PANTAI BARON
Kisah Si Bule Sakti dan Mercusuarnya yang Tinggi

Pesisir Selatan Jawa memang sarat dengan kisah-kisah unik, termasuk di Pantai Baron, yang konon menjadi tempat terdamparnya bule sakti. Kita bisa membayangkan kisah tersebut dari pesisir yang asri, atau dari mercusuarnya yang tinggi.

Diperbarui tgl 10/10/2016

Lihat foto lainnya (14 foto)

Pos retribusi Pantai Baron
Rp. 10.000

Sumbangan Tangga ke Mercusuar
Rp. 2.000

Tiket Mercusuar
Rp. 5.000

Buka setiap hari

Sedikit awan mendung terlihat menggantung di langit ketika YogYes menyusuri jalan berliku di Gunungkidul. Aura panas nan kering menemani kami sepanjang perjalanan, menjadi latar yang tepat untuk bukit-bukit berkarang yang menjadi ciri khas kabupaten ini. Suasana ini tiba-tiba berubah menjadi segar ketika kami melewati gerbang pintu masuk kawasan Pantai Baron, ketika barisan jati kering berganti pohon-pohon hijau nan segar. Suara ombak pun terdengar memanggil-manggil di kejauhan, membuat kami tidak sabar untuk merasakan pasir pantai nan halus dan keganasan sang laut selatan.

Setelah melewati barisan kios pedagang makanan laut yang menggoda, kami pun sampai di tepi Pantai Baron yang memukau. Pantai berbentuk "U" ini diapit oleh dua barisan karang di kedua sisinya, menahan gelombang laut selatan yang terus mengganas tiada henti. Di sisi sebelah barat, terdapat aliran sungai air tawar yang entah muncul dari mana. Sungai yang hanya sepanjang beberapa ratus meter ini bermuara tepat di pinggir pantai, menyajikan pemandangan unik saat air tawar dan air laut saling menyapa satu sama lain. Puluhan kapal berbaris di atas pasir pantainya yang putih kecoklatan, menanti pasang datang untuk melaut di malam hari.

Ketika menikmati pemandangan ini, sebuah pertanyaan melintas di kepala kami: kenapa namanya Baron? Nama ini memang sedikit aneh karena tidak berkesan Njowo sama sekali, berbeda dengan nama-nama pantai tetangganya seperti Krakal, Kukup dan Indrayanti. Lebih aneh lagi, kata "baron" ini sebenarnya berasal dari gelar terendah para bangsawan di berbagai kerajaan Eropa pada abad pertengahan. Bagaimana mungkin kata yang begitu londo ini menjadi nama sebuah pantai yang agak terpencil di Gunungkidul?

Setelah kami telusuri, ternyata nama pantai londo ini merujuk pada tokoh ketoprak Baron Sekeber. Tidak seperti tokoh ketoprak pada umumnya, si Baron Sekeber ini seorang bangsawan Belanda (ada juga yang bilang Spanyol atau Portugis) dengan ilmu kesaktian tinggi, bahkan pernah melawan Panembahan Senopati sang pendiri Kesultanan Mataram. Nah, pada tahun 1930-an pantai ini digunakan sebagai tempat persembunyian dan penyimpanan senjata oleh Belanda, namun belum banyak warga lokal yang tinggal di sekitarnya. Kami pun berpikir, mungkin saja pantai ini dinamai Pantai Baron karena ada banyak orang Belanda yang pernah tinggal di sana, kemudian disangkut-pautkan dengan legenda Baron Sekeber. Pantai ini pun akhirnya dinamai sebagai Pantai Baron untuk mengenang kisah si bule sakti tersebut (AH Farhani, 2008).

Terlepas dari asumsi ini, Pantai Baron tetap menyajikan sebuah pemandangan yang tidak bisa kita lewatkan. Warna air sungai bawah tanah yang kehijauan berpadu sempurna dengan tanaman hijau di atasnya, sebelum akhirnya bertabrakan dengan air laut yang kebiruan. Pasirnya memang tidak terlalu putih, namun tergolong cantik ketika berpadu dengan dua bukit karang yang menjulang tinggi di sekitarnya. Di sini, kita tidak disarankan untuk berenang karena ombak Samudra Hindia yang kejam bisa menyeret kita ke tengah lautan. Jangan khawatir, kita masih bisa menikmati birunya laut dari atas kapal sewaan untuk berkeliling area Pantai Baron yang asri.

Mercusuar Tinggi di Atas Karang

Di atas bukit karang di sebelah timur, kita bisa melihat sebuah menara putih yang menjulang di dekat jurang, mengingatkan kita pada Minas Tirith dari trilogy The Lord of The Ring. Karena penasaran, kami pun menghampiri menara ini melalui tangga berbatu yang berada tepat di sebelah timur pantai. Kita diharuskan untuk membayar Rp.2000,-/orang sebagai ongkos perawatan tangga ini. Setelah beberapa ratus meter, kami pun sampai di kompleks Mercusuar Tanjung Baron yang ada tepat di puncak bukit karang, persis seperti Minas Tirith di atas The City of Kings. Bedanya, tidak ada kota di bawah mercusuar ini, hanya lautan luas dengan ombaknya yang ganas.

Menurut petugas penjaga mercusuar, menara putih ini baru dibangun pada bulan Februari 2014 dan diresmikan pada bulan Desember tahun yang sama. Mercusuar setinggi 40 meter ini didirikan untuk menggantikan mercusuar lama yang berada di sampingnya, berupa menara besi yang terlihat sudah sangat keropos. Selain untuk mengganti mercusuar lama, menara ini juga didirikan untuk menambah atraksi wisata di kompleks Pantai Baron. Fungsi aslinya sebagai pemandu kapal yang melintas juga tetap dipertahankan, meskipun kebanyakan kapal sudah memiliki alat navigasi yang lebih canggih.

"Terkadang kan alat yang canggih itu rusak atau kurang akurat, nah kalau sudah begitu fungsi mercusuar begitu krusial untuk navigasi kapal," kata Pak Jacob, salah satu petugas yang menjaga fungsi Mercusuar Tanjung Baron ini. "Mercusuar menjadi penanda jarak dan terpisah setiap 12 mil laut (sekitar 22 km), semuanya dioperasikan oleh Dirjen Perhubungan Laut dengan kantor pusat di Cilacap. Lampu di atas menara berputar-putar supaya mudah menarik perhatian pelaut."

Dengan membayar Rp.5000 per orang, kita bisa memasuki mercusuar ini dan menikmati bentang alam Gunungkidul dari ketinggian. Ruangan di dalam mercusuar ternyata cukup besar, terdiri atas 9 lantai berbentuk segi banyak. Setiap lantai dihubungkan oleh tangga spiral yang cukup curam dan semakin menyempit di bagian atas. Pada lantai-lantai genap, terdapat sebuah balkon yang bisa kita gunakan untuk mengamati pemandangan di sekitar mercusuar. Pada lantai ke-7, tangga spiral digantikan oleh tangga vertikal yang licin, sehingga kita disarankan untuk melepas alas kaki ketika menanjaki tangga tersebut. Sehabis melewati tangga yang agak horor ini, barulah kita bisa melihat pemandangan yang spektakuler: barisan perbukitan karst yang memanjang di utara, kontras dengan bentangan samudra bergelombang di selatan.

Dari puncak menara ini, angin berhembus semilir mendamaikan rasa lelah yang terasa ketika kita mendaki tangga nan curam. Luasnya lautan menjadi background yang pas untuk berfoto dengan berbagai pose; namun kita tetap harus berhati-hati dengan angin kencang yang terkadang berhembus dari arah lautan. Di puncak Mercusuar juga terdapat beberapa instrumen sensitif yang tidak boleh kita sentuh, seperti lampu putar, baterai dan panel surya yang menyuplai tenaga listrik ke seluruh mercusuar tersebut. Intinya, kita harus berhati-hati dan tetap menjaga bangunan ini agar tidak rusak, mengingat fungsinya yang sangat vital bagi para pelaut yang melintas di Samudra Hindia.

Sore itu, kami menikmati pemandangan matahari terbenam di belakang Mercusuar. Meskipun sedikit berawan, suasana dramatis tetap muncul dan sukses membuat kami merinding akan keindahannya. Kami pun pulang dengan senyuman di wajah, setelah menikmati senja yang cantik di pantai sang bule sakti.

Cara menuju ke sana:
dari Kota Jogja - Jl Wonosari - Belok Kanan di Jl Baron (seberang Polres Gunungkidul) - Pantai Baron