SOTO DJIANCUK
Bukan Kata Umpatan, Melainkan Ungkapan Persahabatan

Jl. PGRI II No.59, Sonopakis Lor, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta 55182 +62 812-2734-3471 Lihat peta

Bagaimana jika Anda disapa dengan sebutan djiancuk? Marah bukan? Namun, tidak bagi Suparjinah, pemilik warung soto nyentrik di Bantul. Ia sering disapa dengan sebutan 'ibu soto djiancuk'. Alih-alih marah, ia malah merasa bangga dengan sebutan itu.

Diperbarui tgl 23 Desember 2021

Soto Djiancuk

Soto Djiancuk
(YogYes.com / Jaya Tri Hartono)

Waktu Buka Soto Djiancuk
Setiap hari pk 08.00 - 18.00 WIB

Harga Makanan (2018)
Rp1.000 - Rp15.000

Harga Minuman (2018)
Rp1.000 - Rp9.000

"Djiancuk! Gak ngetok-ngetok koe. Ningdi ae?" Pemilik warung Soto Djiancuk, Suparjinah mempraktikkan aksen Bahasa Jawa Timur saat seseorang bertemu dengan teman lama yang sudah lama berpisah. Jika orang lain menganggap kata djiancuk adalah kata umpatan kasar, tidak bagi Suparjinah. Ia lebih menganggap djiancuk sebagai ungkapan persahabatan. Menurutnya, orang yang sudah bersahabat lama akan biasa menggunakan kata djiancuk satu sama lain.

Baca juga:

Warung Soto Djiancuk adalah warung soto khas Blitar, Jawa Timur yang ada di Yogyakarta sejak tahun 2000. Pemberian nama djiancuk juga menjadi penegasan bahwa soto yang ada di warung ini asli khas Blitar. Nama warung Soto Djiancuk diakui Suparjinah sebagai pemberian dari suaminya yang notabene asli orang Blitar. Memiliki suami orang Blitar, membuat Suparjinah merasa terbiasa dengan kata djiancuk. Ia pun menganggap djiancuk bukanlah kata umpatan kasar, melainkan kata sehari-hari yang biasa diucapkan oleh orang-orang Jawa Timur.

"Dikasih nama djiancuk itu biar orang jadi penasaran. Kok rasa sotone yo bedo," tutur Suparjinah sambil memetik tangkai cabai setan di tampah saat tim Yogyes mendatangi warung Soto Djiancuk.

Namun, ada hal lain yang ingin coba Suparjinah ungkapkan secara tidak langsung dengan soto khas Blitar yang disematkan nama Soto Djiancuk itu. Bahwa ia telah jatuh cinta dengan kota Blitar, bahkan ia sampai menjatuhkan hatinya dengan orang Blitar untuk menjadi teman hidup. Suparjinah mengaku mendapatkan resep soto khas Blitar dari nenek buyut suaminya. Lalu Suparjinah dan suami mendapat ide untuk berjualan soto khas Blitar di tempat tinggal mereka sekarang, Bantul.

Soto Djiancuk khas Blitar ini memang rasanya berbeda dengan kebanyakan soto di Bantul atau di Jogja. Racikan rempah-rempah khas soto Blitar yang nendang membuat soto ini berbeda dari soto di Jogja. Soto yang satu ini disajikan dengan menggunakan mangkuk berukuran diameter sekitar 12 sentimeter. Agak lebih kecil dengan ukuran mangkuk yang biasa digunakan untuk menyantap kebanyakan menu soto. Namun, mangkuk ini berisi full soto hingga ke bibir mangkuk. Jadi, penyajian soto ini selalu dilengkapi dengan piring lepek agar sotonya tidak tumpah.

Kuah kental kaldu sapi menghasilkan rasa gurih dan segar pada Soto Djiancuk. Komposisi sotonya berupa tauge yang masih sangat segar, irisan daging sapi, bihun, irisan tipis kentang goreng, seledri, irisan tomat, taburan bawang goreng, dan irisan telur rebus. Bumbu rempahnya sangat terasa, tanpa diberi tambahan seperti kecap, sambal, atau perasan jeruk nipis. Sebagai pelengkap, di setiap meja telah disediakan piring berisi mendoan. Ada pula sate ayam dan sate keong sebagai penambah santapan sotonya. Soto Djiancuk cukup murah harganya, hanya Rp12.000 untuk nasinya yang dicampur dengan soto, dan Rp15.000 untuk nasinya yang dipisah.

Tidak seperti saat dulu awal dibuka yang memiliki dua bangunan yang terdiri dari bangunan warung di dalam rumah dan bangunan joglo di sebelah baratnya, warung Soto Djiancuk kini hanya menggunakan satu bangunan di dalam rumah saja. Soto Djiancuk food truck yang dulu menghiasi jalanan di Jalan Magelang juga sudah tak beroperasi lagi lantaran Suparjinah tak mau merepotkan anaknya mengurusi food truck itu, meskipun anaknya tak keberatan membantu ibunya berjualan soto.

Meskipun ada hal-hal yang berubah dari warungnya, tetapi rasa Soto Djiancuk tidak berubah sejak didirikan 18 tahun silam. Tatanan perabot di warung yang sekaligus menjadi rumah bagi pemiliknya itu pun masih sama : sepeda-sepeda dan motor-motor tua berbaris rapi di depan warung, di sisi yang lain mobil tua sengaja dionggokkan, turut serta lukisan-lukisan dengan media kanvas berukuran besar-besar yang dilukis oleh suami Suparjinah sendiri. Suami Suparjinah yang notabene seorang seniman memang memiliki peran yang besar dalam menyusun interior dan eksterior warung. Ia juga sengaja menjadikan warung Soto Djiancuk sebagai galeri lukisannya.

Dinding batu bata dengan bingkai kayu jendela yang miring sering membuat pengunjung bertanya-tanya. Ada pula barisan bambu-bambu, kelapa-kelapa tua, seikat jagung, bentuk tulang ikan dari bambu, dan gergaji-gergaji yang berjejer di dinding sisi timur semakin menambah nilai eksentrik yang hanya orang yang sudah melanglang buana di dunia seni saja yang tahu. Djiancuk tenan!

Cara menuju ke sana:
Dari Titik Nol Kilometer - Jalan KH Ahmad Dahlan - Jalan Yogyakarta-Wates - Jalan IKIP PGRI I Sonosewu - Jalan PGRI II - Soto Djiancuk

Baca juga:
view photo