MARI BLUSUKAN, BERBURU JAJANAN DI PASAR KOTAGEDE
Bernostalgia dengan Menjelajah Rasa

Pasar Kotagede, pasar rakyat tertua di Jogja yang menyimpan 'harta karun' tersembunyi bagi pemburu kuliner langka. Tak sekedar menjelajah rasa, mencicipinya mengingatkan kita pada masa kecil nan ceria.

Diperbarui tgl 10/16/2015

Jadah Manten

Bagi sebagian orang, melakukan suatu hal yang mengingatkan akan kenangan masa kecil adalah hal yang menyenangkan. Salah satunya menikmati kembali jajanan pasar yang menjadi kudapan sewaktu kecil. Sayangnya, seiring berlalunya waktu tak banyak ditemukan orang yang menjual jajanan pasar tradisional ini. Jika Anda rindu dengan jajanan pasar yang sering Anda makan saat kecil dulu, kami akan mengajak Anda berkeliling Pasar Kotagede.

Pasar Kotagede atau yang lebih dikenal dengan nama Pasar Legi Kotagede adalah pasar rakyat yang telah berdiri sejak zaman Panembahan Senopati, pada masa kerajaan Mataram Islam. Meski sudah mengalami renovasi, namun bentuk bangunan aslinya tetap dipertahankan. Masih diapit oleh Monumen Jumenengan Sri Sultan Hamengkubuwono IX yang disebut dengan Pacak Suji di sisi timur laut, dan gardu listrik induk tempo dulu yang dikenal dengan sebutan Babon Aniem di sisi barat laut pasar. Pelatarannya rimbun dengan pepohonan yang berjajar rapi, dan tentu saja selalu penuh sesak dengan aktivitas jual beli, khususnya pada hari pasaran Legi (penanggalan Jawa).

Pasar Kotagede bagian dalam

Memasuki pintu gerbang utama di utara, menemukan deretan 'harta karun' saat langkah pertama.

Ya, harta karun berupa deretan pedagang yang menjual aneka jajanan pasar dari yang basah hingga kering. Anda akan sangat mudah mengenali bagian jajan pasar ini karena letaknya yang berada tepat di tengah dan lebih rendah dari los pedagang di kanan kirinya. Beragam jajan pasar dapat Anda temukan di sini. Namun saran kami, cobalah untuk mencicipi jajanan khas Kotagede ini.

Kipo

Kipo, pertanyaan "Iki opo?" (ini apa?; Jawa) dari orang-orang yang penasaran dengan kudapan yang satu ini dipercaya menjadi awal mula nama kipo. Kulit luarnya terbuat dari tepung ketan yang diberi pewarna alami hjau dari daun suji, isinya enten-enten atau gula merah dicampur dengan parutan kelapa. Adonan tersebut dibentuk kecil seukuran jempol orang dewasa, ditata di atas selembar daun pisang, diletakkan di atas loyang (cobek) gerabah, kemudian dipanggang. Proses pemanggangan dengan gerabah itulah yang mengeluarkan aroma khas daun pisang bercampur dengan gurih beras ketan, parutan kelapa, manis gula jawa dan harum daun suji. Rasanya? Jangan ditanya. Manis-manis gurih serasa meleleh di dalam mulut ketika disantap.

Kue Kembang Waru

Kue kembang waru, kue yang merupakan legenda kuliner dari Kotagede ini bentuknya memang seperti bunga pohon waru yang banyak terdapat di Kotagede. Alkisah di masa penjajahan, penduduk pribumi menginginkan kue yang sering dibuat oleh para pendatang Inggris ataupun Belanda. Mereka kemudian mengadopsi resep kue dengan mencampur terigu, telur, susu, dan lemak nabati untuk membuat kue ini. Kini, kue kembang waru sudah sulit ditemukan meski di pasar tradisional sekalipun. Padahal dengan teksturnya yang empuk namun renyah, kue basah ini adalah pasangan serasi untuk menyesap teh hangat di sore hari.

Getuk

Satu lagi kue yang patut Anda coba, ukel manis. Kue kering yang sekilas masih satu keluarga dengan kue putri salju. Terbuat dari tepung terigu dan santan yang kemudian dibentuk menyerupai angka 8, digoreng, ditiriskan, lalu ditaburi dengan gula halus, memang membuat tampilan kue ini mirip dengan kue putri salju. Hanya saja berwarna kecoklatan.

Geplak

Semakin melangkah, semakin banyak Anda temukan jajan pasar di bagian tengah.

Di jalan pembatas antara los pasar yang memanjang dari utara ke selatan, ada banyak ibu-ibu bahkan simbah-simbah yang menjual jajan pasar beraneka ragam, diantaranya makanan tradisional khas Jogja seperti getuk dari Gunungkidul yang terbuat dari ketela dan geplak asal Bantul yang berwarna-warni, serta jadah manten.

Jenang Sumsum

Bermacam jenis jenang (bubur kental; Jawa) seperti jenang sungsum berwarna putih yang terbuat dari tepung beras dan santan, jenang mutiara dengan bulatan kecil merah mudanya yang khas, juga jenang grendul dengan bulatan berwarna coklat sebesar kelereng yang kenyal. Tak hanya itu saja, masih ada jenang ketan, wajik, dan bintul (teksturnya mirip getuk namun terbuat dari ketan dan kacang koro) yang dicetak dalam mangkuk ukuran besar, kemudian ditumplek (dibalik; Jawa) di atas daun pisang atau jati, lalu diiris-iris sesuai keinginan pembeli.

Grontol

Dua jajanan favorit saya. Sego jagung (nasi jagung) yang dibulat kecil-kecil seukuran kepalan tangan dan grontol yaitu pipilan jagung yang dikukus hingga matang dan mlethek (merekah; Jawa) dan ditaburi dengan parutan kelapa. Gurih dan murah. Hanya dengan 2000 rupiah saja, 3 orang bisa kenyang memakannya. Cicipilah, mungkin Anda juga akan menyukainya.

Nasi Jagung

Menuju ke belakang, blusukan mencari jajanan yang tak kelihatan.

Di sisi belakang, tepatnya di samping tumpukan gerabah dan keperluan rumah tangga yang terbuat dari anyaman bambu, tak sengaja saya menemukan penjual jajanan ini. Simbok yang membawa tenggok berlapis daun pisang. Isinya? Tape berbahan dasar ketela berwarna kuning segar dan wangi. Menerbitkan liur bagi siapa saja yang melintas di depannya. Coba saja.

Wajik

Tunggu dulu, masih ada kejutan di sisi luar pasar.

Nah, jika sudah puas membeli jajanan di dalam pasar. Melangkahlah ke pintu keluar di sisi barat. Jika beruntung, di sore hari, Anda akan menjumpai seorang simbah yang sudah cukup sepuh berjulan aneka jenis umbi-umbian yang sudah direbus. Ada uwi, berwarna ungu yang nikmat disantap dengan parutan kelapa dan dicocol sedikit garam. Kembili, bertekstur kenyal dengan bintik coklat dan akar serabut yang menempel di kulit luarnya. Enthik, yaitu umbi dari pohon talas. Terkadang ada juga garut, ganyong, dan ubi jalar dengan daging berwarna putih maupun kuning, pisang kapok, kacang tanah, dan kedelai rebus. Tak ketinggalan, kentang kleci rebus sebesar kacang tanah yang asik untuk dijadikan cemilan. Inilah 'harta karun' yang sesungguhnya karena beraneka ragam jenis umbi-umbian ini sudah sangat jarang ditemukan.

Tampak luar Pasar Kotagede

Jadi, Anda tertarik bernostalgia dengan berburu jajan pasar? Datanglah ke Jalan Mondorakan No. 172 B dan jangan segan-segan untuk blusukan. Selamat bernostalgia.

Keterangan:
Tulisan ini adalah pemenang dalam lomba menulis "Kuliner di Jogja".

Ulasan dari Wisatawan

Anda juga dapat menulis ulasan tentang Mari Blusukan, Berburu Jajanan di Pasar Kotagede berdasarkan pengalaman pribadi. Ulasan Anda bisa menyelamatkan liburan wisatawan lainnya dan mungkin memenangkan sebuah t-shirt eksklusif yang YogYes berikan setiap bulan. Isi ulasan sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.