10 TEMPAT WISATA YANG BISA DIJANGKAU DENGAN JALAN KAKI
Ketika Jogja Dinikmati dengan Berjalan Kaki

Sebagai kota dengan penataan yang baik, Jogja dapat dengan mudah dijelajahi. Bahkan hanya dengan berjalan kaki, 10 destinasi menarik di pusat kotanya ini pun dapat dinikmati.

Diperbarui tgl 19 November 2018

Setibanya di Jogja dan turun dari Stasiun Tugu, terkadang kita bingung hendak pergi ke mana. Hal ini juga dapat menjadi alternatif bagi mereka yang naik kereta malam dan sampai di Jogja pagi-pagi buta, ketika waktu check in penginapan belum tiba. Walking tour di jantung Kota Jogja merupakan salah satu cara yang patut di coba. Menjelajahi Jogja dengan berjalan kaki tentu memberi kesan tersendiri. Dimulai dari Stasiun Tugu Jogja, kemudian menyusuri Jalan Malioboro, mampir di Pasar Beringharjo hingga berakhir dengan berjalan sambil menutup mata di Alun-alun Kidul pasti menyenangkan.

1. Malioboro

Begitu keluar dari Stasiun Tugu, Jogja, kita akan langsung sampai di Jalan Malioboro. Inilah destinasi pertama yang menjadi surga belanja yang tak kenal kata sepi. Tiap hari, ribuan wisatawan maupun warga lokal memadati nadi Jogja ini. Berbagai hasil kerajinan, batik, benda-benda seni, makanan khas, hingga barang-barang antik digelar di sepanjang bahu jalan berkoridornya. Selain berbelanja, kita juga dapat mempercantik penampilan dengan menambahkan temporary tattoo yang banyak ditawarkan oleh seniman tato di sana. Setelah penampilan makin cantik, maka kita bisa lanjutkan perjalanan ke arah selatan untuk kemudian sampai di Pasar Beringharjo.

2. Pasar Beringharjo

Ketika menyusuri Jalan Malioboro bagian selatan, pasar yang sudah ada sejak tahun 1758 ini pasti akan menarik perhatian. Pasar Beringharjo ini tetap eksis meskipun pasar-pasar modern lain kian menjamur di Jogja. Berhentilah sebentar, coba saja mencicipi ragam kuliner yang dijual di sana. Pecel kembang turi yang langka pasti menggoda selera. Setelah itu, kita bisa berbelanja, mulai dari batik, jejamuan, hasil kerajinan hingga pakaian pengantin yang harganya jutaan bisa kita temukan.

3. Museum Benteng Vredeburg

Hanya berjalan sekitar 350 meter ke arah selatan dari Pasar Beringharjo maka kita akan sampai di Benteng Vredeburg. Benteng yang merupakan loji tertua dari seluruh bangunan Indis yang ada di kawasan Malioboro ini terkenal dengan bastion di keempat penjurunya. Di sini, kita dapat melihat diorama-diorama yang menceritakan kisah perjuangan kemerdekaan Indonesia hingga menikmati makan siang di Indische Koffie, sebuah kafe yang berada di dalam benteng. Suasana klasik dan elegan begitu menyatu dengan bangunan kolonial di sekitarnya. Menu-menu yang disajikan oleh kafe ini pun beragam, mulai dari menu khas Indonesia hingga menu-menu dari Eropa.

4. Nol Kilometer

Usai menikmati makan siang di loji tertua Jogja, berjalanlah keluar sekitar 50 meter. Kita akan sampai di km 0 Jogja. Di sini, kita bisa melihat bangunan-bangunan Indis yang menjulang megah. Selain itu, kita juga bisa melihat tangan-tangan kreatif seniman Jogja menghasilkan street art yang dipamerkan dan dapat dinikmati secara cuma-cuma. Nol kilometer juga menjadi tempat berkumpulnya anak muda Jogja. Bahkan di hari-hari tertentu, sering pula dijadikan tempat pagelaran seni oleh komunitas-komunitas seni Jogja.

5. Taman Pintar

Berjalan 300 meter ke arah timur dari nol kilometer, kita akan sampai di Taman Pintar Yogyakarta. Taman Pintar adalah sebuah ruang rekreasi sains bagi anak-anak. Namun demikian, tak hanya anak-anak saja yang bisa menikmati tempat ini. Orang-orang dewasa pun dapat menjajal pengalaman mendengarkan dinding berdendang atau parabola berbisik. Sepanjang perjalanan menuju tempat ini, mata kita akan dimanjakan dengan pemandangan gedung-gedung Indis yang berjajar rapi di seberang jalan.

6. Museum Sonobudoyo

Puas menikmati sains di Taman Pintar, saatnya melanjutkan penjelajahan dengan menikmati budaya Jogja secara lebih dekat. Berjalanlah ke arah barat sejauh 350 meter dari Taman Pintar, kemudian belok ke kiri menuju Jl. Pangurakan sejauh 140 m, setelah itu berbeloklah ke kanan. Tak sampai 100 meter berjalan, kita akan mendapati sebuah museum yang berisi sejarah kebudayaan Jawa. Sambil berjalan menuju Museum Sonobudoyo, kita akan kembali melewati bangunan-bangunan Indis, lalu masuk ke Alun-alun Utara. Di museum ini, benda-benda antik penanda sejarah dipamerkan. Ada yang asli, ada pula yang berupa replika. Berada di sini juga membuat kita seolah berjalan mengikuti alur sejarah.

7. Kraton

Letak Keraton Yogyakarta hanya sekitar 600 meter dari Museum Sonobudoyo. Selain berfungsi sebagai tempat tinggal raja, Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat juga berfungsi sebagai penjaga nyala kebudayaan Jawa. Di sini kita dapat melihat secara langsung bagaimana budaya Jawa tetap lestari. Beberapa pertunjukan kesenian dapat kita nikmati setiap hari, seperti musik gamelan hingga wayang orang dan pertunjukan tari. Untuk bisa masuk ke dalam keraton ini, kita bisa membeli tiket yang dijual di dua loket. Loket yang pertama di Tepas Keprajuritan (depan Alun-alun Utara) dan yang kedua di Tepas Pariwisata (Regol Keben).

8. Museum Kereta Keraton

Usai menikmati keindahan di tempat tinggal orang nomor satu di Jogja ini, berjalanlah sebentar ke arah Museum Kereta Keraton Yogyakarta yang terletak di kompleks yang sama. Museum ini menyimpan setidaknya 22 unit kereta keraton yang sudah ada sejak berabad-abad silam. Ke 22 koleksi kereta tersebut berasal dari masa pemerintahan HB 1 (1755-1792) hingga HB VIII (1921-1939). Secara garis besar, kereta-kereta keraton tersebut dapat dikelompokkan menjadi dua, yakni kereta yang di buat di dalam negeri dan kereta yang di buat di luar negeri (Belanda, Inggris, Jerman). Kereta-kereta tersebut ada yang merupakan hadiah dan ada pula yang memang sengaja dibuat untuk kepentingan kerajaan. Dengan kata lain, mengunjungi museum ini sama seperti mengunjungi garasi kerajaan dengan koleksi kendaraan yang super antik.

9. Taman Sari

Berjalan sejauh 1,2 km dari Kraton Yogyakarta, maka kita akan sampai di Taman Sari. Ini merupakan tempat di mana kita bisa mengagumi keindahan arsitektur kuno yang begitu indah dan gagah. Selain tiga kolam pemandian yang melegenda, lorong-lorong bawah tanah serta masjidnya pun selalu menjadi daya tarik wisatawan. Mengakhiri perjalanan di istana air ini dengan singgah di Gedung Kenongo merupakan pilihan yang tepat. Di gedung tertinggi dari istana air ini, kita bisa mencoba hal yang sering dilakukan oleh raja-raja pada pemerintahan sebelumnya yakni menikmati golden sunsetnya Jogja. Istirahat sejenak di sini sambil menyaksikan matahari turun ke peraduan sebelum kita lanjutkan perjalanan.

10. Alun-Alun Kidul

Matahari memang sudah turun, tapi bukan berarti perjalanan kali ini berakhir. Berjarak sekitar 900 meter dari Istana Air Taman Sari, Alun-alun Kidul sudah menanti. Dari jauh, lampu odong-odong yang meriah sudah terlihat. Wisatawan maupun masyarakat lokal Jogja silih berganti memadati tempat ini. Di sini, kita bisa berisirahat sejenak sambil menikmati makan malam atau jagung bakar ditemani semangkuk wedang ronde khas Jogja. Perut sudah kenyang, saatnya berpetualang. Berjalan menutup mata sambil berusaha melewati dua pohon beringin kembar di tengah alun-alun, sesederhana itulah petualangannya. Namun lihatlah, banyak orang yang sudah mencoba berulang kali namun tidak berhasil. Konon, hanya orang-orang dengan hati bersih dan positiflah yang dapat melewati dua pohon paling terkenal di Jogja itu.