5 TIPS TRANSPORTASI HEMAT DI JOGJA
Backpacker Wajib Tahu!

Karena tidak semua tempat di Jogja dapat dijangkau dengan moda transportasi umum, maka 5 tips transportasi hemat ini tentu bisa menjadi solusi agar backpacking-mu tetap aman dan menyenangkan.

Diperbarui tgl 19 November 2018

Yogyakarta, tempat ini memang selalu bisa mencuri hati banyak orang. Sebagai tempat wisata terbesar kedua setelah Bali, Yogyakarta selalu bisa memenuhi hasrat manusia akan suasana baru, petualangan seru hingga budaya yang berbeda. Berbagai tempat menarik ada di Kota Gudeg ini dengan macam-macam menu berbeda yang bisa bebas dinikmati, dari yang mainstream sampai yang mblusuk, dari Pantai Indrayanti sampai ke Puncak Plawangan dan dari wisata belanja di Malioboro hingga menyelami kegelapan di Goa Pindul!

Sayangnya, tidak semua tempat menarik di Yogyakarta bersahabat dengan kantong para backpacker, gaya perjalanan hemat dengan anggaran seminim mungkin. Sistem transportasi umum yang belum berkembang dengan cukup baik menjadi salah satu penyebabnya. Terutama, bila ingin mengunjungi tempat-tempat yang mblusuk atau terletak jauh dari pusat kota. Beberapa lokasi wisata seperti pantai-pantai di Gunungkidul hanya bisa diakses dengan mobil atau motor sewaan, yang tentunya cukup memberatkan kantong. Lantas, bagaimana caranya untuk menikmati Yogyakarta tanpa harus merogoh kocek yang dalam? Simak beberapa pilihan moda transportasi khusus backpacker yang bisa digunakan di bawah ini:

1. Jalan Kaki

Biaya: Gratis

Jika menginap tidak jauh dari lingkungan Keraton Yogyakarta Yogyakarta atau Malioboro, kita bisa berjalan kaki ke destinasi wisata terdekat. Kita bisa mengunjungi beberapa tempat bersejarah seperti Keraton Yogyakarta, Alun-alun Kidul, Museum Sonobudoyo, Pelengkung Gading, Panggung Krapyak, Benteng Vredeburg serta Taman Sari tanpa harus mengeluarkan uang sepeser pun. Semua tempat menarik ini terletak sekitar 1-2 km dari area tersebut.

Selain gratis, berjalan kaki juga memiliki manfaat yang baik bagi tubuh, terutama para backpacker yang sedang diet. Alternatif transportasi ini pun lebih ramah lingkungan karena tidak menyebabkan polusi. Dan yang terpenting adalah kita tak perlu pusing mencari tempat untuk parkir kendaraan. Hanya saja, jika tidak terbiasa berjalan jauh, siapkanlah minyak urut untuk mengatasi pegal-pegal di malam hari.

2. Trans Jogja dan Bus Kota

Biaya: Rp 3.600/orang/satu kali perjalanan (Trans Jogja), Rp 4.000 - Rp 7.000/orang (Bus Kota)

Untuk lokasi wisata yang terletak agak jauh dari pusat kota, kita bisa mengandalkan moda transportasi umum yang tersedia di Jogja, yakni Trans Jogja dan bus kota. Dengan menggunakan Trans Jogja, kita bisa berkeliling Jogja dan turun di tempat-tempat wisata seperti Monumen Jogja Kembali, Pura Pakualaman, berbagai area kuliner dalam kota, hingga Candi Prambanan. Bila disambung dengan menggunakan bus kota, kita bisa mengunjungi lokasi wisata yang lebih jauh seperti Pantai Parangtritis dan Candi Borobudur. Dengan kedua angkutan ini, semua tempat di atas bisa dilakukan hanya dengan merogoh kocek kurang dari Rp 10.000/orang, cukup murah kan?

Meskipun hemat, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika memilih moda transportasi ini. Pertama, baik jalur Trans Jogja maupun jalur bus kota terkadang sulit dimengerti. Kita harus sering-sering bertanya ke petugas/kernet atau mencari informasi jalur tersebut di internet. Kedua, beberapa bus kota memiliki jam operasi yang ketat, sehingga mungkin kita tidak bisa menemukan bus untuk pulang ke hostel setelah jam 4 sore. Jumlah armada yang terbatas kadang juga membuat jengkel karena kita harus menunggu hingga 1 - 2 jam. Terakhir, beberapa bus kota berjalan sangat lambat, sehingga harus benar-benar sabar untuk sampai ke tempat tujuan.

3. Sewa Sepeda

Biaya: Rp 15.000/hari

Selain Kota Gudeg dan Kota Pelajar, Yogyakarta juga memiliki satu julukan lain yaitu Kota Sepeda. Kota ini memiliki cukup banyak fasilitas yang bisa memanjakan para bikepacking alias backpacker bersepeda, seperti jalur khusus, papan penanda jalur alternatif, ruang tunggu khusus di tiap lampu merah, hingga rak parkir yang tersedia di beberapa tempat. Dengan menggunakan sepeda, kita bisa mengunjungi lokasi-lokasi wisata yang memiliki jarak agak jauh dan tidak dijangkau kendaraan umum, seperti Makam Imogiri, Desa Turgo, Kaliadem, Pantai Depok, dan lain-lain. Kita pun bisa menikmati suasana Jogja dengan lebih santai dan tanpa polusi. Asyik, kan?

4. Shared Vehicle

Biaya: sekitar Rp 50.000/motor dan Rp 200.000/mobil (belum termasuk supir dan bensin)

Menyewa mobil atau motor sendirian memang mahal, tapi bagaimana dengan menyewa kendaraan bersama backpacker lain? Ya, kita bisa mencari backpacker lain yang kebetulan sedang berada di Jogja dan merencanakan sebuah perjalanan bersama ke lokasi wisata yang jauh, seperti Goa Pindul, pantai-pantai di Gunungkidul, atau Waduk Sermo. Harga sewa kendaraan bisa dibagi sesuai dengan jumlah orang yang ikut, semakin banyak semakin baik! Misalnya, harga sewa mobil Toyota Avanza Rp 300.000/24 jam bisa dibagi 7 - 8 orang sesuai dengan kapasistas mobil tersebut, sehingga masing-masing orang hanya perlu membayar kurang dari Rp 40.000!

Kekurangan dari sistem shared vehicle ini adalah kesulitan dalam mencari teman yang bisa diajak menyewa mobil untuk pergi bersama-sama. Bila melancong bersama rombongan, hal ini tentu tidak akan menjadi masalah. Tapi bagi seorang solo backpacker, hal ini mungkin sedikit menyulitkan. Solusinya, cobalah bergabung dengan forum backpacker di internet dan utarakan keinginan kita untuk mencari teman sharing kendaraan di forum tersebut. Selain murah, cara ini juga bisa membantu kita mendapatkan teman baru, yang tentunya akan membuat perjalanan jadi lebih menyenangkan.

5. Hitchhiking

Biaya: Gratis

Cara ini mungkin tergolong nekat, tapi cukup berguna bagi para backpacker. Meskipun budaya hitchhiking alias menumpang mobil seseorang belum terlalu dikenal di Indonesia, tidak ada salahnya bila mencoba trik ini. Cukup berikan tanda "jempol ke atas" di pinggir jalan yang sesuai, tunggu hingga ada mobil yang berhenti, lalu utarakan tujuan kita. Tas ransel besar, pakaian agak lusuh dan muka yang memelas mungkin bisa membantu. Butuh waktu yang agak lama sampai menemukan tumpangan dan kita pun tidak tahu siapa orang yang akan memberi tumpangan. Atas pertimbangan keamanan, cobalah untuk menghindari cara ini kecuali jika kita benar-benar terdesak.