Jogja / Yogyakarta > Wisata > Museum & Monumen > Museum Sasmitaloka

Museum Sasmitaloka

(diperbarui tgl 5/24/2014)

Tiket
Sukarela

Buka Senin - Jumat
Pk 08:00 - 14:00 WIB

Tutup
Sabtu, Minggu dan hari libur nasional

(0274) 376 663

Send this

MUSEUM SASMITALOKA
Mengunjungi Kediaman Sang Guru

Jl. Bintaran Wetan 3, Yogyakarta 55111, Indonesia
Phone: (0274) 376 663

Berjiwa kebapakan, teguh pada prinsip dan keyakinan, selalu mengedepankan kepentingan masyarakat banyak dan bangsa. Dialah Panglima sekaligus Jenderal pertama dan termuda Republik Indonesia.

1 / 5

"Anak-anakku, Tentara Indonesia, kamu bukanlah serdadu sewaan, tetapi prajurit yang berideologi, yang sanggup berjuang dan menempuh maut untuk keluhuran tanah airmu. Percaya dan yakinlah, bahwa kemerdekaan suatu negara yang didirikan di atas timbunan runtuhan ribuan jiwa harta benda dari rakyat dan bangsanya, tidak akan dapat dilenyapkan oleh manusia, siapapun juga" (Panglima Besar Jenderal Sudirman).

Desa Bantarbarang, Kecamatan Rembang, Kabupaten Purbalingga, Karisidenan Banyumas menjadi saksi lahirnya seorang bocah kecil pada hari senin pon tanggal 24 Januari 1916. Tangisnya merupakan tanda awal lahirnya salah satu tokoh besar dalam revolusi Bangsa Indonesia. Ayahnya Karsid Kartawiraji dan Siyem, ibu yang melahirkan sang bocah memberikannya nama Sudirman. Sedangkan ayah angkatnya Raden Cokro Sunaryo menambahkan nama Raden di depan nama Sudirman.

Menjalani pendidikan formal di Taman Siswa, lalu melanjutkan pendidikan di HIK Muhammadiyah Solo. Pada tahun 1934 Raden Sudirman yang juga aktif dalam Organisasi Kepanduan Islam Hizbul Wathon, menjadi Kepala Sekolah Dasar Muhammadiyah di Cilacap. Sebagai Kepala Sekolah, beliau bersikap terbuka, mau mendengarkan pendapat orang lain serta selalu siap memberi jalan pemecahan terhadap setiap masalah yang timbul di kalangan para guru. Selain menjadi Kepala Sekolah, beliau juga menjadi tenaga pengajar di Sekolah Menengah Muhammadiyah Cilacap.

Perjalanan Menjadi Seorang Jenderal

Karir militer Pak Dirman (panggilan akrab Beliau sewaktu bergerilya) diawali ketika mengikuti latihan perwira tentara Pembela Tanah Air (PETA) di Bogor. Selesai mengikuti latihan, Pak Dirman diangkat menjadi Daidancho (Komandan Daidan setara Batlyon) di Banyumas.

Beberapa bulan setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, pasukan Jepang dipaksa menyerahkan senjata kepada tentara Indonesia oleh pihak sekutu. Ketidakrelaan Jepang menyerahkan inventaris negara, berubah menjadi baku tembak yang menelan banyak korban dari kedua belah pihak. Tetapi beda halnya dengan Banyumas. Berkat kearifan Pak Dirman (saat itu telah diangkat menjadi Panglima Divisi V/Banyumas dengan pangkat Kolonel) dalam berunding, tidak ada darah yang tertumpah dalam proses penyerahan senjata. Atas segala jasa dan prestasinya, Pak Dirman yang dinilai teguh hati, lemah lembut tutur katanya, dan bersikap kebapakan dalam mengayomi para bawahan, terpilih menjadi Panglima Besar Tentara Keamanan Rakyat (TKR) pada tanggal 12 Nopember 1945, dan dilantik pada tanggal 18 Desember 1945, lewat pelantikan presiden.

Meski saat itu Pak Dirman masih sangat muda, dalam usia 29 tahun beliau sudah mampu menjadi pemimpin yang cepat mengambil keputusan, serta langsung ditindaki dengan tegas. Prestasinya mempersatukan berbagai laskar ke dalam tubuh ketentaraan, pada tanggal 3 juni 1947, pangkat Jenderal tetap diembankan kepada Beliau setelah TKR menjadi TRI (Tentara Republik Indonesia) sebelum akhirnya menjadi Angkatan Perang Republik Indonesia (APRI)

Perjalanan Panglima Besar Jenderal Sudirman untuk menempati posisi tertinggi APRI pada tanggal 3 Juni 1947 melewati banyak peperangan. Mulai dari perang kemerdekaan melawan Jepang hingga mendesak mundur pasukan Sekutu ke Semarang pada tanggal 15 Desember 1945 dari Ambarawa (Palagan Ambarawa). Setelah menjabat Panglima Besar APRI, Jenderal Sudirman tidak langsung berpangku tangan. Meski dalam keadaan sakit dan harus ditandu oleh bawahannya, Beliau tetap bergerilya melawan Belanda. Mulai dari Agresi Militer I hingga mengatur taktik perang pada Agresi Militer II yang dilakoninya dengan berpindah-pindah. Perjalanan marathon sejauh lebih dari 1000 km selama enam bulan itu akhirnya berakhir dengan ditandatanganinya Perjanjian Roem Royen. Panglima Besar ini akhirnya kembali ke Yogyakarta pada tanggal 10 Juli 1949.

Sejarah Kediaman Sang Guru

Rumah yang terletak di Jalan Bintaran Wetan no.3 Yogyakarta, merupakan bekas kediaman Panglima Besar Jenderal Sudirman yang sekarang menjadi Museum Sasmitaloka Panglima Besar Jenderal Sudirman. Sasmitaloka dalam bahasa Jawa berarti tempat untuk mengingat, mengenang. Museum ini merupakan tempat untuk mengenang pengabdian dan pengorbanan dari Panglima Besar Jenderal Sudirman.

Gedung yang dibangun pada masa pemerintahan Hindia Belanda pada tahun 1890 ini memiliki mempunyai sejarah yang sangat panjang. Di awal berdirinya, bangunan bersejarah ini diperuntukkan bagi pejabat keuangan Pura Paku Alam VII, Tuan Winschenk. Pada masa penjajahan Jepang bangunan dikosongkan dan barang-barangnya disita. Pada masa kemerdekaan Republik Indonesia, dipakai sebagai Markas Kompi Tukul dari batalion Suharto. Sejak tanggal 18 Desember 1945 sampai 19 Desember 1948, menjadi kediaman resmi Jenderal Sudirman setelah menjadi Panglima Tertinggi TKR. Selanjutnya saat Agresi Belanda II digunakan oleh Belanda sebagai Markas IVG Brigade T dan setelah kedaulatan Republik Indonesia tanggal 27 Desember 1949, berturut-turut digunakan sebagai kantor Komando Militer Kota Yogyakarta, kemudian dipakai untuk asrama Resimen Infantri XIII dan penderita cacat (invalid). Tanggal 17 Juni 1968 dipakai untuk Museum Pusat Angkatan Darat, sebelum akhirnya diresmikan sebagai Museum Sasmitaloka Panglima Besar (Pangsar) Jenderal Sudirman pada tanggal 30 Agustus 1982.

Menjelajahi Sasmitaloka

Memasuki Museum Sasmitaloka dari pintu utara, pengunjung akan melihat Prasasti Pangsar Jenderal Sudirman. Sementara itu di halaman depan bangunan induk Monumen Pangsar Jenderal Sudirman berdiri dengan gagahnya. Monumen tersebut berupa patung Pak Dirman yang sedang menunggangi kuda dengan tulisan di keempat sisinya. Salah satunya seperti yang tertulis di awal artikel ini. Sementara di sisi utara monumen terdapat satu senjata mesin, dan sebuah meriam di sisi selatannya.

Bangunan induk memiliki tiga pintu di bagian depannya dan sebuah pintu di bagian belakang yang menghubungkan dengan aula. Bangunan induk terdiri dari enam ruangan yang saling berhubungan. Di bagian depan merupakan ruang tamu. Di ruangan yang menjadi tempat Pangsar Jenderal Sudirman menerima tamu-tamu resmi terdapat empat kursi satu meja, masing-masing satu set di bagian utara dan satu set di bagian selatan. Di antara kedua ruang tamu terdapat medali kehormatan yang diberikan kepada Pangsar Jenderal Sudirman. Di belakangnya terdapat ruang santai. Terletak di tengah-tengah gedung induk hanya berfungsi sebagai ruang keluarga namun juga digunakan sebagai ruang tamu keluarga Pangsar Jenderal Sudirman. Di ruangan santai terdapat dua set kursi serta sebuah radio kuno milik Pangsar Jenderal Sudirman. Di sebelah utara ruang santai pengunjung bisa memasuki ruang kerja di bagian barat yang terhubung dengan ruang tidur tamu di bagian timur. Pada ruang kerja terdapat senjata-senjata rampasan perang serta senjata yang biasa digunakan oleh Pangsar Jenderal Sudirman. Di ruangan ini, YogYES sempat berhenti sebentar untuk membaca tulisan Buya Hamka tentang Jenderal Sudirman. Sementara di bagian selatan ruang santai terdapat ruang tidur Pangsar Jenderal Sudirman yang terhubung dengan ruang tidur putra-putri Beliau di bagian barat. Sedangkan ruang aula yang Dipergunakan untuk ruang makan Beliau dan tempat bermain, bercengkerama dengan putra-putri Beliau, terletak di sebelah timur ruang santai. Rumah induk ditata serupa mungkin dengan keadaan ketika Pangsar Jenderal Sudirman dan keluarga menempati rumah tersebut.

Di sayap utara rumah induk terdapat bangunan dengan tiga ruangan. Ruangan terdepan merupakan ruang sekretariat, dipakai sebagai ruangan untuk menyimpan meja kursi yang dipakai Letkol Sudirman sewaktu pengusulan Kolonel Sudirman Komandan Divisi V Purwokerto sebagai Panglima Tertinggi TKR. Ruang sekretariat terhubung dengan ruang Palagan Ambarawa di bagian timur. Di ruangan ini terdapat senjata rampasan dari Jepang yang digunakan untuk melawan sekutu di Palagan Ambarawa, juga senjata Inggris yang direbut pada peperangan tersebut, serta diorama dari perang Palagan Ambarawa. Di ujung timur bangunan terdapat ruang Panti Rapih. Pada ruangan ini terlihat diorama salah Pangsar Jenderal Sudirman ketika dirawat di salah satu ruangan Rumah Sakit Panti Rapih. Juga terdapat alat-alat yang pernah digunakan Pangsar Jenderal Sudirman ketika dirawat.

Setelah melihat-lihat ruang panti rapih, pengunjung bisa melihat ruang sobo dan pacitan, yang terletak di ujung timur bangunan yang terletak di bagian sayap selatan rumah induk. Dalam ruangan ini terdapat alat-alat sederhana yang pernah dipakai Pangsar Jenderal Sudirman selama perang gerilya. Manunggalnya antara rakyat dan TNI diwujudkan dalam keikhlasan rakyat memberikan harta bendanya demi mempertahankan kemerdekaan RI. Berdampingan di sebelah barat ruang ini terdapat ruang diorama perang gerilya. Terdapat tiga diorama yang menggambarkan diawalinya perang gerilya dan situasi betapa sulitnya perjuangan yang harus ditempuh Pangsar Jenderal Sudirman untuk berkoordinasi dengan pasukan yang ada di daerah. Di ruangan ini juga terdapat tandu yang pernah dipakai Pangsar Jenderal Sudirman ketika bergerilya. Di sebelahnya terdapat ruang pakaian. Koleksi pakaian yang pernah dipakai Jenderal Sudirman diantaranya mantel wool yang selalu dipakai waktu melakukan perang gerilya, terdapat di ruangan ini. Di antara ruang diorama dan ruang pakaian terdapat sebuah lorong yang dindingnya berisi beberapa surat yang pernah ditulis oleh Pangsar Jenderal Sudirman. Foto-foto kegiatan Pak Dirman pada waktu sebelum perang gerilya sampai pada saat wafatnya, serta dua stel baju dinas Pak Dirman bisa dilihat di ruang foto dan dokumentasi yang terletak di ujung barat bangunan.

Pahlawan Besar Itu Telah Tiada

17 agustus 1949, proklamasi diperingati di Gedung Agung Yogyakarta, setelah kepulangan Soekarno-Hatta dari pulau Bangka pada tanggal 6 Juli 1949 dan Pangsar Jenderal Sudirman dari perjalanan gerilya Beliau pada tanggal 10 Juli 1949.

Tanggal 27 Desember berdasarkan Konfrensi Meja Bundar di Den Haag, Belanda secara resmi menyerahkan kedaulatan kepada Republik Indonesia. Sayangnya Pangsar Jenderal Sudirman tidak dapat menyaksikan hasil perjuangannya lebih lanjut. Kuman tuberkulosis yang semakin parah menggerogoti paru-paru Beliau setelah berbulan-bulan keluar masuk hutan, akhirnya mengalahkan Panglima Besar itu. 29 Januari 1950 di Rumah Peristirahatan Tentara Badakan, Magelang, Pangsar Jenderal Sudirman menghembuskan nafas terakhirnya. Jasadnya kini disemayamkan di Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta.

Panglima Besar itu juga seorang manusia biasa. Dia memiliki tempat tinggal dan keluarga yang diayominya. Melalui gambaran visual, museum ini bercerita lebih banyak tentang kehidupan Pangsar Jenderal Sudirman sebagai seorang suami dan ayah, serta pemimpin tertinggi dalam kemiliteran. Seorang Jenderal yang tidak pernah menyerah pada penjajahan, bahkan oleh penyakit yang dideritanya. Bagaikan memasuki lorong waktu, untuk bisa membayangkan lebih dekat bagaimana Pangsar Jenderal Sudirman menjalani hari-harinya sebagai seorang Pemimpin. (YogYES.COM: R.Syah)

Review

Anda bisa membantu traveler lain dengan menulis review / menceritakan pengalaman di sini. Namun mohon maaf, fitur ini bukan untuk menampung pertanyaan.

Peta Lokasi Museum Sasmitaloka

Jl. Bintaran Wetan 3, Yogyakarta 55111, Indonesia
Phone: (0274) 376 663

Koordinat GPS: -7.80241666666667, 110.37525

Places Sekitar

  • A: BINTARAN (0.1 km)

  • B: HALTE PURO PAKUALAMAN (0.1 km)

    Jl. Sultan Agung, Yogyakarta, Indonesia

  • C: HALTE MUSEUM BIOLOGI (0.1 km)

    Jl. Sultan Agung, Yogyakarta, Indonesia

  • D: BIOSKOP PERMATA (0.2 km)

    Jl. Sultan Agung, Yogyakarta, Indonesia

  • E: SUPER INDO SULTAN AGUNG (0.3 km)

    Jl. Sultan Agung 10, Yogyakarta, Indonesia
    Phone: (0274) 384 118

  • F: LOTEK DAN GADO-GADO BU NING (0.3 km)

    Jl. Surokarsan 32, Yogyakarta, Indonesia
    Phone:(0274) 389 243

  • G: HALTE KATAMSO 2 (0.7 km)

    Jl. Brigjend. Katamso, Yogyakarta, Indonesia

  • H: HOUSE OF CHANDRA (0.7 km)

    Jl. Manuk Beri MG II No. 957 Kav B2 Taman Siswa, Yogyakarta, Indonesia
    Phone: +62 811 874 615, +62 816 116 9367

  • I: NASI GORENG BERINGHARJO (0.7 km)

    Jl. Pabringan 1, Yogyakarta, Indonesia

  • J: JOGJATRONIK MALL (0.7 km)

    Jl. Brigjend Katamso 75-77, Yogyakarta, Indonesia
    Phone: (0274) 419 885

  • K: HOTEL FAMILIA RESIDENCE (0.7 km)

    Jl. Bausasran DN III/ 949, Yogyakarta, Indonesia
    Phone: (0274) 562 638, 549 478, +62 821 3657 2834

  • L: HALTE KUSUMANEGARA 2 (0.8 km)

    Jl. Kusumanegara, Yogyakarta, Indonesia

  • M: TAMAN BUDAYA YOGYAKARTA (TBY) (0.8 km)

    Jl. Sri Wedani No. 1, Yogyakarta, Indonesia
    Phone: (0274) 523 512, 561 914

  • N: UST (0.9 km)

    Jl. Kusumanegara 157, Yogyakarta 55165 Indonesia
    Phone: (0274) 562 265

  • O: RAMAYANA BALLET PURAWISATA (0.9 km)

    Jl. Brigjen Katamso, Yogyakarta 55152 Indonesia
    Phone: (0274) 375 705, 380 643

  • P: HALTE SENOPATI 1 (0.9 km)

    Jl. Senopati, Yogyakarta, Indonesia

  • Q: HALTE SENOPATI 2 (0.9 km)

    Jl. Senopati, Yogyakarta, Indonesia

  • R: HALTE KUSUMANEGARA 1 (0.9 km)

    Jl. Kusumanegara, Yogyakarta, Indonesia

  • S: HOTEL NENDRA (0.9 km)

    Jl. Dr. Sutomo 20, Yogyakarta 55225, Indonesia
    Phone: (0274) 512 839, (0274) 586 196

  • T: TAMAN PINTAR YOGYAKARTA (0.9 km)

    Jl. Panembahan Senopati 1-3, Yogyakarta, Indonesia
    Phone: (0274) 583 713, 583 631

  • U: UAD (1 km)

    Jl. Kapas 9, Semaki, Umbul Harjo, Yogyakarta 55166 Indonesia
    Phone: (0274) 563 515

Tampilkan semua

Tempat Wisata Terdekat

  • BINTARAN (0.1 km)

  • BIOSKOP PERMATA (0.2 km)

    Jl. Sultan Agung, Yogyakarta, Indonesia

  • MUSEUM PURO PAKUALAMAN (0.3 km)

    Jl. Sultan Agung, Kompleks Puro Pakualaman, Yogyakarta, Indonesia

  • MUSEUM BIOLOGI UGM (0.4 km)

    Jl. Sultan Agung 22, Mergangsan, Yogyakarta, Indonesia
    Phone: (0274) 376 740

  • MUSEUM DEWANTARA KIRTI GRIYA (0.4 km)

    Jl. Taman Siswa 31, Yogyakarta, Indonesia
    Phone: (0274) 389 208

  • MUSEUM BATIK YOGYAKARTA (0.8 km)

    Jl. Dr. Sutomo 13A, Yogyakarta, Indonesia
    Phone: (0274) 562 338

  • MUSEUM ANAK \'KOLONG TANGGA\' (0.9 km)

    Jl. Sriwedari 1 , Yogyakarta (Lantai 2 Gedung Taman Budaya Yogyakarta), Indonesia
    Phone: (0274) 523 512

  • TAMAN PINTAR YOGYAKARTA (0.9 km)

    Jl. Panembahan Senopati 1-3, Yogyakarta, Indonesia
    Phone: (0274) 583 713, 583 631

  • RAMAYANA BALLET PURAWISATA (0.9 km)

    Jl. Brigjen Katamso, Yogyakarta 55152 Indonesia
    Phone: (0274) 375 705, 380 643

  • BENTENG VREDEBURG (1.1 km)

    Jl. Jend. A. Yani No 6, Yogyakarta 55224, Indonesia
    Phone: (0274) 586 934, 510 996

  • PASAR BERINGHARJO (1.2 km)

    Jl. Pabringan 1, Yogyakarta 55122, Indonesia
    Phone: (0274) 515 871, 561 510

  • LOJI (1.2 km)

  • MUSEUM SONOBUDOYO (1.3 km)

    Jl. Trikora 6, Yogyakarta 55122, Indonesia
    Phone: (0274) 385 664

  • KRATON (1.3 km)

    Jl. Rotowijayan 1, Yogyakarta 55133, Indonesia
    Phone: (0274) 373 721

  • KAMPUNG KAUMAN (1.4 km)

  • MUSEUM KERETA KERATON YOGYAKARTA (1.4 km)

    Kompleks Keraton Yogyakarta, Indonesia

  • SOSROKUSUMAN (1.4 km)

  • MUSEUM PERJUANGAN YOGYAKARTA (1.5 km)

    Jl. Kolonel Sugiono 24, Mergangsan, Yogyakarta, Indonesia
    Phone: (0274) 387 576

  • MUSEUM DE MATA TRICK EYE (1.5 km)

    XT Square, Jl. Veteran, Pandeyan, Yogyakarta, Indonesia
    Phone: (0274) 380 809

  • MALIOBORO (1.5 km)

    Jl. Malioboro, Yogyakarta, Indonesia

  • PECINAN (1.6 km)

  • SOSROWIJAYAN (1.7 km)

  • ALUN-ALUN KIDUL (1.7 km)

    Jl. Alun-Alun Kidul Yogyakarta, Indonesia

  • KOTABARU (1.8 km)

  • TAMAN SARI (1.9 km)

    Jl. Taman, Kraton, Yogyakarta 55133, Indonesia

  • PRAWIROTAMAN (1.9 km)

  • MUSEUM PUSAT TNI AD \'DHARMA WIRATAMA\' (2.2 km)

    Jl. Jendral Sudirman 75, Yogyakarta, Indonesia
    Phone: (0274) 561 417

  • KAMPUNG SERANGAN (2.2 km)

    Serangan, Notoprajan, Ngampilan, Yogyakarta, Indonesia

  • WARUNGBOTO (2.2 km)

    Jl. Veteran, Warungboto, Yogyakarta, Indonesia

  • TUGU JOGJA (2.4 km)

  • JOGJA NATIONAL MUSEUM (JNM) (2.4 km)

    Jl. Prof. Ki Amri Yahya No. 1 Gampingan, Wirobrajan, Yogyakarta 55181, Indonesia
    Phone: (0274) 586 105

  • MUSEUM R.S. MATA \'Dr. YAP\' (2.5 km)

    Jl. Cik Di Tiro 5, Yogyakarta, Indonesia
    Phone: (0274) 547 447

  • BONBIN GEMBIRA LOKA (2.5 km)

    Jl Kebun Raya 2, Yogyakarta, Indonesia
    Phone: (0274) 373 861

  • MUSEUM PERGERAKAN WANITA (2.9 km)

    Jl. Laksda Adisucipto 88, Yogyakarta, Indonesia
    Phone: (0274) 587 818

  • SASANA WIRATAMA (3.1 km)

    Jl HOS Cokroaminoto TR III/430, Yogyakarta 55244, Indonesia
    Phone: (0274) 622 668

  • MUSEUM AFFANDI (3.2 km)

    Jl. Laksda Adisucipto 167, Yogyakarta 55281, Indonesia
    Phone: (0274) 562 593

  • PANGGUNG KRAPYAK (3.2 km)

    Jl. DI Panjaitan, Yogyakarta, Indonesia

  • KOTAGEDE (3.9 km)

  • GUA SILUMAN (4.3 km)

    Wonocatur, Banguntapan, Bantul, Yogyakarta, Indonesia

  • SITUS WATUGILANG (4.3 km)

    Gilang, Baturetno, Banguntapan, Bantul, Indonesia

  • MUSEUM KEKAYON (4.4 km)

    Jalan Raya Jogja-Wonosari km 7, Bantul, Yogyakarta, Indonesia

  • SITUS MANTUP (4.8 km)

    Mantup, Baturetno, Banguntapan, Bantul, Yogyakarta, Indonesia

Tampilkan semua

Catatan: semua jarak diukur over the air