GUMUK PASIR PARANGKUSUMO
Adrenalin Terpancing dengan Sandboarding

Jl. Pantai Parangkusumo RT 1, Grogol 10, Kretek, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta 55772
Lihat peta

Di atas pasir, badan otomatis bergerak meliuk-liuk. Layaknya pemain snowboard, dengan papan luncur tubuh menderas menuruni lereng bukit pasir yang membentang di Gumuk Pasir Parangkusumo.

Diperbarui tgl 4 September 2018

Lihat 11 foto Gumuk Pasir Parangkusumo

Jam Buka Gumuk Pasir Parangkusumo
Senin - Minggu: pukul 07.00 - 18.00 WIB

Tiket Masuk Kawasan Pantai Parangtritis, Parangkusumo, dan Depok (2018)
Rp8.000

Harga Menyewa Sandboard
Rp70.000 (wisatawan lokal)
Rp100.000 (wisatawan mancanegara)

Saya masih berusaha berdiri seraya mengumpulkan keyakinan di atas papan yang panjangnya satu meter. Pun masih mencoba menepis rasa takut tatkala mendapati lintasan di bawah papan yang cukup membuat tegang. Tarikan napas semakin berat ketika sesekali saya mencuri pandang ke bawah. Saya makin was-was bagaimana jika nanti saya jatuh dan tidak akan selamat. Namun, tiba-tiba...

"Aaaaaaa...!!!"

Dengan tanpa menanyakan kesiapan saya, pemandu sandboarding mendorong papan luncur di bawah kaki dan dengan serta merta saya meluncur dari atas bukit pasir. Meski di balik kejahilan pemandu itu saya tahu maksudnya ingin membantu saya mengalahkan pikiran takut di dalam benak dengan langsung menjajal meluncur. Awas saja, setelah ini dia akan saya maki-maki!

Badan saya membelah angin sore di gumuk pasir seiring dengan meluncurnya papan. Sejurus kemudian badan saya mulai tak seimbang lantaran laju papan semakin kencang. Beberapa kali saya mencoba melakukan gerakan untuk menyeimbangkan badan. Namun, pada akhirnya saya tetap terjatuh juga di lereng gundukan pasir. Untungnya pikiran tentang jatuh dan tidak selamat tadi hanya kekhawatiran saya belaka. Saya masih bisa berdiri, dan sialnya saya malah penasaran pengin mencoba sandboarding lagi. Rencana saya memaki-maki pemandu juga seketika menguap begitu saja.

Secuil keseruan inilah yang dapat dinikmati saat menjajal permainan sandboarding di gumuk pasir Parangkusumo, Desa Parangtritis, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Gundukan pasir hitam keabu-abuan yang menggunung di utara Pantai Parangkusumo itu menjadi tempat berkumpul para wisatawan—yang kebanyakan berusia muda—untuk menjajal permainan sandboarding. Melalui sebuah papan luncur itu adrenalin seakan berada di titik klimaks. Lebih-lebih saat tubuh mulai menderas turun. Karena kegiatan ini cukup digolongkan ekstrem, kami dipandu Defi Irwansyah, pemandu sandboarding yang turut menjadi pengurus penyedia layanan permainan sandboarding—bermarkas di pinggir gumuk pasir Parangkusumo—semenjak permainan ini eksis.

Bersama tim YogYes yang lain saya menikmati keadiwarnaan gumuk pasir Parangkusumo dengan meluncur di badan tubuhnya. Perlu berjalan menuju gundukan besar pasir untuk sampai di tempat luncur. Sore hari menjadi waktu yang tepat untuk meniti hamparan serpihan besi. Selain sinar matahari sudah tidak terlalu panas dan suhu pasir sudah turun, kita bisa sekaligus menikmati lanskap pohon-pohon cemara udang di pesisir pantai disepuh warna jingga. Sudah ada beberapa spot foto yang memang sengaja ditaruh di sekitar gumuk pasir. Yang paling terbaru adalah deretan tanaman bunga matahari dan jengger yang membentuk lambang cinta. Ada pula ayunan, tulisan Gumuk Pasir, pohon kaktus, dan gardu pandang dari bambu.

Sudah dari tahun 2015 permainan sandboarding ada. Berawal dari adanya olahraga snowboarding, salah satu pengurus penyedia layanan sandboarding terinspirasi jua untuk membuat permainan sandboarding. Mahalnya harga papan luncur, membuat para pengurus harus putar otak. Dengan berbekal melihat video pembuatan papan luncur di Youtube, mereka menciptakan papan luncur sendiri. Dengan tetap menjaga kualitas sesuai standar, jadilah sandboard yang saya fungsikan untuk meluncur di gumuk pasir. Bahkan, menurut Defi, para pengurus juga telah memodifikasi pembuatan papan luncur khusus untuk para wisatawan mancanegara bertubuh lebih tinggi dengan membuat papannya yang lebih panjang.

"Kita bisa memodifikasi agak lebih panjang untuk ukuran orang luar, yang pendek untuk orang Indonesia. Yang pendek sekitar 90 (sentimeter) sampai satu meter, yang panjang 150-an (sentimeter)," jelas Defi.

Sandboard-sandboard sore itu meluncur menembus angin yang bertiup dengan lembutnya di gumuk pasir ini. Sesekali angin itu menerbangkan pasir-pasir dan menghambur di kaki. Angin ini pulalah yang membawa suara deburan ombak yang terdengar cukup jelas dari pesisir selatan. Pun fenomena gumuk pasir tak luput dari bantuan si udara bergerak ini.

Pada mulanya, fenomena gumuk pasir ada lantaran penumpukan endapan pasir dalam jumlah yang banyak di pesisir pantai selatan Yogyakarta. Pasir-pasir ini berasal dari aktivitas Gunung Merapi yang memuntahkan lahar dan material vulkanik. Pasir hasil letusan Merapi berpindah ke pesisir pantai selatan dengan dibantu aliran-aliran sungai yang bermuara di laut selatan, yakni Sungai Opak dan Sungai Progo. Endapan-endapan pasir itu bertahun-tahun menumpuk hingga jumlahnya menjadi besar. Lalu Eolian—nama peristiwa angin—menerbangkan pasir-pasir dari laut menuju daratan dan membentuk hamparan pasir. Berkat angin jugalah yang mengukir gumuk pasir yang membentuk bukit-bukit dan lembah, menjadi bentang alam yang unik. Masing-masing bukit pasir memiliki sudut elevasi dan panjang lintasan seluncur yang berbeda, sehingga gumuk pasir Parangkusumo menjadi bentang alam unik satu-satunya di Asia Tenggara.

Bukit-bukit pasir itu ada yang curam, ada pula yang landai. Bermain sandboarding tentunya bukan asal meluncur di pasir saja. Namun, tetap ada aturan yang harus dipatuhi terutama untuk pemain pemula. Pemandu biasanya akan menginstruksikan untuk meluncur di bukit yang landai dan lereng yang pendek terlebih dahulu, baru ke bukit yang lebih curam dan panjang lintasannya. Hal ini dilakukan untuk meminimalkan kecelakaan.

"Memang tahapannya sandboarding itu dari yang landai, baru nanti ke yang agak tinggil. Untuk meminimalkan kecelakaan," ujar Defi Irwansyah.

Saya baru bisa menjajal bukit urutan kedua dengan ketinggian medium. Itu pun masih terjatuh berkali-kali. Namun, meski sering terjatuh dari papan luncur, hati ini tak gentar untuk mencoba dan terus mencoba bermain sandboarding. Dalam bermain sandboarding ini, selain harus menyingkirkan rasa takut, juga harus memiliki ketertarikan dan rasa senang pada sandboarding terlebih dahulu. Sebab, jika tidak, gagal demi gagal bermain sandboarding akan sulit untuk dilewati.

Tubuh kami yang mulai gatal lantaran bercampur dengan serpihan pasir, memaksa kami untuk segera pulang membersihkan diri. Fenomena gradasi warna langit terlihat perlahan berubah dari biru menjadi kemerahan. Padang pasir yang menghampar luas berubah menjadi siluet hitam di layar kamera membuat kami harus mengakhiri petualangan di hari itu.

Cara menuju ke sana:
Dari Titik Nol Kilometer - Jl. Panembahan Senopati - Jl. Brigjen Katamso - Jl. Mayjen Sutoyo - Jl. Parangtritis sejauh 25 kilometer - Jl. Pantai Parangkusumo - Gumuk Pasir Parangkusumo ada di sebelah kanan

Tempat Wisata dekat Gumuk Pasir Parangkusumo

Catatan: semua jarak diukur over the air