya. Kalau sego godhog rasanya tidak enak atau sedang-sedang saja, barangkali kami sudah kapok balik ke warung ini lagi.

Sayangnya, sego godhog Pak Pethel ini memang enak. Tidak menyesal kami menunggu lama untuk merasakan makanan seenak sego godhog. Wangi kuah khas sego godhog segera memenuhi indra penciuman kami. Lidah kami serasa dimanjakan saat mulai menyuapkan sesendok sego godhog ke mulut kami. Sesendok itu berisikan nasi, bihun, dan kuah yang kental. Rasa gurih kuahnya begitu nendang di lidah bercampur dengan irisan tomat, kol, dan daun bawang. Juga ada cincangan seledri dan bawang goreng yang ditaburkan. Tekstur suwiran ayam yang empuk, dan potongan cabe yang dicampurkan dalam sego godhog semakin menggugah selera makan. Luar biasa!

Cara menuju ke sana:
Dari Titik Nol Kilometer Yogyakarta ke barat - Jl. KH. Ahmad Dahlan - Jl. Suryowijayan - Jl. Bantul - Jl. Cepit-Tembi, sampai perempatan belok kiri - Sego Godhog Pak Pethel