Berburu 'Hantu' di Tahun Baru

"Ssssst....sssst....." suara memilukan itu terdengar mengagetkan di atas kanopi hutan, memecahkan kesunyian di malam tahun baru itu.

Diperbarui tgl 17 September 2021

Dengan tangan bergetar, kami semua lansung mengarahkan senter ke arah datangnya suara tersebut. Dalam sekejap, sebuah bayangan gelap terlihat terbang dengan cepat dari sela-sela dedaunan yang terkena cahaya senter. Kami terus mengikuti bayangan itu dengan senter, sambil bertanya-tanya makhluk macam apakah yang kami temui kali ini. Kuntilanak kah? Sundel bolong? Atau makhluk-makhluk mengerikan lain?

Ternyata tidak, makhluk itu tidaklah seseram yang kami bayangkan. Ketika bayangan gelap itu berhenti di sebuah ranting, kami baru bisa melihatnya dengan jelas: seekor burung hantu yang cantik dengan warna coklat berbintik kehitaman di seluruh tubuhnya. Matanya yang kemerahan menatap lurus ke arah kami, terletak di antara piringan muka berbentuk hati yang unik. Dengan wajah sumringah kami pun terus mengamati 'target buruan' kami ini dari cahaya senter, menyaksikan si burung cantik ini menelan seekor belalang besar yang baru saja ditangkapnya. Wow!

Ya, si Celepuk Reban atau nama latinnya Otus lempiji merupakan salah satu burung hantu yang umum dijumpai di Yogyakarta-khususnya di daerah pedesaan seperti Pakem, tempat 'berburu' kami pada malam tahun baru beberapa tahun yang lalu. Kami sengaja berkeliaran malam-malam di sekitar desa hanya untuk 'berburu' hewan-hewan malam yang bisa kami temui-bukan untuk ditangkap, melainkan hanya untuk melihatnya secara lansung di alam bebas. Acara sederhana ini memang sengaja kami adakan untuk mengisi malam tahun baru dengan cara yang berbeda, bukan hanya berpesta pora seperti yang dilakukan oleh kebanyakan orang pada saat itu.

Mungkin bagi masyarakat awam, kegiatan pengamatan satwa nokturnal ini terdengar aneh atau bahkan terkesan kurang kerjaan. Ya, buat apa sih keluar malam-malam hanya untuk melihat satwa yang tidak jelas bentuknya? Bukankah lebih baik membelinya di pasar hewan? Hmm, ada banyak jawaban untuk pertanyaan ini. Saya sendiri memang senang dengan pengamatan satwa di alam liar-kegiatan yang jauh lebih baik dan menyenangkan ketimbang membeli dan memelihara satwa liar di pasar hewan, yang jumlahnya sudah mulai berkurang akibat perburuan. Mengamati satwa di alam menjadi media saya untuk tetap terhubung dengan alam, menikmati satwa-satwa penghuninya tanpa merusak perannya di lingkungan.

Nah, pada malam tahun baru itu kami semua memang tidak punya kegiatan khusus untuk dilakukan. Karena bosan, kami pun sepakat untuk mencari berbagai macam satwa yang bisa kami amati di sekitar desa saya, Pakembinangun, sebuah desa kecil di kaki gunung Merapi. Berbekal senter, jaket tebal dan minuman panas dalam tremos, kami menyusuri areal persawahan yang cukup gelap dan minim pencahayaan. Udara dingin yang sejuk khas gunung Merapi dan nyanyian kodok yang gembira akan hujan tadi siang menemani kami sepanjang perjalanan, menghipnotis kami dalam melodi alam yang begitu syahdu menghibur hati.

Ada banyak hewan yang kami temui di sepanjang perjalanan, semuanya mengeluarkan suara yang unik bagaikan hantu di malam hari. Kami melihat katak sawah (Rana cancrivora) yang sedang asyik berburu nyamuk, beberapa jenis serangga dan kelelawar, hingga beberapa jenis ular yang berenang di saluran irigasi pinggir sawah. Ketika kami masuk lebih dalam ke area perkebunan, beberapa jenis hewan yang lebih menarik pun bermunculan. Ada si Celepuk Reban yang kami ceritakan di atas, kemudian seekor Musang Luwak (Paradoxurus hermaproditus) yang dengan cuek melintas di hadapan kami. Puncaknya, kami dikejutkan oleh kedatangan seekor burung hantu berukuran besar-Serak Jawa (Tyto alba), burung hantu berwarna putih dengan jeritan yang angker. Kami pun puas dengan 'perburuan' malam itu dan memutuskan untuk beristirahat di salah satu lokasi dengan view yang bagus ke arah kota Jogja.

Menjelang detik-detik pergantian tahun, kami bertiga duduk memandang kota Jogja di kejauhan, berkelap-kelip dipenuhi lampu terang yang sangat kontras dengan langit gelap di belakangnya. Sepertinya keadaan di sana begitu ramai, penuh dengan orang yang berdesak-desakan demi menyambut tahun baru-sangat berbeda dengan tempat terpencil di tengah sawah ini, begitu sepi dan asri penuh nuansa alami. Sambil menyeruput kopi hangat yang dibawa dari tremos, kami beramai-ramai menghitung detik-detik terakhir tahun 2012 sebelum beralih ke tahun 2013.

"lima, empat, tiga, dua, satu... SELAMAT TAHUN BARU!"

Kami pun saling bersalaman dan tertawa satu sama lain. Tidak ada bunyi terompet, tidak ada musik, hanya suara jangkrik, katak, dan letupan petasan yang berbunyi di kejauhan. Kami semua menikmati momen yang hening di tengah indahnya alam pedesaan di malam hari, sambil memandangi kota Jogja yang dipenuhi letupan kembang api dari segala sisi. Ah, untung saja kami tidak terjebak di keramaian itu, dan bisa melewati tahun baru dengan cara yang benar-benar berbeda kali ini; dekat dengan alam dan penghuninya, tanpa harus merusak fungsinya di lingkungan.

Kami pun pulang dengan mata yang mengantuk, tapi mulut tersenyum lebar. Ada banyak hal yang kami saksikan di malam itu, berbagai macam hewan yang membantu kami lebih menghargai alam dan isinya. Kami pun berjanji untuk terus dekat dengan mereka, dengan alam di sekitar kami, dan berterimakasih atas malam tahun baru yang menjadi luar biasa dengan kehadiran mereka semua di depan cahaya senter kami: para hantu malam di tahun baru. Ya, selamat tahun baru semuanya!