GUNUNG GAMBAR
Sanggraloka di Tapal Batas

Gunung Gambar, Kampung, Ngawen, Gunungkidul
Lihat peta

Terletak di zona karst Baturagung, Gunung Gambar tidak hanya menawarkan jejak sejarah. Bagi para pemburu fajar maupun senja, tempat ini menjanjikan pesona matahari terbit dari balik lapisan halimun maupun surya yang lindap perlahan di batas cakrawala.

Diperbarui tgl 10/17/2016

Lihat foto lainnya (18 foto)

Pos Retribusi

Parkir motor

Buka setiap hari

Malam belum sempurna menyentuh pagi ketika kaki kami menapaki deretan anak tangga menuju puncak Gunung Gambar. Dengan tercepuk-cepuk saya berusaha mempercepat langkah supaya tidak tertinggal terlalu jauh dari si pembuka jalan. Maklum, sudah lama tidak olahraga maupun latihan membuat stamina jauh menurun dibanding dulu. Lagipula ada bayi dalam gendongan yang terus saja bergerak karena terlalu bersemangat. Gunung batu yang tidak terlalu tinggi pun akhirnya terasa begitu melelahkan dan menguras energi.

Selain suara derap langkah rombongan kami dan celotehan bayi, subuh itu seluruh penjuru semesta nyaris sunyi senyap. Hanya kesiur lirih angin dan sesekali kerisik daun yang mengisi ruang dengar. Sambil menghela napas, saya melayangkan pandang ke segala penjuru. Nun jauh di bawah, lampu rumah dan jalanan menyajikan potongan gambar nan indah. Pendar cahaya warna-warni yang membedaki wajah pagi terlihat berkilau indah seperti lautan berlian. Di belakangnya, siluet Gunung Merapi Merbabu terlihat samar. Dengan bahasa yang sederhana, saya pun mencoba menjelaskan semua keindahan tersebut pada Renjana, anak lelaki saya yang turut mendaki untuk pertama kalinya.

Terletak di Kecamatan Ngawen, Gunungkidul yang berbatasan dengan Kabupaten Klaten Jawa Tengah, Gunung Gambar memiliki banyak catatan unik baik dari sisi geologis, sejarah, maupun lokasi. Sama halnya dengan Gunung Nglanggeran yang berada dalam zona karst Baturagung, litologi Gunung Gambar tersusun dari fragmen material vulkanik tua. Secara visual tempat ini tidak menyerupai gunung tinggi pada umumnya, melainkan bukit dengan puncak berupa bongkahan batuan karst berukuran besar.

Menurut kisah yang dituturkan oleh juru kunci Gunung Gambar, Mbah Supodo, dulunya kawasan ini bernama Alas Gempol. Konon pada masa keruntuhan Majapahit, tempat ini dijadikan lokasi pelarian sekaligus pertapaan Ki Ageng Gading Mas. Kala itu Ki Ageng Gading Mas meminta kepada pengikutnya untuk mengiriminya makanan tiap 3 hari sekali, kemudian berubah menjadi 7 hari sekali, 40 hari sekali, dan yang terakhir adalah setahun sekali. Berabad-abad kemudian, tradisi mengirimkan persembahan suci (srada) setahun sekali kepada Ki Ageng Gading Mas yang moksa di Gunung Gambar tetap hidup lestari dan dikenal dengan istilah Sadranan.

Sadranan di Gunung Gambar berbeda dengan Sadranan di kampung-kampung Jogja. Jika Sadranan kampung berupa bersih-bersih makam yang dilangsungkan sebelum bulan puasa, maka acara budaya Sadranan di Gunung Gambar dilangsungkan pada masa panen tani ke dua (sekitar bulan Juli), tepatnya hari Senin Legi atau Kamis Legi (kalender jawa). Pada perayaan Sadranan, Gunung Gambar yang biasanya sepi akan riuh dengan arak-arakan hasil bumi dan sesaji serta aneka pertunjukan budaya.

Perubahan nama dari Alas Gempol menjadi Gunung Gambar terjadi pada masa hidup Raden Mas Said sekitar abad ke - 17. Konon, pada masa itu Raden Mas Said yang juga dikenal dengan nama Pangeran Sambernyowo bertapa di Alas Gempol guna mencari wangsit bagaimana caranya mengusir VOC dari Kartasura. Di puncak gunung batu tersebut sang pangeran mendapatkan wangsit berupa gambaran strategi yang sebaiknya beliau gunakan saat berperang. Sejak saat itulah kawasan tersebut berubah nama menjadi Gunung Gambar. Hingga saat ini di puncak Gunung Gambar terdapat Batu Kong yang konon menjadi tempat duduk Pangeran Sambernyowo. Di batu ini juga terdapat jejak tangan dan kaki pangeran.

Selepas Pangeran Sambernyowo menjadi raja, daerah Ngawen tempat adanya Gunung Gambar masuk ke dalam wilayah Praja Mangkunegaran Solo. Ngawen menjadi wilayah enclave, yakni daerah yang dikelilingi atau berada di wilayah negara lain (Kasultanan Yogyakarta). Alih status Ngawen dari wilayah Kabupatan Wonogiri ke dalam wilayah pemerintahan Kabupaten Gunungkidul baru terjadi pada tahun 1957. Meski secara administratif masuk ke wilayah Yogyakarta, secara budaya kawasan Gunung Gambar masih bertalian erat dengan Pura Mangkunegaran. Bahkan hingga kini, bendera yang berkibar di puncak Gunung Gambar pun bendera Mangkunegaran.

Bagi para penikmat kisah-kisah sejarah, anjangsana ke petilasan Ki Ageng Gading Mas dan petilasan Pangeran Sambernyowo di puncak Gunung Gambar akan memberikan kesenangan sendiri. Sedangkan bagi Anda yang tidak begitu gemar mengunjungi situs-situs bersejarah, Gunung Gambar memiliki pesona tersendiri sehingga layak untuk didatangi. Meski akses untuk mencapai kawasan ini terbilang sulit, tapi semua perjuangan itu akan sebanding dengan keindahan yang diperoleh.

Seperti pagi itu, saya disuguhi lanskap fajar yang menawan. Lepas dari anak tangga yang mengular, saya dan rombongan tiba di puncak gugusan batu yang berpayungkan pohon akasia. Sejauh mata memandang yang terlihat adalah gugusan perbukitan yang berlapis-lapis hingga kaki langit. Kemudian dari balik awan muncul bulatan merah yang terus naik dengan diam-diam, hingga tanpa disadari sudah berada di tempat tinggi memamerkan kemilau cahaya keemasan. Kabut putih serupa selubung kepompong tipis perlahan tercerai hingga menampakkan wujud asli semesta. Burung-burung pun berkicau riuh, membuat kawasan Gunung Gambar menjadi semarak.

Lelaki kecil saya yang baru berusia 19 bulan pun larut dalam tawa. Tubuh mungilnya yang asyik mengumpulkan daun-daun kering terlihat bercahaya di tengah guyuran sinar matahari pagi yang keemasan. Ibu mana yang tak berbahagia menyaksikan pemandangan seperti itu? Lelah akibat menggendongnya mendaki anak tangga pun luruh sudah. Semua terbayar lunas.

Tak hanya orkestra pagi yang sempurna, jika datang sore hari Anda pun bisa menikmati panorama senja. Bahkan tak harus berlelah-lelah mendaki hingga puncak, Anda cukup duduk santai di pendopo besar yang menghadap tepat ke Gunung Merapi dan Merbabu. Jika sedang tidak tertutup awan, pergerakan mentari yang kembali ke peraduannya akan terlihat jelas, lengkap dengan suguhan langit yang berubah warna. Usai menikmati senja, tak usah buru-buru kembali ke kota. Dirikan saja tenda di kawasan Gunung Gambar dan nikmati malam di tempat ini. Kalau pun tak membawa tenda tak usah khawatir, di tempat ini terdapat pendopo yang bisa dijadikan tempat bernaung. Dari pendopo tersebut lautan cahaya yang bersinar di malam gelap terlihat sangat jelas. Selain pendopo, ada pula gazebo-gazebo yang terletak di puncak bukit.

Sebagai salah satu destinasi wisata religi dan petilasan, Gunung Gambar memang belum sepopuler tempat-tempat wisata Gunungkidul lainnya. Namun justru karena keheningannya tempat ini mampu menjadi sanggraloka bagi jiwa. Karena pesonanya pula kawasan Gunung Gambar dipilih sebagai lokasi syuting film "Surga yang Terluka" dengan bintang utama aktris kawakan Indonesia, Christine Hakim. Sedangkan bagi saya, Gunung Gambar adalah tempat pertama dimana saya mengajak buah hati mendaki sekaligus mengenalkannya pada arunika, cahaya mentari pagi yang teramat indah. Semoga hingga dewasa kelak dia akan teringat tentang sepotong pagi nan indah di Gunung Gambar.

Cara menuju ke sana:
Jogja - Jl. Jogja Wonosari - belok kiri di pertigaan Sambi Pitu - belok kiri di pertigaan ibu kota kecamatan Ngawen - 100 meter kemudian belok kiri - ikuti jalan hingga Gunung Gambar