CANDI SEWU
Simbol Bhinneka Tunggal Ika dari Nenek Moyang Indonesia

Dukuh Bener, Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Propinsi Jawa Tengah
Lihat peta

Candi Sewu tak sekadar didirikan sebagai tempat ibadah di masa Kerajaan Mataram Kuno. Lebih dari itu, nenek moyang mendirikan candi ini juga karena ada falsafah yang ingin mereka sampaikan untuk anak cucunya. Salah satunya tentang persatuan bangsa.

Diperbarui tgl 8/13/2018

Lihat foto lainnya (14 foto)

Waktu Buka Candi Sewu
Setiap hari pukul 06.00 - 17.00 WIB

Harga Tiket Masuk Candi Sewu(2018)
Dewasa Rp40.000
Anak-anak Rp20.000
Wisata asing $25

Jika ditanya kapan masyarakat Indonesia pertama kali mendengar atau membaca semboyan bhinneka tunggal ika, mungkin mayoritas akan menjawab, "Saat masih di bangku sekolah dasar." Begitu pentingnya kebinekaan bagi bangsa Indonesia sampai-sampai sejak dini anak-anak telah ditanami wawasan itu. Semboyan itu bak di luar kepala untuk masyarakat Indonesia yang sudah berusia dewasa. Namun, apakah semboyan itu benar sudah meresap dalam sanubari setiap warga?

Nenek moyang Indonesia bukan tanpa alasan saat menciptakan semboyan bhinneka tunggal ika. Seperti yang kita ketahui dari buku teks SD, kata bhinneka tunggal ika ditemukan pada kitab Sutasoma yang dikarang oleh Mpu Tantular di zaman kerajaan Majapahit abad XIV. Namun, jauh sebelum itu, ternyata kebinekaan masyarakat itu sudah ditunjukkan saat Candi Sewu didirikan yakni pada tahun 754 Masehi.

Candi Sewu yang bernuansa agama Buddha merupakan tempat ibadah di zaman Kerajaan Mataram Kuno. Candi ini tak berdiri sendiri, melainkan bersama dengan candi-candi lain seperti Candi Bubrah, Candi Gana (Asu), Candi Lor, dan Candi Kulon membentuk kompleks candi Buddha di Kompleks Prambanan. Tersebarnya candi-candi Buddha di sekitar Candi Sewu mengisyaratkan mula-mula nenek moyang memiliki keyakinan Buddha.

Lambat laun, berkembanglah keyakinan Hindu di tengah-tengah Kerajaan Mataram Kuno. Perbedaan keyakinan itu tak membuat mereka saling bermusuhan. Saling memperseterukan keyakinan hanya akan membuat hidup kian terbebani dan tak tenang. Alih-alih bermusuhan, umat Buddha dan umat Hindu malah secara bergantian memimpin Kerajaan Mataram Kuno. Itulah kehidupan: meski memiliki keyakinan yang berbeda, setiap manusia tetap akan saling membutuhkan.

Sukses menciptakan kompleks candi Buddha, nenek moyang bersama-sama dari Hindu maupun Buddha mendirikan mahakarya Candi Prambanan yang bercorak Hindu di dekat kompleks candi Buddha pada tahun 856 Masehi. Inilah bukti bahwa bhinneka tunggal ika sangat dalam meresap ke dalam hati para nenek moyang bahkan jauh sebelum dituliskan dalam kitab.

"Benar dulu ada kata-kata bhinneka tunggal ika, tan hana dharma mangrwa, berbeda-beda tetapi tetap satu, tidak ada darma atau keyakinan yang mendua. Pada waktu itu Hindu Buddha satu kesatuan, sehingga ketika awal bermuasalnya adanya Kerajaan Mataram Kuno pada waktu itu mereka satu keturunan," ungkap Koordinator Publikasi dan Pemanfaatan Budaya Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah, Wahyu Kristanto. "Tetapi ada keturunan beragama Hindu yang mendirikan Wangsa Sanjaya, kemudian keturunan yang beragama Buddha mereka mendirikan Wangsa Syailendra," lanjutnya.

Secara administratif Candi Sewu terletak di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Jaraknya kurang dari satu kilometer ke arah utara dari Candi Prambanan. Untuk masuk ke Candi Sewu kita bisa membeli tiket dari loket Prambanan.

Memasuki Candi Sewu dapat melalui empat pintu masuk yang berada di setiap arah penjuru mata angin. Kala memasuki pintu masuk candi ini kita akan menemukan sepasang patung raksasa Dwarapala. Patung ini berfungsi untuk menetralkan energi negatif setiap orang yang masuk. Lebih masuk ke dalam, tampak reruntuhan batu-batu candi yang berpencaran di berbagai tempat sehingga menciptakan suasana melankolis. Mayoritas candi ini saat ditemukan memang dalam keadaan tidak utuh. Butuh waktu puluhan tahun lagi untuk bisa mengembalikan ke keadaan utuh kembali, meskipun pemugaran telah secara bertahap dilakukan oleh pihak pemerintah.

Candi Apit akan menyambut kita saat berjalan ke dalam lagi. Dari arah mata angin mana pun, kita akan melewati Candi Apit ini. Tak luput juga terdapat banyak Candi Perwara (pendamping) yang mengelilingi candi induk. Satu kesatuan Candi Sewu itu memiliki nama asli Manjushri Graha. Nama ini tertulis di dalam prasasti yang ditemukan. Namun, masyarakat kemudian memberi nama Candi Sewu karena mereka biasa menyebut benda yang jumlahnya banyak dengan sebutan "sewu."

Di bagian candi induk dikelilingi oleh empat penampil di arah penjuru mata angin. Struktur penampilnya berdiri sendiri, seakan sebagai bangunan tambahan. Seluruh penampil ini terhubung dengan struktur bilik utama. Secara arsitektur Candi Sewu dan Candi Prambanan hampir sama konstruksinya. Perbedaannya, jika di Candi Sewu penampilnya masih ada lorongnya, sedangkan Candi Prambanan sudah menjadi satu sehingga bisa membuat bangunan yang tinggi.

Relief di Candi Sewu tidak menampilkan cerita seperti di Candi Prambanan karena fungsi utama candi ini adalah untuk menyembah Dewa Manjushri, bukan sebagai persembahan untuk raja. Di dinding-dinding Candi Sewu memuat gambar-gambar tumbuh-tumbuhan dan makhluk yang menghuni alam semesta seperti manusia, buto, dan sebagainya. Candi Sewu dan seluruh candi corak Buddha memiliki tiga tingkatan, yakni kamadhatu yaitu dunia manusia sekarang yang masih penuh dengan nafsu dan dosa, dunia manusia yang telah disucikan 'rupadhatu', dan dunia para dewa 'arupadhatu.' Bagian arupadhatu di Candi Sewu berada di atap candi.

Daya tarik Candi Sewu telah diakui oleh badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yakni United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) sebagai kompleks candi dengan nuansa Buddha terbesar di Indonesia bersama-sama dengan Candi Lumbung, Candi Bubrah, Candi Sewu, dan Candi Gana. Selain mengajarkan untuk menjaga kerukunan umat beragama, dengan adanya Candi Sewu dan candi-candi lainnya, nenek moyang mengajarkan falsafah penting kepada anak cucunya. Ajarannya yakni untuk bertakwa kepada Tuhan, kegotong-royongan antar manusia, memelihara lingkungan sekitar, dan menerima pengaruh dari luar dengan tetap menjaga ciri khas Indonesia. Secara tersirat, dengan adanya candi-candi, nenek moyang ingin mengajarkan untuk menjaga keseimbangan dengan Tuhan, manusia, dan alam.

Cara menuju ke sana:
Jalan Raya Jogja - Jalan Janti - Jalan Raya Solo Yogyakarta - Jalan Candi Sewu - Candi Sewu