TUR INDIS NAIK BUS KOTA
Mengunjungi Kawasan Indische di Yogyakarta dengan Bus Trans Jogja

Trans Jogja merupakan bus umum yang aman dan ber-AC dengan tarif Rp 3.600 sekali jalan. Artikel ini berisi itinerary jalan-jalan menggunakan Trans Jogja untuk menemukan bangunan-bangunan indis yang berciri perpaduan arsitektur Jawa dan Belanda.

Diperbarui tgl 10/16/2015

Durasi: 1 hari
Kategori: wisata arsitektur, sejarah, edukasi
Tempat yg dikunjungi: Loji Kebon (Gedung Agung), Benteng Vredeburg, Kawasan km 0 (Kantor Pos Besar, Gedung BNI, dan Gedung Bank Indonesia), Gedung Societet Militaire, Kawasan Kotabaru (Gereja St. Antonius, Gedung Kolese St. Ignatius)
Perkiraan biaya: Rp. 14.000 / orang (transportasi + tiket Benteng Vredeburg)

Masa pendudukan Belanda di Indonesia meninggalkan jejak sejarah yang salah satunya berupa bangunan fisik dengan ciri yang sangat spesifik. Di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Semarang, kawasan yang dulu menjadi pusat pemerintahan serta tempat tinggal warga Belanda dikenal dengan nama Kota Lama atau Kota Tua. Meskipun di Yogyakarta tidak ada kawasan yang bernama Kota Tua atau Kota Lama, sejatinya Kota Yogyakarta memiliki banyak bangunan indicheyang bersejarah. Bangunan tersebut tidak terpusat, melainkan menyebar di berbagai tempat mulai dari kawasan Titik Nol Kilometer, Jl. Sudirman, Jl. Mangkubumi, hingga Kotabaru. Menggunakan bus Trans Jogja, Anda dapat mengunjungi kawasan indichetersebut dan merasakan secuil aroma masa lalu.

Tur "Wisata Indis" dapat dimulai pada pagi hari baik dari Stasiun Tugu, Bandara Adi Sucipto, atau Jl. Malioboro. Bagi wisatawan yang baru saja turun dari kereta, Anda bisa berjalan kaki sekitar 5-10 menit ke Malioboro. Dari Halte Malioboro 1, silahkan naik bus Trans Jogja jalur 1A, 2A, atau 3A dan turun di Halte Ahmad Yani. Sedangkan bagi wisatawan yang baru saja tiba di Bandara Adisucipto, Anda dapat memulai tur ini dengan menggunakan Trans Jogja jalur 1A dan turun di Halte Ahmad Yani. Tujuan pertama adalah deretan loji (bangunan besar dengan halaman luas) di Kawasan Titik Nol Kilometer. Loji pertama yang dikunjungi adalah Loji Kebon yang sekarang bernama Gedung Agung dan berfungsi sebagai Istana Kepresidenan Yogyakarta. Meski tidak bisa memasuki kompleks gedung yang dibangun oleh arsitek Belanda, A. Payen, kita bisa menyaksikannya dari luar pagar.

Dari Loji Kebon, silahkan masuk ke loji tertua di Yogyakarta yang dikenal dengan nama Benteng Vredeburg (dewasa: Rp 2.000, anak-anak: Rp 1.000; +62 274 586934). Benteng yang memiliki bastion di keempat penjurunya ini memiliki koleksi diorama perjuangan bangsa Indonesia untuk meraih kemerdekaan. Pada bulan Juni-Juli, Benteng Vredeburg biasanya dijadikan lokasi Festival Kesenian Yogyakarta. Selain mengitari benteng dan museum, di tempat ini kita juga bisa mampir ke Cafe Indische Koffie (buka pk 09.00 - 23.00 WIB) yang menawarkan aneka menu tradisional barat maupun menu tradisional Indonesia dengan suasana klasik nan elegan. Menikmati makanan di Indische Koffie akan membuat kita merasa menjadi nona dan meneer Belanda yang sedang berwisata.

Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju perempatan nol kilometer. Di tempat tersebut terdapat bangunan Kantor Pos Besar, Gedung BNI, dan Gedung Bank Indonesia (BI) yang masih mempertahankan arsitektur aslinya dengan sedikit perubahan. Perjalanan kita lanjutkan ke arah timur, di belakang Taman Pintar juga terdapat bangunan indichelainnya yaitu Gedung Societet Militaire yang kini difungsikan sebagai gedung pertunjukan. Untuk melanjutkan perjalanan silahkan naik bus Trans Jogja jalur 1B dari Halte KHA Dahlan 2 (sebelah selatan Taman Pintar). Bus ini akan membawa kita menuju Kotabaru yang menjadi pusat permukiman warga Belanda kala itu. Sebelum sampai di Kotabaru, kita dapat menyaksikan deretan bangunan indichedi sepanjang Jl. Sudirman seperti Hotel Phoenix yang dekat dengan Kali Code dan bangunan yang sekarang digunakan sebagai restoran Pizza Hut.

Bangunan indichejuga akan ditemui di sepanjang Jl. Cik Di Tiro seperti RS Mata Dr. Yap dan SMPN 1 Yogyakarta. Kita bisa turun di Halte Cik Di Tiro 2 lalu menyeberang jalan ke Halte Cik Di Tiro 1, ambil jalur 3A untuk melanjutkan perjalanan ke daerah Kotabaru. Memasuki Jl. Suroto, kita langsung disambut dengan boulevard yang dipenuhi pohon rindang. Dulunya, kawasan Kotabaru memang dirancang sebagai garden city sehingga dilengkapi dengan tanaman berbunga, pohon peneduh, bangku-bangku taman, serta ruas jalan yang cukup lebar. Keberadaan bangunan indichedi Kotabaru rata-rata masih terawat dengan baik dan terus difungsikan hingga kini.

Sejumlah bangunan bersejarah bisa dijumpai antara lain Gedung SMAN 3 yang dahulu merupakan Gedung AMS (Algemene Middelbare School), gedung SMP 5 yang dahulu merupakan Normalschool, serta Gedung SMU BOPKRI 1 yang dulunya adalah Gedung Christeijke MULO dan Akademi Militer. Gedung lainnya yang tak kalah unik adalah Kantor Asuransi Jiwasraya dan Gedung Bimo yang dibangun dengan konsep art deco. Saat ini Gedung Bimo digunakan sebagai gedung pertemuan. Bus Trans Jogja kemudian akan melaju membawa kita melewati Jl. FM Noto yang juga dilengkapi dengan boulevard. Di sudut Jl. FM Noto kita bisa menyaksikan gardu listrik peninggalan Belanda yang cukup unik dan jarang dijumpai di kawasan lain.

Jika ingin menikmati suasana tempoe doeloe di Kotabaru, silahkan turun di Halte Kotabaru. Dari sini kita bisa melanjutkan tur "Wisata Indische" dengan berjalan kaki menyusuri ruas-ruas jalan yang teduh. Ada beberapa tempat yang bisa dituju seperti Gereja St. Antonius maupun Gedung Kolese St. Ignatius yang dahulu merupakan kantor Kementrian Pertahanan. Rumah-rumah warga bergaya Belanda pun masih banyak dijumpai meski sekarang sudah dialihfungsikan menjadi toko, cafe, butik, atau gedung perkantoran. Puas menikmati aroma masa lalu di Kotabaru, kita bisa mampir sejenak ke Teras Javana Resto (buka pk 11.00 - 23.00 WIB; harga makanan Rp 5.000 - Rp 35.000; Jl. Abubakar Ali 24-26; +62 274 541290). Restoran dengan menu barat ini bertempat di salah satu bekas rumah Belanda lengkap dengan tangki minyak besar kuno di kebunnya. Pilihan tempat nongkrong lainnya yang lebih murah adalah House of Raminten (buka 24 jam; harga makanan Rp 1.000 - Rp 20.000; Jl FM Noto 7, Kotabaru; +62 274 547315).

Usai makan, perjalanan dilanjutkan menuju Malioboro dengan Trans Jogja jalur 3A dari Halte Kotabaru. Sesampainya di Halte Sudirman 2 (depan Hotel Santika) silahkan turun dan transit ke jalur 1A. Bus Trans Jogja akan membawa kita melewati Jl. Mangkubumi yang juga memilik bangunan tua seperti Toko Ice Cream Tip Top yang sudah ada sejak jaman pendudukan Belanda dan masih bertahan hingga kini. Selanjutnya bus akan membawa kita ke Malioboro melewati samping Jembatan Kewek yang berasal dari kata Kerkweg. Tur Wisata indiche pun berakhir di Malioboro, tempat di mana banyak kenangan, sejarah, dan kisah melebur dalam seruas jalan.