BERBURU LAILATUL QADAR DI MASJID BESAR KAUMAN
Menyempurnakan Ibadah Ramadhan di 10 Hari Terakhir

Berdirinya Masjid Besar Kauman Yogyakarta tidak dapat dipisahkan dengan lahirnya Kasultanan Yogyakarta dan berdirinya Keraton Yogyakarta. Beribadah di masjid ini tentunya sekaligus menjadi kegiatan tapak tilas untuk mengingat sejarah Yogyakarta.

Diperbarui tgl 6 Juni 2018

Kehadiran bulan suci Ramadhan selalu disambut dengan penuh suka cita oleh umat muslim di seluruh dunia. Di antara rangkaian ibadah dalam bulan Ramadhan yang sangat dipelihara sekaligus diperintahkan adalah iktikaf. Iktikaf merupakan kegiatan berdiam diri di masjid sebagai ibadah yang diutamakan pada bulan Ramadhan, terlebih pada 10 hari terakhir.

Salah satu masjid yang diserbu jamaah di 10 hari terakhir bulan Ramadhan adalah Masjid Besar Kauman Yogyakarta. Selain karena masjid ini memiliki arsitektur bangunan yang unik, juga karena masjid ini sarat sejarah berkaitan lahirnya Yogyakarta, sehingga banyak jamaah yang memilih bermuhasabah di tempat ini. Masjid Kauman ini termasuk masjid yang dituakan karena berdiri sejak 29 Mei 1773. Selama Ramadhan banyak jamaah dari luar wilayah Kauman yang berdatangan untuk mengikuti serangkaian event di sana.

Perwakilan panitia Ramadhan Masjid Besar Kauman Yogyakarta, M. Waslan Aslan menjelaskan di 10 hari terakhir bulan Ramadhan masjid ini akan melayani penerimaan mukimin atau orang-orang yang ingin tinggal di masjid.

"Biasanya yang mendaftar menjadi mukimin sebanyak 30-an orang. Biayanya 15 ribu sehari, nanti disediakan konsumsi untuk sahur," ujarnya saat ditemui di kantor sekretariat takmir Masjid Besar Kauman Yogyakarta.

Waslan menambahkan tidak ada kegiatan khusus untuk mukimin. Kegiatan selama menjadi mukimin Masjid Besar Kauman Yogyakarta dilakukan oleh masing-masing individu dan pihak masjid membebaskan mereka untuk melakukan aktivitas keagamaan seperti tadarus Alquran, iktikaf, dan lain-lain. Bagi masyarakat yang ingin mengikuti kegiatan ini dapat mendaftar di Waslan dengan mendatangi langsung kantor sekretariat takmir masjid.

Masjid Besar Kauman memang jamaahnya tidak pernah sepi, terlebih saat pelaksanaan iktikaf untuk berburu lailatul qadar di 10 hari terakhir Ramadhan pada dini hari. Akan ada tirai hijab yang membatasi antara saf putra dan putri. Saf putri terletak di belakang saf putra, tepatnya di pojok kiri ruangan liwan atau ruang utama. Jamaah putri bisa memasuki ruang utama dengan pintu yang ada di sebelah kiri.

Ruang liwan merupakan ruang salat di mana ketika melaksanakan ibadah ini kita benar-benar menyerahkan seluruh urusan dunia sejenak untuk melaksanakan kewajiban menghadap kepada Allah SWT. Pada langit-langit liwan berbentuk bujur sangkar yang disebut wajikan karena menyerupai bentuk irisan makanan wajik. Wajikan menyimbolkan empat arah mata angin yang melambangkan keeratan hubungan antarmuslim di dunia.

Pada ruangan mihrab atau tempat imam memimpin salat berjamaah, pintunya terdapat kaligrafi berwarna kuning keemasan. Di sisi kanan kirinya terdapat lengkungan dengan ornamen tanaman dan kaligrafi juga. Interiornya yang tradisional khas Yogyakarta akan semakin membuat jamaah enggan beranjak dari masjid yang dibangun atas prakarsa dua tokoh Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono I dan Kiai Faqih Ibrahim Diponingrat.

Bangunan masjid ini beratapkan susun tiga dengan gaya tradisional Jawa bernama 'Tajug Lambang Teplok' dengan mustaka daun kluwih, daun nanas, gadha, dan bunga yang ditopang oleh tiang-tiang dari kayu jati di mana usianya sudah ratusan tahun. Dinding masjidnya terbuat dari batu putih dan lantainya dari batu hitam. Di halamannya, sebelah utara dan selatan didirikan dua ruang gamelan yang biasa disebut pagongan.

Jamaah Masjid Besar Kauman Yogyakarta selama beriktikaf akan menemukan kedamaian dan ketenangan hati. Lampu yang tidak terlalu bersinar terang menambah kekhusyukan mereka yang bermunajat kepada Sang Pencipta. Nuansa masjid yang dibangun ulama sepuh ini tentunya akan memiliki tempat tersendiri untuk dipilih sebagai tempat berburu berkah lailatul qadar.