Menapaki Istana Pertama Ngayogyakarta Hadiningrat

Pesanggrahan Ambarketawang merupakan istana pertama Ngayogyakarta Hadiningrat. Meski sudah lebih dari renta, beberapa bangunan pesanggrahan yang tersisa masih menyimpan pesona, termasuk pesona upacara Saparan dan kesenian Macapat.

  • Ambarketawang (1)
  • Ambarketawang (2)
  • Ambarketawang (3)
  • Ambarketawang (4)
  • Ambarketawang (5)

Menapaki Istana Pertama Ngayogyakarta Hadiningrat

Masihkah anda menganggap bahwa Kraton Yogyakarta yang telah berusia 300 tahun adalah istana pertama Kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat? Bila masih, melaju ke arah barat kota Yogyakarta menuju Pesanggrahan Ambarketawang adalah keharusan. Sebab, pesanggrahan itulah yang menjadi istana pertama Ngayogyakarta Hadiningrat selama setahun, dari 9 Oktober 1755 hingga 7 Oktober 1756.

Beberapa waktu lalu, YogYES mengunjungi pesanggrahan ini. Kami melaju dari Kotagede melewati Jalan Kusumanegara dan Sultan Agung hingga perempatan Kantor Pos Besar. Dari perempatan itu, kami melaju terus hingga pertigaan pertama setelah Pasar Gamping dan berbelok ke kiri. Kami lalu berbelok ke kiri lagi setelah menemukan papan penunjuk kecil yang menerangkan arah untuk menuju Pesanggrahan Ambarketawang.

Kami sempat kaget pada mulanya, saat mengetahui bahwa jalan itu buntu. Ujung jalan itu merupakan sawah, sementara kanan kirinya merupakan pekarangan dan rumah-rumah. Kami sempat berpikir bahwa kami salah jalan, tetapi akhirnya pikiran itu berubah ketika menoleh ke kanan dan menjumpai sebuah tembok yang warnanya sudah menghitam. Ketebalan tembok itu membuat kami yakin bahwa tembok tersebut merupakan bagian dari pesanggrahan ini.

Kami kemudian menghampiri seorang warga bernama Tarsono yang kebetulan sedang ada di lokasi ini. Tak diduga, ternyata dialah yang sekarang memiliki hak untuk mengelola tanah di pesanggrahan. Lewat Tarsono yang kini berusia 72 tahun, kami bisa mengetahui bagian-bagian pesanggrahan yang masih tersisa sekaligus beberapa areal yang dulu menjadi bagian penting dari pesanggrahan yang dibangun oleh Paku Buwono II ini.

Tembok yang kami jumpai pertama kali, ternyata merupakan tembok terdepan dari pesanggrahan ini, sementara areal kosong di sebelah timur tembok tersebut merupakan pintu gerbang menuju bagian dalam pesanggrahan. Pekarangan di sebelah selatan tembok yang kini ditumbuhi pohon-pohon besar merupakan bekas alun-alun pesanggrahan, sedangkan tembok di sebelah selatan pekarangan itu merupakan bekas kandang kuda.

Tak jauh dari tembok terdepan, terdapat sebuah sumur bertuah. Air dari sumur yang berusia sama dengan Pesanggrahan Ambarketawang ini konon mampu menyembuhkan beragam penyakit. Tarsono bercerita, pernah ada seorang lumpuh yang mandi dengan air sumur ini dan akhirnya sembuh seketika. Hingga kini, air sumur ini masih digunakan oleh warga setempat, terutama bila ada salah satu anggota keluarga yang sakit.

Kalau cermat, tepat di sebelah kiri sumur terdapat susunan batu bata yang hampir sejajar dengan tanah. Susunan batu bata itu merupakan bagian atas dari saluran bawah tanah, sering disebut urung-urung, yang memanjang ke utara sekitar 6 meter. Kalau merunut ke utara, anda bisa melihat susunan batu bata serupa yang merupakan ujung dari saluran bawah tanah yang bisa dilewati manusia ini.

Masih di areal yang berdekatan, kami menjumpai bangunan semacam lantai bersemen yang telah berlumut. Kami sempat mengira bahwa bangunan itu adalah lantai semen biasa, namun ternyata merupakan bagian dari bangunan lantai atas pesanggrahan ini. Bahkan, bangunan itu merupakan satu-satunya bangunan lantai atas istana yang masih bisa dijumpai sebab bangunan lantai atas lainnya telah hilang dan bangunan lantai bawahnya hingga kini tertimbun tanah.

Selain beberapa bagian bangunan pesanggrahan, terdapat pula bangunan baru berupa pendopo. Beragam aktivitas kesenian Jawa berlangsung di pendopo itu, seperti Macapat yang dilaksanakan setiap Kamis Pahing dan pencak silat yang dilaksanakan setiap hari Selasa. Tembang macapat yang dinyanyikan pada saat pertunjukan biasanya bercerita tentang terbaginya kerajaan Mataram menjadi Surakarta dan Yogyakarta, seperti tertulis dalam Babad Giyanti.

Puas berkeliling di areal itu, kami menyusuri jalan setapak di pinggir sawah hingga beberapa puluh meter ke utara. Di sana, kami menemukan bagian lain dari bangunan pesanggrahan, berupa tembok yang berbatasan langsung dengan makam. Tembok tebal yang kini warnanya juga sudah menghitam itu dipercaya merupakan tembok belakang bangunan pesanggrahan yang dahulu memanjang ke barat dan timur.

Di sebelah timur tembok itu, terdapat batu besar yang dipagari menggunakan besi. Batu besar itu sebenarnya merupakan bagian dari gunung gamping (kapur) yang dulu terdapat di wilayah ini. Konon, keberadaan gunung gamping itulah yang menyebabkan Pesanggrahan Ambarketawang dipilih sebagai kraton. Kini, gunung gamping itu sudah tidak ada sebab gampingnya telah banyak dipakai untuk pembangunan rumah.

Persis di sebelah kanan batu besar, terdapat panggung batu yang sama seperti batu besarnya, bukan merupakan bagian dari pesanggrahan. Panggung itu digunakan pada salah satu bagian upacara persembahan, yaitu penyembelihan bekakak (boneka pengantin). Upacara tersebut digelar sebab dahulu banyak korban meninggal saat pengambilan batu kapur. Hingga sekarang, upacara tetap digelar setahun sekali, setiap bulan Sapar, setelah tanggal 20.

Biasanya, arak-arakan upacara persembahan sampai ke bekas bagian depan Pesanggrahan Ambarketawang. Di sana juga digelar beragam pentas seni seperti wayang kulit semalam suntuk, mecapat, gamelan dan sebagainya. Menurut Tarsono, upacara persembahan yang sering disebut Saparan ini hingga sekarang tetap ramai dikunjungi, baik oleh warga sekitar maupun orang-orang yang ingin menyaksikannya.

Jika anda mengunjungi Pesanggrahan Ambarketawang saat Saparan, tentu pesona di wilayah kraton pertama Ngayogyakarta Hadiningrat ini akan lengkap. Namun, bila tak sempat berkunjung di hari itu, anda dapat mengunjunginya di hari lain. Setidaknya, anda bisa menikmati pesona wilayah pesanggrahan ini. Tak ada biaya yang dipungut untuk masuk ke areal ini.

lihat peta

Naskah: Yunanto Wiji Utomo
Photo & Artistik: Agung Sulistiono Mabruron
Copyright © 2007 YogYES.COM

Hotel dekat Ambarketawang

  • Tidak ada data

Biro wisata ke Ambarketawang

  • Tidak ada data

Tempat Menarik Lain di Yogyakarta

Copyright © 2003 - 2008 YogYES.COM. Semua hak dilindungi.
Dilarang mereproduksi, mempublikasi, atau mendistribusikan seluruh ataupun sebagian content atau data atau image atau informasi yang dimuat di sini tanpa izin tertulis dari YogYES.COM
Penggunaan situs ini diatur dalam Copyright and Intellectual Property Policy, Syarat dan Ketentuan, dan Privacy Policy kami.