MUSEUM KOLONG TANGGA
Nostalgia Masa Kanak-kanak yang Bahagia

Jl. Sriwedari 1, Yogyakarta (Lantai 2 Gedung Taman Budaya Yogyakarta), Indonesia
(0274) 523 512

Lihat peta

Museum Kolong Tangga bagaikan oase bagi anak-anak generasi Z yang hanya mengenal ketapel lewat Angry Bird di layar gadget. Mengunjunginya bersama anak-anak pun serasa bernostalgia sambil mengenalkan berbagai mainan tradisional yang sarat budaya.

Diperbarui tgl 6/5/2016

Lihat foto lainnya (14 foto)

Tiket
Dewasa: Rp 4.000
Anak-anak usia di bawah 14 tahun: Gratis

Buka Selasa - Minggu
Pk. 09.00 - 16.00

Beberapa anak laki-laki bergerombol di halaman rumah, asyik bermain kelereng atau beradu gangsing kayu. Sementara anak-anak perempuan lebih memilih bermain dakon atau bongkar pasang kertas di teras rumah. Kelebat nostalgia masa kanak-kanak itu pun silih berganti seperti slide yang diputar dalam kepala ketika memasuki Museum Kolong Tangga. "Saya dulu juga pernah punya mainan ini!" Entah berapa kali kalimat ini saya lontarkan ketika melihat beberapa koleksi yang tertata rapi di etalase-etalase kaca.

Museum Kolong Tangga merupakan museum pendidikan dan mainan pertama di Indonesia yang didirikan pada tahun 2008. Sebelum dikenal sebagai Museum Pendidikan dan Mainan Kolong Tangga seperti sekarang, museum ini populer dengan nama Museum Anak Kolong Tangga. Nama uniknya merupakan makna literal dari lokasi museum yang berada tepat di bawah tangga menuju concert hall Taman Budaya Yogyakarta. Mengunjunginya, sedikit mengingatkan saya pada kamar Harry Potter di rumah keluarga Dursley pada serial buku karya J.K. Rowlings. Meskipun tak sebesar Childern's Museum Indianapolis atau Penang Toy Museum, namun museum ini telah memiliki sekitar 17.000 koleksi mainan tempo dulu serta objek-objek kontemporer yang berhubungan dengan dunia anak. Sayangnya tak semua koleksi dapat kita temukan di museum karena tempatnya yang terbatas. Sebagian besar koleksi disimpan di gudang museum yang terletak di daerah Mantrijeron dan dipamerkan secara bergantian setiap tahun sesuai tema.

Seperti saat YogYES berkunjung, tema yang sedang dipamerkan adalah semua hal yang berhubungan dengan perkembangan kehidupan anak-anak dari lahir hingga memasuki masa sekolah. Di dalam ruangan yang tak terlalu besar dengan dinding penuh gambar warna-warni, terlihat beraneka ragam mainan mulai dari berbagai jenis boneka, gangsing, bongkar pasang, robot mainan, monopoli, congklak bahkan peralatan belajar tradisional seperti batu sabak dan sempoa. Tak hanya mainan dari penjuru nusantara, terlihat pula berbagai mainan dari mancanegara seperti boneka khas Rusia, Matryoska serta Marionette yang merupakan karakter utama dalam kisah Pinocchio.

Menurut seorang profesor, teoritis budaya dan sejarahwan dari Belanda, Johan Huizinga, manusia merupakan makhluk bermain, makhluk yang suka bermain dan menciptakan permainan atau lebih populer dengan istilah Homo Ludens. Dalam bukunya yang berjudul Homo Ludens; a Study of Play Element in Culture, juga disebutkan bahwa mainan dan permainan merupakan bagian dari kebudayaan manusia itu sendiri. Konsep inilah yang membuat Rudi Corens, seorang seniman asal Belgia yang sudah lama menetap di Jogja, tergelitik untuk mendirikan Museum Kolong Tangga. Menurut kolektor mainan mancanegara ini dan beberapa pendiri museum lainnya, lewat mainan dan permainan tradisional yang merupakan salah satu folklore, anak-anak tak hanya sekedar bermain namun juga akan mengenal tradisi serta budaya bangsanya.

Cara menuju ke sana:
Dari 0 Km - Jl. Panembahan Senopati - Jl. Sriwedari - Taman Budaya Yogyakarta - Museum Anak Kolong Tangga