SIDO SEMI
Yang Hilang dan Yang Tersisa

Prenggan, Kotagede, Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55172
Lihat peta

Kita yang ingin mencoba menu nostalgia Sido Semi patut bergembira. Meskipun Warung YS Sido Semi sudah lama tutup, menu-menu khasnya masih bisa dijumpai sampai sekarang.

Diperbarui tgl 9/15/2018

Buka setiap hari, kecuali hari senin (Ramadan tutup)
Pk. 10.00 - 17.00

Harga
Rp3.000 - Rp11.000

"Eee," mulai wanita berkacamata di depan saya dengan ragu-ragu, "ya ditutup karena masih banyak yang ... kita kan masih keluarga, delapan orang kan istilahnya kan, jadi masih punya delapan pikiran." Mbak Fitri, begitu sapaannya, cucu pasangan Mulyo Hartono dari anak keempatnya, sedang mencoba memberitahu saya dengan halus alasan Warung YS Sido Semi, ikon kuliner di Kota Gede Yogyakarta, berhenti beroperasi tidak lama setelah pendirinya meninggal dunia.

Banyak pelanggan yang menyayangkan hal tersebut. Tidak heran tentu. Warung yang terkenal mempertahankan kesan vintage-nya itu sudah berdiri sejak tahun 1955. Awalnya, Pak dan mBok Mul, sapaan akrab pendirinya, hanya berjualan es dan wedang. Pada akhir 1960-an, mereka menambahkan bakso ke dalam daftar menu. Sejak saat itu, dekade berganti dekade, hampir tidak ada yang berubah, dari tempat, menu, sampai perabot. Namun kemudian masalah yang coba disampaikan Mbak Fitri terjadi. Akhirnya, pada tahun 2013, Sido Semi berhenti beroperasi. "Ditutup secara permanen," kata Google.

Namun siang itu, saya sangka Sido Semi kembali beroperasi. "Ini Sido Semi yang baru kan ya, Mbak?" kata saya saat baru sampai. "Iya," jawab Mbak Fitri setelah menengadah ke atas sebentar. Di belakang SMA 4 Muhammadiyah Yogyakarta, di sudut lapangan Pendopo Kajengan, sebuah tenda biru ditopang rangka yang juga biru berdiri, mengatapi sebuah gerobak angkringan dengan tiga kursi panjang, serta gerobak es dan bakso. Tidak terlihat satu pun detail vintage yang menjadi ciri Sido Semi dulunya: langit-langit gedek, lincak, sederetan botol limun, dan daftar harga bernominal uang tempo dulu. Bila diperhatikan, bahkan tidak ada papan nama yang menandakan ini adalah Sido Semi. "Di sini nih nggak resmi Sido Semi yang baru," kata saya menyimpulkan. Mbak Fitri mengiyakan. "Takutnya masih pakai hak paten keluarga."

Hampir tidak ada yang tersisa dari Sido Semi yang dulu. Hampir, kecuali (untung saja!) makanan dan minuman khasnya: bakso, es buah, dan es kacang ijo. Setelah tutup di Sido Semi, Mbak Fitri yang menjadi penerus terakhir warung itu, diminta oleh pelanggannya untuk kembali berjualan bakso meski di tempat lain. Ia bersetuju. "Esnya mana!?" kata pelanggan. Ia lalu menjual es kembali. Begitulah akhirnya resep keluarga yang dulunya berakar di Jl. Canteng dihempas angin dan sekarang berakar di halaman sebuah pendopo.

Duduk di bangku angkringan yang mampu memuat sekitar delapan orang, saya mengunyah kerupuk usus gurih sambil menunggu pesanan. Ada berjenis makanan kecil di tata rapi di depan saya, misalnya keripik belut, bayam, emping, dan kuping gajah. Agak ke sudut, ada berbagai macam kemasan minuman dan cerek-cerek yang berdesir panas. Tidak berapa lama, satu mangkok bakso, es buah, dan es kacang ijo terhidang di depan saya. Berenang di kuah kaldu bening adalah lima buah bakso ukuran sedang, mie kuning, potongan ketupat, irisan tahu goreng dan daging sapi, taburan seledri dan bawang goreng, serta merahnya seiris tomat. Di sejuknya mangkuk kirmizi cocopandan berenang hitam cincau, jingga pepaya, kuning nanas dan belewah, putih kolangkaling dan dawet, juga bening bongkah es yang mulai mencair. Sementara itu, di mangkuk satunya lagi adalah bongkah es, bulir kacang ijo, dan ketan putih (bukan ketan hitam), satu ciri khas es kacang Sido Semi. Di bawah tenda biru siang itu, lidah saya merasakan empuk dan zesty-nya bola bakso, kenyalnya irisan gajih sapi, ditemani dengan segarnya es buah dan manisnya es kacang ijo.

Namun ada satu menu khas Sido Semi yang hilang. "Iya, Sarparella, itu kan kita ee belum ketemu sama sales-nya lagi, Mas." Salah satu anggota keluarga besarnya belum bersedia membagi alamat produksi minuman soda pertama di Indonesia itu. "Masih diusahakan," tambah Mbak Fitri penuh harapan.

Cara menuju ke sana:
0 KM Jl. Panembahan Senopati - Jl. Sultan Agung - Jl. Batikan - Jl. Perintis Kemerdekaan - Jl. Pramuka - Jl. Tegal Gendu - Jl. Mondorakan - Sebelum SMA 4 Muhammadiyah ada gang lurus Halaman Pendopo Kajengan

Fasilitas Umum dekat Sido Semi

Tempat Makan dekat Sido Semi

Tempat Menginap dekat Sido Semi

Tempat Wisata dekat Sido Semi

Catatan: semua jarak diukur over the air