4 Rumus Menghalau Galau di Jogja ala Backpacker

Jika kegalauan datang menyambangimu, tak perlulah bingung. Pasalnya, di Jogja ada rumus yang mampu menghalau galau itu.

Diperbarui tgl 19 November 2018

Bepergian ala backpacking kini dipercaya menjadi salah satu obat mujarab untuk mengatasi berbagai kegalauan hidup, mulai dari kegalauan akibat tekanan kuliah, pelajaran, pekerjaan, sampai galau karena urusan hati. Termasuk juga galau karena ingin bepergian namun kocek berada di angka 'cukup'.

Banyak backpacker yang datang ke Jogja berkunjung untuk tujuan tersebut. Mengenyahkan galau dari hidupnya. Terlebih, Jogja memang punya segudang aura manis. Mulai dari gudegnya, orang-orangnya, dan juga tempat-tempatnya. Semua seakan bersinergi memberikan aura semanis gulali di pasar malam. Ah, Jogja.

Percaya atau tidak, ada rumus anti galau ala backpacker di Jogja. Setelah melakukannya ada jaminan 80% lebih kegalauanmu akan berkurang bahkan hilang. Tentunya rumus ini harus dilakukan dengan sesuai dan seksama.

Dan yang harus kamu lakukan pertama-tama adalah menyewa motor, kemudian habiskan satu harimu ke tempat-tempat ini:

1. Menyapa Mereka dari Puncak Suroloyo

Bangunkan dirimu di pagi hari sebelum matahari menampakkan diri. Arahkan perjalananmu ke arah barat Jogja menuju sebuah puncak dari Bukit Menoreh, Puncak Suroloyo. Hawa dingin pagi yang menyergap akan terkurangi karena langkah naik turunmu melewati banyak anak tangga. Sedikit lelah tak menjadi persoalan atas apa yang menantimu di sana.

Saat matahari mulai perlahan naik, apa yang di hadapanmu akan mulai nampak. Dia dengan anggunnya muncul diiringi 4 penjaga setianya. Maka sapalah mereka dengan hati syukur keempat penjaga itu. "Selamat pagi Merapi, Merbabu, Sumbing, dan Sindoro".

Pagi hari, sapaanmu pada mereka akan berbalas energi semangat luar biasa. Tak sempatlah menyisipkan celah galau di hati. Sambil membawa energi pagimu, lanjutkan perjalanan melintasi Jogja menuju timur sambil berdendang.

2. Candi Prambanan

Ratusan candi tersusun rapi sedemikian rupa dengan sistematisnya. Setiap bangunannya pun memiliki pesona yang cantik dan memukau. Entahlah, setiap melihat Candi Prambanan di depan mata selalu seperti menonton sebuah pagelaran besar tanpa akhir.

Matahari yang sudah cukup menyinari bumi Jogja akan membuat kita melihat Prambanan dengan sejelas-jelasnya. Sebuah saksi peradaban masa lampau yang tak ternilai.

Sembari menikmati karya seni luar biasa ini, harusnya kita juga mengambil pelajaran berharga dari mitos yang ada. Alih-alih mencibir sikap Bandung Bondowoso yang mengutuk Roro Jonggrang jadi batu harusnya kita juga menyisipkan empati padanya. Bayangkan bagaimana galaunya Bandung Bondowoso saat itu. Setelah hampir membuat seribu candi dalam semalam, ternyata dirinya ditipu dan ditolak pula oleh orang yang dicintainya. Sakit.

Tak terbayangkan bukan rasanya? Jadi rasanya kita tidak pantas larut dalam kegalauan panjang khususnya untuk urusan hati jika belum merasakan apa yang dialami Bandung Bondowoso.

3. Parang Endog

Menjelang sore, arahkan lajumu ke arah selatan. Melewati Parangtritis dan bergerak menuju bukit bernama Parang Endog. Lokasi yang dituju ini adalah sebuah landasan paralayang. Dari landasan ini sejauh mata memandang adalah hamparan pantai, laut, dan samudera yang dibatasi horizon.

Di parkiran sebelum lokasi akan nampak sebuah warung berdinding bambu milik Yu Mar. Pesanlah sepiring nasi goreng pedas dan segelas kopi atau teh panas. Setelah itu baru langkahkan kakimu menuju landasan dengan pesanan tersebut dalam genggaman.

Menikmati sore di landasan Parang Endog, berbekal nasi goreng pedas Yu Mar dan minuman panas akan menjadi obat anti galau tersendiri. Sembari menyeruput minuman hangat kita menanti sang pemancar cahaya menenggelamkan diri di samudera. Di hati hanya ada rasa syukur akibat keromantisan alam yang tercipta.

Selamat makan, wahai senja.

Satu hari melihat matahari yang terbit dan tenggelam. Bukankah begitu pula harusnya rasa galau. Tidak harus dalam posisi statis melainkan dinamis. Jadi ada saatnya ia muncul dan ada saatnya pula ia harus kita tenggelamkan.

4. Titik Nol Kilometer

Malampun tiba.

Setelah barat, timur, dan selatan terlampau, kembali pulang ke utara. Tujuan pamungkas hari ini, Km Nol. Tidak ada yang istimewa di sini selain melihat orang-orang berfoto, komunitas menggelar aksi, dan melihat kendaraan lalu lalang. Namun dibalik itu semua, titik nol mengingatkan kita akan satu hal. Ada waktu di mana kita harus meng-nol-kan lagi hati dan pikiran. Tak terikat oleh rasa yang membelenggu diri. Mengenyahkan galau, kembali ke nol, dan siap menyambut rasa baru.