PASAR KANGEN
Mesin Waktu untuk Menjelajah Yogyakarta Versi Dulu

Orang menganggap jelajah waktu sebagai sesuatu yang hanya ada di dunia fiksi. Namun, di Pasar Kangen, jelajah waktu itu nyata adanya. Kita bisa merasakan atmosfer kurun waktu bertahun-tahun silam.

Diperbarui tgl 7/18/2018

Lihat foto lainnya (21 foto)

Pelataran bangunan Taman Budaya Yogyakarta (TBY) diubah dengan stan-stan tradisional yang atapnya terbuat dari daun tebu kering. Setiap stannya disangga oleh bambu-bambu panjang dan terdapat meja yang bertutup kain jarik. Di atas meja, aneka kudapan tradisional ringan dan berat telah tertata rapi di tampah. Ada juga komponen makanan yang ditempatkan dalam perkakas rumah tangga tradisional yang lain seperti tempayan dan tumbu. Bermacam santapan yang dijajakan adalah santapan tradisional di Yogyakarta dan sekitarnya, yang dulu pada zamannya mudah dijumpai. Yang tak kalah tradisionalnya adalah busana kebaya dan surjan yang dikenakan para penjajanya.

Itulah Pasar Kangen. Event tahunan yang mencoba mendatangkan berbagai macam kuliner tradisional. Kuliner-kuliner ini pastinya akan mengaduk-aduk memori dan kenangan masa lalu pengunjungnya tentang Yogyakarta. Sebut saja cenil, lopis, grontol, clorot, geblek, thiwul, wedang uwuh, kipo, dan hawuk-hawuk. Mungkin, bagi orang yang pernah muda di Jogja, Pasar Kangen adalah lorong untuk menjelajah masa lalu.

Jika bisa bercerita, aneka kudapan tradisional di Pasar Kangen barangkali akan berkisah tentang perubahan Yogyakarta dari berkurun-kurun waktu silam. Juga tentang betapa menyedihkannya mereka yang tidak bisa berjejer dengan penganan ber-packaging lebih menarik di rak-rak supermarket atau minimarket yang sekarang sudah mulai menjajah ke desa-desa.

Tidak hanya kuliner-kuliner tradisional saja yang ada di Pasar Kangen. Masih ada barang-barang lawasan dan antik saat memasuki lorong-lorong teras TBY. Majalah edisi lama, wayang kardus, cincin akik, topeng kayu, kaset lawasan, piringan hitam, poster zaman dulu, kaos motif lawasan, koleksi buku kuno, dan masih banyak barang yang lain digelar di lapak-lapak. Tempat ini bisa menjadi pilihan berbelanja untuk melengkapi barang-barang antik di rumah. Kita bisa melakukan tawar menawar dengan penjual layaknya di pasar tradisional atau mengobrol tentang bagaimana benda lawas itu didapat.

Pasar Kangen adalah zona di mana nilai-nilai kemanusiaan akan saling dipupuk bersama. Benang-benang relasi antara pembeli dan penjual akan terbangun, yang mana tidak akan ditemukan di pasar modern. Mengingat kembali aktivitas-aktivitas sederhana di pasar tradisional akan memberikan ruh lagi bila pasar bukan hanya menjadi tempat peristiwa ekonomi, tetapi juga peristiwa sosial.

Pasrawungan Ajur-Ajer, begitulah para panitia mengusung tema Pasar Kangen yang sudah dilaksanakan ke-11 kalinya ini. Dari tema itu, jika dilihat maknanya, setiap pengunjung diharapkan dapat melebur-menyatu dalam pertemuan atau pergaulan pada event Pasar Kangen bersama para pengunjung lain, penjual, pementas, dan tentu saja para pengurus acaranya.

Pasar Kangen sampai saat ini sudah memasuki hari ke-6 sejak dibukanya acara pada 7 Juli 2018. Acara ini dihelat hanya sampai 16 Juli 2018 mendatang. Hadir pula memanjakan pengunjung, 40 lebih kelompok kesenian tradisional. Mereka akan menunjukkan kebolehannya di panggung Pasar Kangen setiap harinya. Kelompok kesenian tradisional itu didatangkan dari daerah-daerah di Yogyakarta, antara lain berupa keroncong, jathilan, reog, wayang orang, ketoprak, wayang kulit, dan lengger tapeng. Atmosfer tempo dulu akan semakin pekat dengan adanya kesenian tradisional ini. Nostalgia di Pasar Kangen dapat dilakukan mulai pukul 11.00 sampai 21.00 WIB tanpa adanya tiket masuk.