KAMPUNG BATIK GIRILOYO
Usung Pesona Batik Tulis Warna Alami

Jalan Imogiri Timur Km 14 Yogyakarta
0819 1288 9075 0819 1288 9075

Lihat peta

Presiden Jokowi pernah beberapa kali menggunakan batik tulis khas Giriloyo. Bahkan Ibu Iriana Jokowi sendiri yang berbelanja ke Kampung Batik Giriloyo untuk Pak Jokowi.

Diperbarui tgl 28 September 2018

Lihat 15 foto Kampung Batik Giriloyo

Waktu Buka Kampung Batik Giriloyo
Setiap hari pukul 08.00 - 16.00 WIB

Harga
Batik Tulis Rp400.000 - Rp3.000.000
Batik Cap mulai Rp200.000
Paket Wisata Belajar Membatik mulai Rp250.000 (minimal 5 orang)

Gempa Yogyakarta tahun 2006 silam telah menyisakan duka yang mendalam bagi warga Kecamatan Imogiri—salah satu wilayah yang memiliki banyak dampak korban jiwa dan kerusakan bangunan. Akibat bencana itu, pundi-pundi kegiatan ekonomi di Imogiri menjadi lemah sampai hampir mati. Penduduk Imogiri pun masih dirundung rasa trauma bila sekonyong-konyong gempa susulan datang.

Tekanan mental yang dialami penduduk Imogiri sangat besar pengaruhnya bagi perkembangan perekonomian di wilayah yang sebelumnya telah menjadi sentra batik tulis ini. Penduduk masih kerap diselimuti rasa takut dan cemas lantaran mimpi buruk ganasnya bencana gempa itu semakin membenam dan terus-menerus meracuni pikiran mereka. Kesedihan berkepanjangan membuat keadaan semakin terpuruk. Padahal roda kehidupan mau tidak mau harus tetap berjalan, agar selamanya tidak akan terpuruk dan mengandalkan bantuan orang lain.

Keadaanlah yang memaksa mereka bangkit dari keterpurukan. Sebuah sarana pun diperlukan untuk menghilangkan trauma warga. Sekumpulan warga di Imogiri akhirnya mencetuskan ide untuk membangun Kampung Batik Giriloyo pada tahun 2008. Mereka mencoba mengumpulkan semangat lagi untuk melestarikan budaya peninggalan nenek moyang. Pundi-pundi ekonomi pun perlahan mulai membaik. Pengunjung Kampung Batik Giriloyo menghasilkan dampak ekonomi yang signifikan di daerah yang sebelumnya memiliki keterbatasan ini.

Saat ini, Kampung Batik Giriloyo telah menaungi 12 kelompok batik. Sebagian besar anggotanya adalah ibu-ibu warga setempat. Mereka biasa mengerjakan kain batik di rumah masing-masing. Keterampilan batik yang mereka jadikan mata pencaharian ini sekaligus sebagai upaya untuk mempertahankan budaya batik dari kerajaan Mataram. Membatik sendiri sudah dilakukan oleh warga Giriloyo sejak abad XVII.

Setiap harinya terdapat pengrajin batik yang menampilkan kebolehannya di ruang-ruang terbuka Kampung Batik Giriloyo. Tak jarang pula di tempat itu akan dipenuhi peserta wisata belajar membatik yang biasanya peserta merupakan anggota keluarga, siswa sekolah, anggota instansi, atau turis mancanegara. Dalam waktu 1,5 sampai 2 jam, mereka akan diberi penjelasan sejarah batik Giriloyo dan diajari cara membatik oleh pengrajin-pengrajin batik penduduk sekitar. Hasil karya berupa kain batik berukuran 35x35 cm dapat dibawa pulang sebagai cinderamata.

Iringan kanan bangunan Kampung Batik Giriloyo dijadikan ruang pamer kain-kain batik tulis. Ratusan batik tulis karya para pengrajin ditata rapi di gantungan kayu. Berbagai macam motif khas Giriloyo seperti motif parang srimpi, wahyu tumurun, gebang, sido mukti, sido luhur, udan liris dan masih banyak lagi sangat memesonai setiap pengunjung yang masuk di ruangan itu. Tidak hanya namanya saja yang unik, tetapi falsafah di balik nama itu juga memiliki makna mendalam. Misalnya saja sido mukti yang diartikan sebagai harapan untuk meraih kebahagiaan lahir dan batin, atau udan liris yang dimaknai ketabahan dan prihatin menjalani hidup.

Dari batik-batik tulis di galeri tersebut, yang paling unik adalah batik tulis dengan pewarnaan alami dari tumbuh-tumbuhan. Hasil alam berupa kulit kayu mahoni (Swietenia mahogani), daun pohon nila (Indigofera), buah jelawe (Terminalia bellirica), dan daun mangga (Mangifera indica) merupakan bahan-bahan yang sering digunakan para pengrajin di paguyuban batik Giriloyo.

Cukup mudah membedakan batik tulis dengan warna alami dan warna sintetis dengan pengamatan pandangan mata. Batik dengan warna alami akan memberikan kesan teduh di mata. Dengan warna alami, kain batik belum bisa menghasilkan warna tosca dan ungu. Namun, kelebihan warna alami dari kain batik ini yaitu limbahnya tidak akan mencemari lingkungan.

Dari awal berdirinya Kampung Batik Giriloyo sudah didampingi oleh Dinas Pariwisata Bantul. Keberadaan sentra batik ini semakin dikenal masyarakat luas dengan adanya pewartaan di media massa.

"Kita awalnya mendapatkan pendampingan dari Dinas Pariwisata, dari Dinas Koperasi (Dinas Perindustrian, Perdagangan Koperasi dan Usaha Kecil Menengah). Selain itu kita juga kedatangan wartawan-wartawan," ujar Ketua Bidang Pemasaran Kampung Batik Giriloyo Said Romli saat menceritakan awal mula industri batik di kampungnya mulai tenar.

"Kita juga berupaya sebisa-bisanya kita promosikan lewat internet. Setiap yang jadi pengurus kita harapkan untuk turut mempromosikan, masing-masing kan punya Instagram," lanjut Said.

Berkat semangat dari warga Giriloyo untuk mempromosikan produk kain batik tulis itu telah membuat Ibu Negara Indonesia Iriana Jokowi bertandang ke Kampung Batik Giriloyo. Ia datang untuk menyapa langsung para pengrajin batik sekaligus berbelanja produk kain batik tulis. Dengan banyaknya masyarakat yang mengenal batik tulis khas Giriloyo, akan semakin menggali kearifan luhur dan melestarikan batik Indonesia, sehingga batik Indonesia mampu bersaing di pasar global.

Cara menuju ke sana:
Dari Terminal Giwangan Yogyakarta - Jalan Imogiri Timur - Jalan Pramuka - Jalan Giriloyo - Kampung Batik Giriloyo

Tempat Wisata dekat Kampung Batik Giriloyo

Catatan: semua jarak diukur over the air