TAMAN TINO SIDIN
Tetenger Guru Gambar Sejuta Murid

Jl. Tino Sidin No.297, Kadipiro, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta
0274 618846

Lihat peta

Dia adalah guru gambar sejuta murid yang tayang di layar kaca TVRI selama dua puluh tahun. Tino Sidin namanya. Sayang, nama beliau tidak lagi familiar di telinga generasi milenial.

Diperbarui tgl 7/3/2018

Lihat foto lainnya (14 foto)

Tiket Masuk Taman Tino Sidin (2018)
Rp5.000

Jam Buka Taman Tino Sidin
Setiap hari pukul 09.00 - 16.00 WIB

Bagi generasi X dan Y, Tino Sidin sudah menjadi household name. Uhm, setidaknya bagi mereka yang punya akses TV pada waktu itu. Melalui program kelas TV-nya berjudul "Gemar Menggambar", pelukis yang lahir di Sumatera Utara 1925 ini setia mengajari anak-anak Indonesia dari tahun 1969 - 1989 cara menggambar yang mudah diikuti. Muridnya mulai dari seniman, seperti Ugo Untoro; pejabat tinggi, seperti Sri Mulyani; hingga masyarakat luas yang tak bisa dicari tahu satu persatu. Bukan tanpa alasan, jadinya, bila ia digelari "guru dengan sejuta murid".

Namun kasusnya berbeda bagi generasi milenial. Nama Tino Sidin terdengar tidak familiar. Saya sendiri baru pertama kali mendengar nama ini dua bulan yang lalu. Figur yang barangkali begitu dekat dengan orang tua mereka ini, bukan siapa-siapa buat mereka. Untuk alasan inilah, pada tahun 2014, keluarga Tino Sidin bekerjasama dengan Kemendikbud meresmikan Taman Tino Sidin yang lebih lanjut pada tahun 2017 direvitalisasi dengan penambahan patung Pak Tino karya pematung Yusman di bagian depan bangunan.

Mari kita mulai dari sini. Bangunan tiga lantai memanjang sejajar dengan jalan yang ada di depan kita sebenarnya adalah rumah tinggal Pak Tino dulunya. Akan tetapi, berkat tangan dingin Yoshi Fajar Kresno Murti, arsitek lulusan Atma Jaya Yogyakarta, rumah tinggal ini bertambah fungsi menjadi sekaligus museum memorabilia dan karya Pak Tino, ruang pameran, perpustakaan, dan kelas kesenian. Secara visual depan, yang pertama kali menarik perhatian kita dari bangunan seluas 400 meter persegi ini selain patung raksasa perunggu di atas andesit adalah kesan out-of-the-box detail pagar garasi yang dihias dengan genteng, seakan-akan pagar itu adalah atap. Detail ini, tidak hanya mengejutkan, tetapi juga amat memberi kenikmatan visual.

Memasuki ruang pertama di lantai dasar, yakni ruang museum, kesan ini makin menjadi-jadi. Kita lihat dinding bata yang dirancang dengan pola seperti anyaman rotan. Lalu, langit-langit beton yang nampak dicetak dengan gedheg sehingga didapatkan kekuatan beton dengan pola indah anyaman. Tidak sampai di situ, mata kita juga dimanja dengan kontras material yang digunakan sang arsitek: cerah warna kayu kontras dengan gelapnya beton mentah, putih-datar dinding plester kontras dengan jingga-pola batu bata. Karena ini semua, seni arsitektur Taman Tino Sidin pantas mendapat perhatian kita tersendiri, selain tentunya seni lukis dan sketsa di lantai satu dan dua yang memang menjadi pameran utama taman ini.

Ada sekitar tiga puluh lukisan cat minyak dan akrilik karya Tino Sidin yang dipamerkan di dinding-dinding taman tetenger ini. Kebanyakan mengambil objek tunggal dari kehidupan sehari-hari yang dipresentasikan dengan gaya yang meski cenderung realis, tidak terkesan photographic. Misalnya, yang paling dominan, lukisan yang mengambil objek anak-anak seperti "Gadis dan Boneka" dan "Gadis dan Kupu-Kupu". Lain dari pada itu, ada pula lukisan-lukisan pemandangan (kebanyakan pantai); lukisan ekspresionisme, yakni "Ayam Bertarung" yang mirip komposisi warnanya dengan "Ayam Tarung"-nya Affandi; dan lukisan naratif besar tentang Jaka Tarub dan tujuh bidadari.

Namun dibandingkan memandangi lukisannya, saya lebih senang berdiri dan memperhatikan goresan sketsa-sketsa Pak Tino, baik yang BW maupun yang berwarna. Dengan sketsa, kita tidak hanya diundang untuk membayangkan ceritanya sendiri, tetap juga mengisi detail visual yang memang hanya menyaran saja. Saya senang, misalnya, dengan sketsanya dari tahun 1967 berjudul "Pasar Burung Ngasem". Di sini, goresan spidol hitam Pak Tino berhimpit yang semerawut tetapi tetap mewujud menangkap dengan tepat suasana hiruk-pikuk sebuah pasar burung.

Ada seratus lebih sketsa Pak Tino, jauh lebih banyak dari lukisannya. Alasannya, bisa jadi karena lukisan lebih banyak memakan waktu, sesuatu yang dihalangi oleh banyaknya kesibukan Pak Tino selama hidup, seperti yang diungkapkan Panca Takariyati (Bu Titik), anak bungsunya. Namun bisa juga karena Pak Tino memang lebih senang sketsa. Bagi Pak Tino sketsa berfungsi seperti kamera: mengabadikan suatu tempat yang ia kunjungi. Akan tetapi lebih dari itu, sketsa juga mengekspresikan kesan pertamanya akan suatu tempat. Baginya, sketsa bukan rancangan konsep sementara untuk lukisan, tetapi--memelintir Kant--das ding für sich. Ia berbeda dengan sebagian pelukis yang menggunakan sketsa sebagai konsep, seperti misalnya Michael Angelo yang membuat sketsa kapur untuk rancangan "Libyan Sibyl". Bagi Pak Tino, sketsa adalah tujuan akhir itu sendiri.

Di lantai pertama, ada pula pameran memorabilia Tino Sidin yang ia kumpulkan sendiri. Bu Titik menjelaskan bahwa selama hidupnya Pak Tino memang senang menyimpan benda-benda yang punya nilai personal baginya. Di dalam kotak-kotak kaca, ada misalnya benda-benda yang sangat personal seperti kemeja batik, peci, dan tasbihnya. Di etalase, ada produk-produk pentel yang menjadi favorit Pak Tino dulunya. Ada pula karya-karya bukunya, baik teori menggambar maupun komik. Akhirnya, ada juga dokumen-dokumen legal, seperti tanda terima honor dari TVRI sejumlah tiga ribu rupiah untuk satu episode "Gemar Menggambar" dan tanda terima bantuan uang dari Soeharto untuk membeli rumah yang sekarang menjadi Taman Tino Sidin.

Pak Tino memang dekat dengan pejabat-pejabat tinggi di masanya. Ia dekat dengan Soeharto karena pernah menjadi guru gambar Gendis, cucu Soeharto; dan ia kenal dengan Soekarno karena pelukis berkacamata ini mendalami ilmu spiritual sehingga dianggap berguna bagi keamanan bangsa saat Orde Lama. Akan tetapi, kesan punya ilmu magis ini tidak nampak sama sekali saat Mas Lannang, pemandu di Tino Sidin, atas permintaan saya yang penasaran mencoba dituntun Pak Tino, memutarkan salah satu episode "Gemar Menggambar". Dengan topi baretnya, giginya yang tanggal beberapa, kacamata bulat besarnya yang membingkai dua mata yang sering melirik ke script di arah samping kamera, tidak ada yang magis sama sekali nampaknya. Apapun itu, saya memang tidak mendongak ke arah TV 70" untuk belajar ilmu magis; saya ingin belajar menggambar.

Maka, setelah diberi kertas dan spidol oleh Mas Lannang, mengikuti Pak Tino di layar kaca, saya membuat garis lurus, membuat garis lengkung. Pak Tino memulai dengan menggambar bagian paling mendasar dari suatu objek dan mulai menambahkan detail dari sana. Garis ini dan itu, warna ini dan itu, akhirnya jadilah burung-burung. Dalam pengajaran Pak Tino memang garis memegang peranan kunci. Bagi Pak Tino, elemen visual paling mendasar ini adalah alphabetnya menggambar: semua hal bisa digambar dengan hanya dua bentuk ini. Dan tentu, tenang saja, hasilnya pasti "Bagus!", menurut Tino Sidin. Hanya saja, hanya satu dari dua puluh tahun rekamannya di TVRI yang sekarang sudah direstorasi karena kendala biaya. Bila sekarang-sekarang pengunjung datang, pastilah yang digambar burung-burung juga.

Melangkah ke lantai dua dan tiga, selain koleksi lukisan dan sketsa yang sudah saya sebutkan di atas, akan kita jumpai ruang kelas dan perpustakaan. Setiap sabtu, Bu Titik akan duduk bersimpuh di ruang kelas, mendampingi beberapa anak-anak TK dan SD yang sudah menjadi peserta sesi belajar menggambar. Pendekatan mengajar Bu Titik mempertahankan kepercayaan ayahnya yang menganggap hal terpenting yang patut ditanamkan pada anak-anak adalah kepercayaan diri untuk kreatif, karena kreatifitas tidak ada batasnya. Sementara itu, di ruang perpustakaan yang terbuat dari kayu seluruhnya, tersimpan koleksi buku-buku yang kebanyakan buku anak-anak dan buku kebudayaan, sebagian koleksi pribadi Pak Tino sendiri. Seperti lazimnya perpustakaan pelukis lainnya, ada buku-buku lukisan; saya sempat membuka buku-buku tentang Van Gogh dan Arie Smith. Saya mengakhiri liputan saya hari itu dengan berfoto berdua dengan Bu Titik yang berharap saya mengabarinya bila tulisan saya sudah selesai.

Cara menuju ke sana:
Dari Titik Nol Kilometer - Jl. KH. Ahmad Dahlan - Jl. Yogyakarta - Wates - Jl. Tino Sidin