Pengalamanku Menginap di Homestay Paling Murah di Jogja

Jogja memang terkenal murah, kadang nyaris tidak masuk akal. Hanya dengan selembar uang 50 ribu, kita bisa mendapat kamar dengan bed, AC, TV, dan Wi-Fi. Reporter YogYes diam-diam menginap di homestay paling murah di Jogja ini dan membagikan pengalamannya.

Diperbarui tgl 10/10/2018

Nama saya tetap sesuai KTP. Bahwa saya pernah kuliah di Yogyakarta juga sesuai. Namun saat memesan kamar, saya katakan saya sedang di Sulawesi dan akan datang ke Yogyakarta dalam waktu dekat.

"Sehari udah cukup?"

Saya jawab hanya untuk mengurus pendaftaran studi lanjut di Almamater. Tidak benar memang, tetapi demi merasakan pengalaman otentik menginap di losmen seharga 50 ribu rupiah tanpa pemiliknya tahu saya sedang liputan.

"Bu, ini Dirga..."
"Oh, ya. Di mana, Mas?
"Sudah di Yogya, Bu. Ini lagi nunggu TransJogja."
"Pakai Google Maps ya, Mas. Deep Purple. Mas punya Google Maps, kan?"
"Punya, Bu."
"Okay, Mas."

Telepon ditutup. Dengan itu kandaslah harapan saya untuk dijemput pemilik penginapan di halte Trans Jogja. Sekitar setengah jam saya naik bus Trans Jogja jalur 3A dari Malioboro sebelum turun di Halte MT Haryono 1 yang jaraknya sekitar 500 meter dari penginapan saya malam itu.

Tidak susah menemukan Deep Purple Homestay; peta daring menunjukkannya dengan akurat. Hanya saja, sore itu sedikit apes buat saya yang akhirnya berjalan kaki menuju penginapan. Hujan turun rintik, celana sering melorot, dan sudah pukul lima sore yang artinya sebentar lagi buka puasa hari pertama.

Setelah sekitar lima belas menit berjalan kaki, pagar ungu sepaha yang mengelilingi dua buah bangunan di atas tanah yang kira-kira seluas lapangan sepak bola itu terlihat juga. Saya mendekat. Tidak ada tanda-tanda meja resepsionis; tapi ada bel intercom di samping pintu ruang tamu/tunggu.

"Bu, ini Dirga. Saya sudah di depan," kata saya ragu-ragu memencet tombol tengah.
"Oh ya," jawab suara di seberang singkat.

Seorang pria lima puluhan tahun keluar. Ia menggunakan baju batik dan celana kain. Ia nampak tidak ngeh saya akan datang. Karenanya, saya melangkah masuk ke halaman dalam melalui gerbang kecil untuk memperkenalkan diri. Namanya—bila saya tidak salah ingat—Pak Supriyadi; ia membantu pengelolaan penginapan itu. Kami duduk di dua kursi yang berderet di depan kamar untuk menyelesaikan check-in saya terlebih dahulu.

"Bukti pembayarannya mana, Mas?"

Saya sudah membayar sepuluh hari sebelum saya menginap agar dapat kamar. "Maaf, Pak, ini sudah kurang jelas," kata saya menyerahkan setruk ATM yang sebagian pudar karena gesekan dalam dompet, tetapi sebagian lainnya sengaja saya tetesi minyak goreng, terutama informasi lokasi transaksi, untuk memuluskan skenario saya.

Ia mengamati setruk itu beberapa waktu sebelum akhirnya menyelesaikan proses check-in. "Besok check-out-nya jam satu ya, Mas. Nanti kalau Mas masih belum check-out, barang-barangnya yang di kamar akan dipindahkan ke ruang tengah."

Di hadapan saya berderet motor-motor yang hampir semuanya skuter matik. "Khusus untuk disewakan untuk tamu penginapan," kata Pak Supriyadi.

"Saya mau, Pak."

Setelah menambah sehelai 50 ribu dan menjaminkan dua kartu tanda pengenal, kunci motor dan STNK sudah di tangan saya.

"Helmnya nanti bisa pilih sendiri di ruang tengah, nanti saya antar."

Deep Purple Homestay terselip di perkampungan warga. Pemiliknya, Th. Suryanti, mengubah rumah warisan yang ia tinggali sendiri menjadi penginapan sekitar lima atau enam tahun yang lalu. Ada tiga rumah, satunya di lokasi terpisah, tetapi tidak semua milik Bu Anti, sapaan akrabnya. Sebenarnya di sini ada penyewaan mobil juga, tetapi sepertinya bukan buat seseorang yang belum bisa menyetir seperti saya.

"Orang kaya banget ya sampai rumahnya ada tiga," canda wanita berambut ikal terurai dengan tinggi kira-kira 155 cm. "Rumah orang nggak kepake saya pinjem," jelasnya.

Saya sedang di ruang tengah memilih helm. Wanita 60-an tahun itu menanyakan lagi keperluan saya di Yogyakarta, dan saya menjelaskannya dengan semeyakinkan mungkin.

"So, you speak English fluently then," katanya setelah tahu latar pendidikan saya.

Saya mengiyakan sambil menatap mata di balik kaca matanya yang terlihat sedikit dihiasi celak. "You too!" respon saya.

"Usually in conversations, we say 'so do you', not 'you too'." Ibu Anti baru saja secara implisit mengatakan bahasa Inggris saya tidak cukup natural. Dengar-dengar Bu Anti memang dulunya guru bahasa Inggris, tetapi saya tidak mengonfirmasinya secara langsung.

Identitas yang ditawarkan Deep Purple terletak pada warna cat lembut yang mendominasi semua sisi: ungu dan merah muda. Selain, tentu, harganya yang sampai saat itu masih membuat saya bingung.

"Untungnya dapat dari mana, Pak?" tanya saya usil pada Pak Supriyadi.

"Lo, heran, kan? Yang membedakan kamar di sini cuma ukuran ruangan dan ukuran ranjangnya. Fasilitas yang lain sama semua. Kemarin juga ada yang sama kayak Mas. Dia dari Surabaya, terus kehabisan hotel. Nemu di internet di sini, kebetulan pas datang ke sini ada kamar kosong. Dianya sampai terheran-heran. Ada AC, ada TV, ada Wi-Fi, tapi cuma 50 ribu."

Dan semua fasilitas itu berfungsi dengan baik. Ketika sudah sendiri di kamar nomor 3, sambil membuka puasa saya dengan air putih dan susu, saya menyalakan lampu, AC, TV, dan menghubungkan telepon genggam saya dengan jaringan Wi-Fi. TV-nya jernih, AC-nya sejuk, dan Wi-Fi-nya sanggup streaming Youtube tanpa tersangga. Di dalam kamar juga sudah disediakan colokan listrik. Selain itu, ranjang sorong di kamar yang saya tempati juga ditujukan untuk dua orang. Dan semua itu cukup dengan 50 ribu rupiah. Wah!

Namun, berbaring di atas ranjangnya dengan busa tipis dan bantal cokelat, saya mulai memperhatikan hal-hal yang barangkali membuat penginapan ini bisa murah. Ruangan kamar saya kecil, kira-kira 2,5 m x 2,5 m. Berbentuk kubus dengan atap prisma segitiga, ada dua sisi dinding yang tercat ungu, sementara sisi dinding dengan indoor unit AC dibuat dari batako yang rapih tersusun. Di salah satu sisi dinding ungu inilah, terlihat jejak-jejak air yang menandakan seandainya saya datang di kala hujan, mungkin kamar ini sedikit bocor.

Berbeda dengan "hotel bintang" di penginapan murah biasanya tidak disediakan sabun, shampoo, dan handuk, jadi kita harus membawanya sendiri. Kebetulan di dalam kamar saya tidak ada cantolan baju, jadi saya menaruh baju kotor di lantai dan baju bersih di meja telivisi. Gorden ungu gelap yang menutupi jendela lebar di kamar saya juga kurang lebar sedikit sehingga salah satu sisi harus dikorbankan terbuka sedikit.

Lebih lagi, suara menjelajah bebas di antara kamar bersebelahan. Saya menyadari ini dengan cara yang cukup memalukan. Tidak sadar, saat sedang memainkan gawai pintar, saya menyenandungkan nada sumbang dengan suara falsetto. Di kalimat kedua lagu, terdengar tembok sebelah digampar diikuti suara mendesis. Konser saya langsung masuk mode mute.

Namun, saya sadar kembali. Penginapan ini sudah sangat memadai dengan harga hanya 50 ribu rupiah / 2 orang / malam. Rasanya nyaris mustahil bisa menemukan penginapan semurah ini di tempat lain.

Setelah beristirahat sejenak, saya memutuskan mandi. Namun, kamar mandi luar sedang dipakai. Saya mendengar langkah kaki di luar. Saya mengintip dan benar kamar mandi sudah kosong. Saya ingin mengunci kamar dengan gembok yang sudah disediakan, tetapi saya urungkan karena setiap sudut halaman sudah dilengkapi CCTV. Kamar mandi luas bernuansa merah muda itu bersih. Ada wastafel, bak air dengan air berlimpah, cantolan baju, dan toilet duduk. Bau khas air PDAM samar-samar tercium. Tidak lupa, di dinding kamar mandi seperti di banyak sudut lainnya, ada pengumuman hal-hal yang tidak boleh dilakukan di penginapan ini, salah satunya sekamar berdua bagi pasangan belum menikah. Satu-satunya poin minus kamar mandi ini adalah toilet duduk yang tidak hanya sudah rusak penutupnya, tetapi juga nampak bernoda bagian dalamnya.

Selesai mandi saya mencari makan sambil mencoba motor sewaan saya. Tetapi belum jauh berkendara, saya sadar ban motor saya kempes. Saya pulang kembali untuk menukarnya dengan motor lain. Syukurlah, Pak Supriyadi yang sedang memanaskan semua motor sewaan langsung setuju mengganti motor saya.

Saya kembali ke penginapan sekitar pukul sebelas malam. Saya tidak khawatir terkunci di luar; penginapan ini bebas jam malam. Tak lama, saya ke kamar mandi bersih-bersih, lalu ke kamar untuk berbaring. Pikiran saya menjelajah. Saya membayangkan besok bangun pagi untuk ikut wawancara khayalan di kampus. Saya membayangkan pamitan untuk ke bandara karena urusan saya sudah selesai. Saya membayangkan Bu Anti berkata, "Good luck for your master's application. See you!" Namun, tiba-tiba saya sudah di alam tidur saja. Saya tidak sahur pagi itu.

Tips

  • Disarankan memesan kamar dua minggu sebelum menginap untuk menghindari kamar penuh.
  • Disarankan menggunakan transportasi daring untuk menuju ke penginapan ini. Jalan kaki dari Halte TransJogja cukup melelahkan.
  • Disarakankan membawa sendiri peralatan mandi, termasuk handuk, karena tidak disediakan.
  • Disarankan membawa sendiri kabel ekstensi agar memudahkan keperluan gawai-gawai Anda.