10 INSTALASI UNIK DI ART JOG 2018
Menilik Seni yang Tak Terbatas

Karya seni terbaik dari 54 perupa asal 7 negara ada di ruang pamer Art Jog 2018 yang diadakan di Jogja National Museum. Kegiatan seni rupa ini menjadi acara wajib dikunjung bagi para penikmat seni rupa lokal dan internasional.

Diperbarui tgl 14 Mei 2018

Meskipun tiket Rp50.000 masih mahal bagi sebagian orang, pameran Art Jog 2018 (4 Mei hingga 4 Juni 2018) masih ramai pengunjung setiap harinya. Mulai dari anak-anak, remaja, dewasa, hingga lanjut usia. Karya seni yang dipamerkan pun banyak memiliki inovasi dan fresh. Pada penyelenggaraan Art Jog yang sudah kali ke-11 ini mengangkat tema Enlightenment atau pencerahan. Seni kerap diartikan sebagai kebebasan berpikir dan kebebasan meneliti apa saja yang ada di dunia ini yang nantinya akan menjadi pencerahan dalam kehidupan.

Kami telah merangkum 10 instalasi seni unik yang terpampang di Art Jog 2018 yang harus diresapi maknanya dan tak boleh dilewatkan meskipun hanya sekadar berswafoto dengan latar karya seni tersebut.

1. Sea Remembers

Memasuki halaman Jogja National Museum langsung terlihat bangunan berbentuk kubah di luar gedung. Setelah masuk di dalam kubah ini, mata kita akan terpana melihat keindahan taman bahwah laut. Saat diperhatikan lebih dekat, ternyata karya seni tersebut dibuat dari rajutan benang wol dan poliester yang membentuk terumbu karang, rumput laut, dan alga. Ada juga tulang berukuran besar yang terbuat dari fiber. Di tengah-tengah ruang pamer terdapat pohon raksasa yang dikelilingi ikan-ikan kecil berwarna kuning dan orange. Semua komponen dipadukan menjadi harmoni warna yang indah. Tidak terbayang berapa waktu yang dibutuhkan untuk merajut semua instalasi itu apabila Mulyana Mogus sebagai senimannya mengerjakan karyanya seorang diri. Namun, nyatanya tidak begitu. Mulyana dibantu oleh individu-individu dan komunitas yang memiliki keterampilan merajut benang.

2. Hutan Dilipat

Di koridor ruang-ruang display, terlihat kain panjang yang membentang dan menempel di sepanjang langit-langit. Sekilas kita akan berpikir kain itu adalah hiasan di pameran Art Jog 2018. Namun, setelah dicermati lagi itu adalah karya seni dari perupa Nasirun. Karya itu bukan terbuat dari kain, melainkan dari tisu dan kertas yang ia daur ulang serta ia gambar dan warnai menggunakan cat akrilik. Panjang total karya seni itu adalah 75 meter. Dengan karya seni ini, Nasirun membawa sebuah perenungan bagi manusia-manusia di dunia agar sadar dan bisa memberi kontribusi untuk alam. Alam yang sudah menjadi tempat hidup sudah semestinya untuk dihargai.

3. Toleranintoleransi

Siapa yang menyangka instalasi seni dari Handiwirman yang berjudul Toleranintoleransi diilhami dari karet gelang? Instalasi ini sangat khas warnanya dengan karet gelang-benda yang sangat dekat dengan kehidupan manusia. Handiwirman mencoba menampilkan rangkaian potongan karet gelang dalam berbagai ukuran untuk mengisi setiap sisi ruang pamer. Potongan karet berukuran besar dengan tinggi sekitar 1 meter menjadi karya utama. Sedangkan di sekitarnya ada karet-karet gelang dengan berbagai macam ukuran. Ada potongan karet gelang yang ditempel di dinding, ada yang digantung, ada pula yang dibiarkan tergeletak di lantai. Dengan memamerkan instalasi ini, seniman ingin memberikan perumpamaan dari persoalan-persoalan toleransi dan intoleransi. Bentuk-bentuk karet gelang itu diibaratkan sebuah kelakuan dan persoalan-persoalan hidup.

4. Healing Garden (Yogyakarta)

Karya seni ini ditempatkan di ruang pamer yang memiliki dinding dan langit-langit berwarna hijau lengkap dengan karpet di lantai yang berwarna hijau. Di salah satu sudut ruang pamer terdapat bunga-bunga warna-warni dari kertas krep yang menjulang tinggi hingga langit-langit. Healing Garden (Yogyakarta) merupakan satu-satunya karya yang memiliki konsep partisipatif dari pengunjung selama Art Jog 2018 berlangsung mulai pukul 10.00 hingga 17.00 WIB. Hiromi Tango-seniman dari karya ini-mempersilakan pengunjung Art Jog 2018 untuk membuat karya seni dari kertas krep warna warni membentuk bunga. Healing Garden akan terus tumbuh selama pameran berlangsung. Konteks dari karya ini adalah seniman berfokus pada penciptaan ruang-ruang perlindungan yang aman, yang mendorong ekspresi kreatif dan transformasi emosi. Seniman ingin menanamkan nilai bahwa seni menjadi pengalaman transformatif bagi pembuat maupun penikmat karya.

5. Vertical Horizon

Ada yang menarik di konteks instalasi seni ini, bahwa seniman berpesan agar tidak hanya menikmati karya seni seperti melihat karya atau gambar di media sosial atau internet. Pada instalasi seni karya Jim Allen Abel ini, kita dapat menikmati karya seni dengan melihat langsung gambar berbagai seri pesawat yang ia gantungkan di langit-langit ruang pamer, atau bisa juga melihatnya dari refleksi cermin yang ada di lantai. Selain itu, seniman yang sudah rutin mengikuti pameran Art jog dari tahun 2015 ini memperdengarkan suara pilot yang sedang berkoordinasi dan deru pesawat.

6. The Heart of Stone

Di ruang pamer terdapat batu berukuran 250x150 cm yang terbuat dari silicone rubber. Setelah ditunggu sejenak, dari dalam batu ini akan muncul bunyi deru mesin pompa. Bersamaan dengan itu, batu akan mengembang sebentar dan mengempis saat mesin pompa mati. Karya seni ini adalah salah satu karya yang membuat kita garuk-garuk kepala karena bingung memahaminya. Namun, setelah kita menengok konteks karya dari seniman, Agung Tato Suryanto mengombinasikan hati manusia yang merupakan benda hidup dengan batu yang merupakan benda mati. "Jika kedua elemen tersebut digabungkan akan menimbulkan persepsi baru. Hati yang membatu ataukah sebuah batu yang berdenyut? Mematikan benda hidup ataukah menghidupkan benda mati?" Begitulah hal yang ingin ditanyakan oleh seniman untuk mendorong munculnya persepsi dan kesan-kesan visual baru.

7. Reflex

Ruang pamer karya seni ini dibuat dengan minim pencahayaan. Hanya ada sedikit lampu dari ujung pipa-pipa berbagai ukuran yang digantung dan direfleksikan cermin di lantai. Dengan suasana kegelapan ini, kita akan lebih fokus mendengar suara-suara yang dikeluarkan oleh pipa-pipa. Suara-suara tersebut antara lain suara gemericik air, suara gemericik air, dan suara kicauan burung. Mereka diperdengarkan dengan volume rendah sampai tinggi. Instalasi apik ini merupakan karya dari Setu Legi bersama Gatot Danar Sulistiyanto.

8. Yang Juga Mendengar

Jika tahun lalu kita dapat menikmati karya seni dari aktor ganteng Nicholas Saputra di Art Jog, tahun ini gantian penyanyi Tulus yang turut meramaikan ruang pamer. Tulus menjadi partner Davy Linggar dalam karya yang mereka beri judul "Yang Juga Mendengar". Mereka memamerkan foto-foto dokumentasi yang sederhana namun sarat makna. Kemudian, sebagai pelengkap foto-foto tersebut terdapat tulisan berupa dialog-dialog. Karya seni ini menggambarkan tentang pori kayu, besi, hingga dinding kayu yang bisa mendengar dialog-dialog orang yang berada di bangunan bernama rumah. Tulus yang sudah tidak kita ragukan lagi kemampuannya di bidang tarik suara penyanyi nyatanya juga piawai dalam menyajikan karya visual.

9. Carnival Trap

Mengangkat tema tentang demokrasi sebagai suatu karya seni sepertinya akan selalu menarik karena demokrasi akan terus menjadi sebuah instrumen yang sangat dekat dengan kehidupan. Seperti yang dilakukan Eko Nugroho dalam karya seni yang ia tampilkan di Art Jog 2018. Ia ingin menyoroti tentang fenomena masyarakat yang merayakan euforia demokrasi, yang kadang terasa berlebihan hingga muncul anarki di mana-mana. Euforia ini digambarkan seperti halnya sebuah karnaval. Menurut Eko yang pernah berkolaborasi dengan Miles Film dalam film Ada Apa dengan Cinta? 2, karnaval menjadi sarana yang bisa dipermainkan oleh berbagai pihak. Ia menciptakan instalasi dengan memanfaatkan barang-barang bekas atau sampah plastik seperti botol bekas kecap atau saos, kotak plastik kartu nama, dan lain-lain.

10. Translocation, Root Growth and Soil Respiration of Great Tropical Plants

Sekilas jika melihat karya dari Maryanto ini akan terlihat seperti lukisan biasa di atas kanvas. Namun, kita harus melihatnya lebih dekat lagi agar kita tahu bahwa karya ini adalah lukisan yang penuh dengan usaha. Maryanto terlebih dahulu mengecat seluruh permukaan kanvas dengan warna hitam. Baru setelah itu ia mengeriknya hingga menjadi sebuah lanskap. Karya dari seniman yang sudah beberapa kali mengikuti pameran di luar negeri ini menggambarkan kondisi perubahan area di pesisir pantai dan laut yang diakibatkan oleh faktor alam dan juga karena ulah manusia. Lukisan itu semakin dramatis dengan mode hitam putih.