NASIRUN STUDIO
Rumah Bagi Lukisan Si Perupa Sufi Jutawan

Perum, Bayeman Permai C2, Jl. Wates KM 3, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul, DIY
0877 3878 7311 0877 3878 7311

Lihat peta

Di Nasirun Studio, kita bisa melihat sendiri dua sisi pelukis ternama yang meskipun kaya raya, konon tidak punya ponsel dan tidak tahu cara menyetir. Kita bisa melihat kekayaannya yang bergelimang sekaligus karya-karyanya yang memanjakan organ pandang.

Diperbarui tgl 8/9/2018

Lihat foto lainnya (24 foto)

Jam Buka
08-00-16.00 Hari Kerja (Sebaiknya janjian terlebih dahulu dengan Mbak Pipin)

Tiket Masuk (2018)
Gratis

Siapa yang tak kenal Nasirun? Pelukis Yogyakarta satu ini sudah malang melintang di jagat kesenian untuk beberapa dekade belakangan. Daftar pameran tunggal pelukis yang dijuluki Pelukis Sufi ini karena usahanya terus menerus mencari Tuhan sudah cukup panjang. Lebih-lebih lagi pameran bersamanya. Dalam empat tahun belakangan, ia misalnya sudah tiga kali berpartisipasi dalam ArtJog, salah satu perhelatan kesenian terbesar di Yogyakarta. Terakhir di pameran ini, ia menampilkan karya berjudul "Hutan Diliapat", sebuah lukisan abstrak sepanjang 75 meter.

Awal tenarnya nama pelukis kelahiran Cilacap, 1 Oktober 1965 dimulai pada tahun 1997, saat ia memenangi Penghargaan Philip Morris untuk lukisannya yang berjudul "Larut Dalam Warna". Lukisan dengan lebar 145 sentimeter x 140 sentimeter yang menampilkan sosok-sosok raksasa dengan warna-warna berbeda itu berhasil membuat karya-karya yang tercipta dari sapuan kuasnya diapresiasi dan dihargai begitu tinggi. Saat ini, karya-karya Nasirun sudah diminati oleh begitu banyak orang. Salah satu peminat yang patut dicatat namanya misalnya adalah dr. Oei Hang Djien, kolektor seni ternama dari Indonesia. Dengan demikian, sudah barang lumrah, bila kesuksesan finansial berhasil diraihnya dengan mudah sekarang ini, sampai-sampai ia disebut pelukis milyuner di mana-mana.

Karya-karya Nasirun bisa kita nikmati di studio koleksi pribadinya di Yogyakarta, selain karya-karya dari seniman lain yang ia koleksi. Di dua rumah di kompleks Perumahan Bayeman Permai, ia mengoleksi seribuan karya seni yang bisa dinikmati siapa saja tanpa biaya sepeserpun.

Saat saya berkunjung ke sana, saya pertama-tama memasuki rumah yang menampung karya-karya Nasirun sendiri. Ratusan karya dari nyaris seluruh fase karirnya sebagai seniman yang terbentang hampir tiga dekade tersebar seantero sisi rumah besar berlantai dua itu. Ada yang berukuran kecil, seperti ratusan kartu undangan pameran karya Nasirun di garasi rumah; ada pula yang berukuran amat besar, seperti seni instalasi yang terbuat puluhan biji kelapa di langit-langit rumah. Dan di antara garasi dan langit-langit, terpamer karya-karya Nasirun lainnya yang antara belum terjual atau memang tidak dijual. "Karya-karyanya yang lama sudah tidak dijual lagi," kata Mbak Pipin, asisten keluarga Nasirun.

Namun selain banyak dalam hal jumlah, hasil karya Nasirun di studionya juga beragam dalam hal medium. Secara umum memang karya-karya Nasirun bisa dikategorikan sebagai lukisan. Akan tetapi, tidak semua lukisannya mewujud di atas kanvas. Nasirun adalah seniman yang tidak membatasi dirinya dalam hal medium lukisan. Lihat saja, karyanya ada yang dilukis di atas lempengan kayu, di badan biola, di lengkung bedug, di papan-papan perahu, di angkringan, bahkan di seluruh sisi lantai kayu. Dan selain ini, Nasirun juga pernah melukis di atas badan mobil-mobil mewah, yang mengantarkannya mendapatkan penghargaan MURI. Karyanya yang ini tidak dipamerkan di rumahnya, sayangnya.

Hanya, dalam konteks gaya dan isi, karya Nasirun bisa dibilang cukup konsisten. Sepanjang dekade demi dekade karirnya, secara umum ia sering melukis menggunakan kontras antara warna cerah yang intens (biasanya merah, hijau, biru terang) dengan warna gelap yang tidak kalah intens (hitam, biru tua, ungu tua). Kedua kelompok warna tadi dimainkan dalam bingkai garis-garis curvilinear, sampai tidak menyisakan sedikitpun ruang kosong pada medium lukisnya, sehingga kontras cerah-gelap menjadi begitu tajam. Lukisan yang ilustratif adalah beberapa lukisannya di lantai dua rumah yang dominan berwarna merah kirmizi dan hitam.

Namun meski cukup konsisten, tentu ada saja pengecualian. Misalnya, saat melihat lukisan Nasirun yang terbaru, gaya awal ekspressionismenya yang begitu 'penuh', mulai merenggang. Ia tetap senang menggunakan kedua extremes kelompok warna, cerah maupun gelap, tetapi karena ia tidak lagi mengisi semua ruang dengan kentalnya kontras dan membiarkan cukup banyak mediumnya tetap putih tanpa sentuhan, kontras yang begitu tajam di lukisan awalnya menjadi jauh lebih lembut, bahkan nyaris menghilang sama sekali. Hal ini terlihat dari lukisan-lukisannya di lantai satu yang sepertinya baru selesai, tepatnya di sekitar wilayah piano yang sudah disulap jadi karya seni pula. (Uhm, tapi tentu kalau lukisan-lukisan ini tidak keburu dibeli orang juga nanti.)

Dalam masalah isi lukisan pun, Nasirun bisa dibilang konsisten, meskipun sama seperti gayanya, tidak bisa dibilang sangat konsisten. Sejak awal, Nasirun yang pada satu sisi begitu 'terpana' dengan kebudayaan Ngayogyakarta dan di sisi lain tergila-gila mencari Tuhan karena pengaruh ayahnya yang merupakan seorang guru tarekat, hampir selalu melukis tokoh-tokoh wayang yang didistorsi dari bentuk konvensionalnya; makhluk fantastis dan bentuk-bentuk yang meskipun unik, bisa diduga-duga sumber asalnya, misalnya makhluk-makhluk mirip Buraq dari mitologi Islam.

Figur-figur ini kemudian ia presentasikan sendiri, berdua, maupun beramai-ramai. Ada misalnya lukisan berisi siluet nampak samping Semar, tetapi yang begitu jauh didistorsi dari bentuk aslinya untuk menimbulkan efek humor. Bayangkan sosok pria-wanita itu tetap dengan kepala, payudara, dan sedikit perut buncitnya, tetapi dengan badan atletis patung pemuda Yunani. Lukisan ini begitu lucu buat saya.

Nasirun tidak selalu melukis isi surealisme figur wayang dan makhluk fantasinya. Di lain waktu, isi lukisannya yang kebanyakan berisi dunia surealisme mitologi personalnya sama sekali ia jadikan lukisan abstrak. Hal ini terlihat pada sebagian lukisan-lukisan barunya di sekitar piano. Karena alasan inilah secara isi, seperti di masalah gaya, Nasirun tidak bisa dibilang begitu konsisten.

Cara tercepat untuk mengerti aspek isi lukisan Nasirun adalah dengan memperhatikan sebuah lukisan self-portraitnya. Di bagian tengah lukisan, tergambar dengan gaya naturalis sosok Nasirun yang hanya mengenakan sarung. Di bagian luar lukisan, dilambangkan dengan simbol-simbol kepercayaan di seluruh dunia, sisi Nasirun yang tergila-gila mencari Tuhan disampaikan. Lalu di bagian terluar lukisan, berserak di mana-mana figur-figur wayang yang menggambarkan keterpesonaan dirinya akan kebudayaan Jawa. Lukisan ini bisa dibilang potret dirinya sebagai seorang seniman; kredonya sebagai seorang pelukis.

"Mbak, sudah Mbak," kata saya memberitahu Mbak Pipin setelah puas berkeliling. Selanjutnya ia mengantarkan saya ke rumah koleksi kedua yang memuat tidak kalah banyaknya karya, tetapi yang bukan karya Nasirun sendiri. Rumah kedua itu memuat karya-karya seniman-seniman yang Nasirun anggap sebagai "guru"-nya, seniman-seniman Indonesia yang ia sebut para "pejuang kebudayaan".

Hampir semua karya di rumah kedua itu adalah lukisan, dengan bermacam-macam kelompok gaya lukis (naturalisme, impresionisme, dan ekspresionisme) dan isi (realisme, surealisme, dan abstrak). Ada misalnya lukisan Danarto yang semasa hidupnya begitu dekat dengan Nasirun. Ada juga karya-karya dari pelukis Sanggar Bambu, yang memang sengaja diburu Nasirun. Di luar lukisan, ada pula sketsa dan patung, misalnya patung Gus Dur di lantai satu. Ada begitu banyak karya, sehingga sekali berkunjung rasanya tidak cukup untuk memperhatikan setiap detailnya.